Polisi (lantas) juga manusia…

Polisi…
Membicarakan sosok aparatur negara yang satu ini seakan tak ada habisnya. Salah satu alat kelengkapan negara yang diharapkan jadi penegak hukum dan undang-undang…yang di proyeksikan sebagai pengayom…pelindung warga negara.

Karena tugas dan kewajiban yang langsung bersinggungan dengan masyarakat…tak heran jika tentu banyak pro kontra tentang kinerja nya. Ada yang menilai cukup puas…biasa saja bahkan ada juga yang menstempel buruk. Malahan…baru-baru ini sedang ramai diperbincangkan tentang oknum polisi yg “bersahabat” dengan pelanggar dari mancanegara. You know lah… 😀

Celakanya…terlalu mengental paradigma buruk yang berkembang di masyarakat. Malahan…pernah saya dengar anekdot…Polisi jujur itu cuma 3…

Hoegeng Imam Santoso

Hoegeng Imam Santoso

Bapak Hoegeng

pol-tidur

Polisi tidur…

patung polisi

dan patung polisi.

Haduuuuuhhh… Saya berharap ini cuma kelakar belaka. Karena tentu harus ada parameter yang jelas mengenai raport sang penegak hukum ini.

Tapi baiklah…terlepas dari terpaan miring tentang polisi…saya punya pengalaman menarik berurusan dengan sang pemilik register 86 ini.

Sebenarnya ini pengalaman saya 3 tahun silam…tatkala saya menjemput istri beserta anak tercinta di Stasiun Kereta Api Senen. Waktu itu musim arus balik lebaran. Sejak menikah dan punya anak… untuk urusan mudik bin pulang kampong serta balik anak istri…saya mempercayakan kepada KAI. Alasan saya…lebih nyaman dibandingkan dengan bus AKAP…terlebih saya pernah punya pengalaman buruk dengan moda transportasi itu. Kadang dalam beberapa kesempatan saya ikut menemani. Tak jarang pula…saya terpaksa memelintir gas roda dua saya mengaspal pantura. Saya menyebutnya “mbiker”. Atau ikut mudik bersama…entah itu dari perusahaan anu atau sponsorship tertentu. Tak pernah sedikitpun terbersit di benak saya…mengajak anak istri mbiker. Menempuh jarak kurang lebih gopek (limaratus @betawi) an kilometer…terlalu berat resiko yg harus ditanggung. Membayangkan saja saya sudah ngeri…! Wah..lebay iki.. 😀

Eee…lha malah ngelantur… 😀

Okeee…

Bermula dari stasiun kereta api Senen…saya memboncengkan istri… dengan anak saya dipangkuan nya. Lengkap dengan tas bawaan di kantong semar motor. Wis…pokoke berasa mau mudik. :D.

mudikmotor

Kalau dilihat dari aspek safety…ya jelas ga safety babarblas.! Tapi itulah kenyataanya…saya hanya salah satu contoh dari potret (yg katanya) buram tentang wajah transportasi rakyat yg sebenarnya. Mungkin seperti kebanyakan…saya pun sebenarnya menginginkan transportasi yg nyaman, aman dan terjangkau alias murah. Tapi apa lacur…yg terpampang adalah sederetan berita horor yg menghiasi beberapa media. Ketika transportasi ideal tak kunjung nyata…maka saya mencari solusi riil. Ya…sepeda motor itulah jawaban atas semuanya. Jadi bagi pejuang tentang keselamatan…harap maklum.. 😀

Lanjuut…

Sampailah saya disatu traffic light aka lampu merah aka bangjo… Dengan penuh keyakinan saya membelokkan diri ke kiri…daann saya disambut beberapa polisi setelahnya. Damn! Perasaan saya berubah menjadi tidak enak..apakah saya melanggar rambu lalin. Ups! Tunggu dulu…Lokasi traffic light itu sudah sangat saya kenal sebelumnya…rambu yg mana? Ini razia atau jebakan betmen… 😀 saya melihat hanya ada 4 motor dan beberapa petugas. Perlahan saya menepikan motor saya…

“Selamat sore pak, boleh tunjuk kan surat surat?” kata petugas ramah dan sopan. Saya men-standar samping motor saya. Sudah menjadi kebiasaan…ketika berhadapan dengan razia, saya selalu turun dari motor. Sekedar penghormatan dan tata krama saja. Perlahan saya menyuruh istri agar turun dari boncengan…karena teringat dompet saya taruh di bagasi bawah jok. Ada sedikit suasan repot tercipta. Anak saya pun terbangun dari tidur…walhasil ini sedikit menambah “kerepotan” saya.

Tak lama saya pun menyodorkan SIM dan STNK kepada petugas. Sejenak mengamati motor saya beserta barang bawaan. “Habis mudik?” tanya petugas dan saya pun mengangguk mengiyakan. “Sudah tau salah bapak dimana?” Saya menggeleng tanda tak paham. “Bapak sudah melanggar rambu tak boleh belok kiri langsung”. Ooooohh…saya terdiam.

“Sebentar ya nak, ayah sedang ketemu teman lama” hibur saya ketika melihat gelagat anak mau menangis. Daaann…tidak saya sangka-sangka…sambil mengembalikan SIM dan STNK sang petugas mengusap kepala anak saya. “Anak bapak seperti anak saya yang sudah meninggal” kata petugas. Saya melihat ada sesuatu di kedalaman mata sang petugas… 😦

“Ya sudah..,silahkan bapak melanjutkan perjalanan”. Saya hanya melongo tak percaya…dan sambil  mengucap dua kalimat syahadat terima kasih… saya menjabat kosong tangan sang petugas. “Lain kali lihat betul-betul rambu-rambu” kata petugas menegaskan sebelum benar-benar berlalu.

Perlahan saya pun berlalu dari tempat kejadian…

Dalam perenungan..kadang saya berpikir…kok saya tidak ditilang? Saya kan melanggar rambu lalin, seperti yg didakwakan petugas tadi. Dalam versi saya…secara personal polisi tadi baik sekali…entahlah mungkin aspek sosiality..humanity lebih mengemuka berperan memutuskan. Ternyata masih ada insan baik berjiwa “manusia”. Terlebih di Jakarta yang “elo..elo gue..gue” seperti sudah jadi slogan. Nurani manusia sudah menjadi sedemikian tipis..terkikis oleh gempuran arus modernisasi. Tak percaya? Bukalah majalah dan koran koran metropolitan selebar-lebarnya…akan terpampang jelas…bagaimana hanya masalah rebutan lahan parkir…cucu cucu Adam saling bertumpahan darah.

Tapi secara institusional…polisi tadi jelas tidak baik. Ada pembiaran atas pelanggaran (dengan alasan apapun) yang harusnya diminimalisir.

Karena secara garis komando…hanya dua kata yang boleh terucap “SIAP KOMANDAN!”

Well…entahlah…saya tidak bisa menyimpulkan apa arti sebenarnya dari kejadian itu. Mari nikmati secangkir kopi dan “ngudud” 😀

Advertisements

6 responses to “Polisi (lantas) juga manusia…

  1. saya juga pernah waktu ada razia gak bawa surat2 n dompet plus gak bawa uang tentunya…melihat bebek saya plat luar provinsi dan saya bilang apa adanya kalo dompet beserta isinya ketinggalan di kantor..alhamd pak polisinya baik..saya gak ditilang..hehehe…mungkin termasuk rejeki yang tak disangka-sangka mas.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s