Antara Graffiti, Mural dan Vandalisme.

graffitiimg031120121038021

Pemandangan diatas sepertinya kini sudah menjadi hal yang biasa dan menggejala di daerah manapun. Lumrah dan jamak terjadi. Semrawut dan ga enak dipandang…begitulah kesan pertama yang timbul. Tak peduli itu di gang sempit, halte, tembok rumah dsb. Pendeknya nyaris di setiap sudut kota terpampang hasil dari perbuatan yang katanya mengatasnamakan kreatifitas ini.
Entah kenapa saya begitu antusias dengan news flash Pemda DKI yang akan memberi sanksi pelaku corat-coret sembarangan. Ga main main lho, dendanya ampe 20 jeti bro… 🙂 Langkah yang perlu kita apresiasi tentunya…dengan harapan pasti keindahan dan kerapihan kota akan tetap terjaga.

Agar tepat menyasar ke akar masalah…lebih afdol jika kita bisa membedakan mana yang bernuansa artistik mana yang serampangan asal jadi. Karena ada beberapa aliran atau pakem dari coretan dinding ini. Seperti yang saya ringkas dari laman Wikipedia…mari kita cekidot…

1. Graffiti.

graffiti 1graffiti 2

Adalah coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk, dan volume untuk menuliskan kata, simbol, atau kalimat tertentu. Alat yang digunakan pada masa kini biasanya cat semprot kaleng. Sebelum cat semprot tersedia, grafiti umumnya dibuat dengan sapuan cat menggunakan kuas atau kapur. Meskipun grafiti pada umumnya bersifat merusak dan menyebabkan tingginya biaya pemeliharaan kebersihan kota, namun grafiti tetap merupakan ekspresi seni yang harus dihargai. O,ya…jenis graffiti ini sarat makna lho. Bisa sebagai ekspresi ketidak puasan terhadap keadaan sosial atau ketakutan terhadap kondisi politik. Tentunya kita pernah denger kan bahkan sampe seorang Pong Harjatmo sampe naik gedung MPR cuma buat typo Jujur, Adil, Tegas!…dan ini jadi trending topik perberitaan nasional kita kala itu. Atau bisa juga sebagai simbol eksistensi kelompok tertentu. Nama alumni sekolah misalnya…atau loyalitas klub sepak bola.

2. Mural

mudagrafika for wordpress graffiti 4mudagrafika for wordpress graffiti 3

Adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya.

Berbeda dengan grafiti yang lebih menekankan hanya pada isi tulisan dan kebanyakan dibuat dengan cat semprot maka mural tidak demikian, mural lebih bebas dan dapat menggunakan media cat tembok atau cat kayu bahkan cat atau pewarna apapun juga seperti kapur tulis atau alat lain yang dapat menghasilkan gambar.

Nah…setelah kita memahami per kategori coretan dinding ini, lantas korelasi sama aturan Pemda bijimane? Apa pemda yang sok kurang kerjaan ngurusin beginian? Uups…tenang bro.! Tentunya Pemda juga ga sembarangan bikin peraturan jika tidak untuk kemaslahatan umat. Tentunya kita mendambakan lingkungan yang bersih, rapi dan asri kan? Selama memenuhi unsur keindahan dan kerapihan…tentunya hanya graffiti yang bersifat merusak pemandangan yang akan di cleaner. Graffiti yang asal jadi…asal coret alias vandalisme.

mudagrafika for wordpress graffiti 2mudagrafika for wordpress graffiti mudagrafika for wordpress graffiti 1 mudagrafika for wordpress graffiti 5

Vandalisme ini jelas…perbuatan corat coret seenak jidat, tanpa peduli tempat dan dan ini nyata bukan karya seni! Lebih tepatnya iseng…tapi bukan kurang kerjaan, hanya saya pikir eksistensi si pelaku ingin di akui saja. Wiis jiaaaan…rasanya gue pengin jejelin papan tulis buat si pelaku vandalisme ini. Esmosi gue bro…esmosih… :mrgreen: Apalagi jika posisinya di fasilitas umum…pasti akan dikikis mati. Soale disinyalir akan ada beban anggaran kas daerah guna membersihkan yang beginian. Maintenance fasilitas publik yang seharusnya bisa di minimalisir.

Lha…trus gimana dong dengan mereka-mereka yang terlanjur terkebiri kreatifitasnya oleh perda ini? Mosok mau mencorat coret di air kali?

Seharusnya akan lebih bijaksana jika Pemda dan jajaran nya memfasilitasi/menyediakan media…sebagai sarana atau ajang kreatifitas.

Penjabaran detail ngawurnya begini:
Sebagian besar pelaku corat coret ini masih duduk di bangku sekolah aka pelajar. Dalam hal apapun…tangan mereka masih sangat gatal seiring dengan pencarian jati diri. Jangan sampai tangan-tangan gatal ini dilampiaskan ke hal yang salah! Dalam hal ini pihak sekolah harus menyediakan sarana dan prasarana. Tembok pagar pembatas sekolah rasanya terlalu sayang jika dibiarkan polos. Kalau perlu bikin ekstra kurikuler graffiti. Keren kan?! Mau lebih keren lagi…buat sayembara graffiti atau mural antar sekolah berhadiah piala bergilir Gubernur. Wuiih manstaaap! Jadi makin kreatif kan?! Sedikit banyak dari ekses yang bisa ditimbulkan, siapa tau hal ini bisa mereduksi tawuran antar pelajar. 😀
Untuk lingkup yang lebih luas pun demikian. RT (rukun tetangga) sebagai kelompok sosial masyarakat paling kecil kiranya tetap mengakomodir tangan tangan kreatif ini…dengan lintas birokrasi RW Kelurahan Kecamatan dan Kotamadya. Bikin juga sayembara graffiti bertemakan edukasi untuk tingkat umum. Wis jiaaan koyo tenanan wae… 😀

Atau…waini nih. Ikut berpartisipasi dalam sayembara desain online! Sudah banyak kok yang ngadain. Baik lokal maupun mancanegara. Dan hadiahnya…lumayan buat nambah uang jajan bagi pelajar, atau buat beli beras 😀 Beberapa situs lokal yang secara reguler rutin menjaring karya-karya kreatif itu…

1. Gantibaju dot kom
2. Thinkcookcook
3. Kementrian Desain
4. Tees Indonesia

Atau bisa saja melipir ke situs kompetisi reguler edisi luar negeri semacam threadless atau design by human. Dalam beberapa kesempatan mereka ini berkolaborasi dengan berbagai vendor…sebagai sponsorship. Tentu hadiahnya tergantung dari vendor tsb. Misalnya mereka bekerjasama dengan perusahaan telekomunikasi…bisa saja berhadiah gadget, tablet…atau bahkan mungkin puyer atau sirup. 😀 Ya ga menutup kemungkinan… bisa saja mereka bekerja sama dengan toko bangunan, dan hadiahnya mungkin berupa…semen, pasir ataupun batu bata. 😀 Hal positif lain yang bisa didapat dari mengikuti event ini…so pasti kita bisa nambah teman. Atau bagi yang masih sorangan alias lajang bisa aja kecantol pasangan hati dari sebab kesamaan minat ini… 😛

So…orientasi kreatifitas itu memang tanpa batas. Hanya saya kreatifitas itu dibatasi sama aturan. Dan seorang kreator yg notabene pekerja seni sangat paham kaidah kaidah…baik yang tertulis maupun yang ga tertulis. Yang ga tertulis itu misalnya ya jangan plagiat. Tahu kan maksudnya? Menjiplak karya seseorang dan di akui sebagai karya sendiri. Wah…Jangan sampai bro.! Jelek bagusnya kalau itu karya kita…asli bikin adem. Ya gak?! Dan sekarang pilihan ada ditangan kita sendiri. Tetep masih corat coret sembarangan dengan resiko denda…atawa corat coret di kompetisi design online berhadiah. Pokoknya jangan ngaku kreatif jika masih sok-sok an coret coret ra nggenah. 

Sembari leyeh-leyeh bareng video bonus ini…mari nikmati secangkir kopi dan “ngudud” 😀

Advertisements

6 responses to “Antara Graffiti, Mural dan Vandalisme.

  1. kalau gambar atau tulisan di bangunan/rumah warga yang isinya iklan provider telepon seluler termasuk apa Bro? menurut saya sih bagus Bro, buatnya kan ga sembarangan. daripada rumahnya dibiarkan tidak dicat…

    :mrgeen:

    • Perda ini menyasar FASILITAS PUBLIK agar jangan sampai “ternoda”.misalnya Jembatan, Halte, angkot, kereta api dsb… Nah, kalo spt kasus diatas ya mungkin kesepakatan sang pemilik rumah sama provider ybs….dan sepertinya (mungkin lho ya) tidak termasuk dalam sasaran t5embak perda ini. #CMIW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s