Oplosan, Bukak Sithik Joss dan Remote Control.

Gue termasuk satu dari sekian juta penduduk negeri ini yang suka musik. Pecinta dan penikmat musik. Menonton konser itu salah satu kegemaran gue. Dari konser rebana tingkat RT ampe Linkin Park yang dulu pernah tampil di Ancol. Dan ajaibnya…apapun jenis konser musik nya entah dangdut ataupun campursari, gue selalu tak ketinggalan mengibarkan bendera Slank kupu kupu. Begitulah…bahkan saking cinta nya gue pada musik, gue pernah beli gitar di pasar loak dan gue mainin dimanapun gue berada. Dulu…di kamar kost, gue pelajarin chord tutorial gitar yang ternyata bikin jari-jari gue yang lentik menjadi keriting. Tapi…alhamdulillah nya gue dibekali dengan percaya diri tinggi, sampai Ibu kost melempar sendal pun gue tetap tak begeming.

Saking pede nya gue pernah mengamen di bus tingkat Blok M-Kota, dan ternyata gagal. *Bagi yang (pernah) di Jakarta dan sempat menikmati bus tingkat jurusan keramat ini berarti kita seumuran bray…* Kantong plastik bekas permen sebagai media transfer harta lebih banyak kosongnya. Kalaupun sempat terisi, mungkin karena iba liat tampng gue daripada alunan suara dan permainan gitar gue. Padahal gue sudah bersusah payah menirukan gaya Kirk Hammets ataupun Slash. Celakanya sampai sekarangpun gue termasuk gagal menguasai permainan gitar.

********************************************

Lantas apa hubungan mukadimah diatas dengan oplosan? Gue lg berbicara tentang musik. Dan jika sudah ngomongin musik, tentu bersangkut paut dengan lagu dan liriknya. Dicampur dengan alat musik bernada tentu merupakan sebuah kesatuan yang harmonis. Jika ente mengira oplosan yang gue maksud adalah sebuah mixing dari air tape, lem aibon, beras kencur, STMJ dan baygon…anda salah. Bukan itu. Gue ga berpengalaman tentang oplosan yang itu. Seingat gue, hanya oplosan Premium ama Pertamax yang udah gue praktekin. Itupun bukan gue yang nenggak, melainkan motor gue.

Gue nulis artikel ini awalnya karena sakit hati. Betapa tidak, seorang kawan nyerocos “Eh,bro…lo minum oplosan apa?” Jawab gue, “Eh, kampreet, gue ngopi tauk!” Tuduhan kawan gue itu termasuk keji dan biadab. Untuk hal yg satu ini, gue patut berbangga. Seorang kawan mendadak langsung mengajak gue pulang, padahal baru nyampe tempat karaoke. Kawan gue malu dan terhina soalnya gue bawa bajigur.
Nah, Oplosan disini adalah sebuah judul lagu. Semacam lagu kebangsaan, begitu istilah gue, di sebuah acara TV swasta Nasional. Lagu yang amat fenomenal sampai artikel ini naik publish di awal Februari 2014. Bahkan iseng iseng menjelang subuh gue mampir ke youtube, lagu ini masih menjadi pencarian terpopuler oleh warga Republik ini. Gue juga heran, jam segitu youtube masih buka.

******************************************

Opo ora eman duite
gawe tuku banyu setan
opo ora mikir yen mendem
iku biso ngrusak pikiran
ojo diteruske mendemme
mergo ora ono untunge
yo cepet lerenono mendemu
ben dowo umurmu

Ugo sawangen kae kanca kancamu
akeh sing podo gelempangan
ugo akeh sing kelesetan ditumpakke ambulan
yo wes cukupno anggonmu mendem
yo wes cukup anggonmu gendeng
yo mari mari o yo leren leren no
ojo diterus terusno

Tutupen botolmu tutupen oplosanmu
emanen nyowomu ojo mbok terus teruske
mergane ora ono gunane

Tutupen botolmu tutupen oplosanmu
emanen nyowomu ojo mbok terus teruske
mergane ora ono gunane

Ingkang coro Indonesianipun kirang langkung mekaten:

Tidakkah kau sayang uangmu
untuk beli air setan
pernahkah kau fikir minuman
bisa merusak fikiran
jangan kau teruskan mabukmu
karna tidak ada untungnya
cepatlah bertaubat dirimu
agar panjang umurmu

Coba lihatlah mereka kawan kawanmu
ada yang bergelimpangan
ada juga yang tidak sadar
dinaikkan ambulan
sudah cukup mabuk mabukkan
sudah cukup gila gilaan
sudah cukup sudah sampai sini saja
jangan diterus teruskan..

Tutup lah botolmu tutup lah oplosanmu
sayangi nyawamu jangan kau terus teruskan
karena tidak ada gunanya

Tutup lah botolmu tutup lah oplosanmu
sayangi nyawamu jangan kau terus teruskan
karena tidak ada gunanya

***********************************

Begitulah lirik lagu oplosan yang gue maksud. Menurut gue, maksud dan tujuan lagu itu jelas. Baik. Bermanfaat. Banget. Mungkin pencipta lagu ini cukup prihatin dgn banyaknya orang yang putus nyawa gegara oplosan. Dan ini patut kita apresiasi. Mirisnya pelaku dan korban oplosan ini rata-rata para pemuda. You know lah… Pemuda itu sumber pengharapan. Harapan bangsa. Harapan pemudi. Akan bagaimana wajah negeri ini seperempat atau setengah abad kemudian, mental pemuda sekaranglah jawabannya. Jika pemuda sekarang sudah menjadi pemuja oplosan, bukan tidak mungkin bangsa ini kelak akan limbung. Teler. Kolaps. Dan Republik ini perlahan mati. Lirik tentang sebuah ajakan pertobatan nasuha keluar dari jeratan oplosan.

Putus nyawa? Iya…menurut sebuah sumber yang diragukan kebenarannya, oplosan ini kadar alkoholnya diambang batas permabokan. Minuman keras. Katanya Wine atau Martell aja kalah. Lebih keras dari yang seharusnya. Secara oplosan ini percampuran bahan-bahan ga jelas. Dari yang pernah gue baca…sebotol arak tradisional biasa dicampur minuman bersoda, metanol, bahkan obat nyamuk. Buat gue ini horor. Ajang adu nyali. Kenapa ga campur paku atau solar sekalian? Oplosan ini hasil kreatifitas dari mereka yang kepengin mabok tapi bokek. Ati karep bondho cupet. Jadilah oplosan.

**************************************

Sebuah email sukses mendarat ke meja redaksi mudagrafika. Ga istimewa. Biasa aja. Sebuah petisi. Gue sering banget dapet imel beginian. Petisi pengumpulan tandatangan sebagai bentuk dukungan yang intinya stop penayangan YKS. Sebuah acara tv swasta nasional yang mendadak populer. Dan gue rasa, bukan cuma gue aja yang dapet. Sebenarnya sederhana. Gue cuma tanda tangan doang. Simpel. Apa susahnya? Tapi beginilah gue. Kadang ruwet bahkan untuk sebuah tanda tangan. Masalahnya bukan di tandatanganya tapi sebab dan alasan dibalik tandatangan. Menjadi tidak sederhana jika gue musti memaksakan diri menyelami hal-hal apa saja yang menjadi keluhan dari sang pengirim petisi. Baah! Itu artinya jadwal kegiatan gue bertambah. Baiklah, pada akhirnya gue musti menonton acara YKS. Lengkap. Empat sehat lima sempurna. Celakanya gue musti merayu istri untuk menyediakan cemilan singkong goreng. Yang berarti mengurangi anggaran belanja rumah tangga.

****************************************

Sejujurnya gue ga gitu suka acara yang bersifat hura-hura apalagi huru-hara. Apapun kemasannya. Buat gue, menonton acara yang ga gue suka adalah sebuah penyiksaan. Kejam. Sama kejamnya dengan gue yang tetiba mengajak anak nonton wayang kulit. Sangat boleh jadi acara yang sesungguhnya cuma setengah jam tapi buat gue bisa seakan jadi sejam setengah.

Sebuah aba-aba. Komando. Serentak para audience mengikuti gerakan sang dirigent. Bukak sithik joss. Entahlah, gue ga tau persis apa namanya. Tarian apa goyangan. Absurd. Tanpa mengecilkan kreatifitas penciptanya, ini goyangan menurut gue biasa aja. Ga sitimewa. Apa bedanya dengan harlem shake atau gangnam style. Sama. Cuma soal goyangan tak membuat gue kaget kejengkang. Gue (kita) bahkan udah biasa disuguhi goyang yang lebih menegangkan dari itu. Goyang patah patah lah, goyang ngebor lah, goyang ngecor lah, goyang gergaji lah. Pendeknya semua goyangan ala toko bangunan habis diborong.

Tetapi…memadukan lirik lagu oplosan dengan goyang ala Soimah, menurut gue adalah sebuah ketragisan. Keliru patrep. Salah kemasan. Salah momentum. Bayangin jika lagu Imagine nya The Beatles dikemas dengan goyangan ala gangnam style. Atau harlem shake beriring dengan lagu Pahala dan dosa. Apa kata bang Oma. Sungguh terlaluh. Pun demikian dengan oplosan. Lirik lagu ini sarat dengan ajakan perbaikan diri. Seruan baik pun kadang awalnya harus dimulai dari tempat dan waktu yang pas. Biar gathuk. Harmonis. Istilah keren nya chemistry nya dapet.

Agaknya yang menjadi keluhan sang pembuat petisi…adalah goyang Soimah yang cenderung vulgar. Ini kontraproduktif dengan makna lagu. Nah dalam point goyang soimah inilah yang menarik. Debatable. Pro dan kontra. Pada akhirnya memang bermula dari sudut pandang individu masing masing dan setiap pendapat itu sah sah aja dan dibenarkan oleh iklim demokrasi. Yang pro akan selalu mencari pembenaran. Ah, otak elo aja yang ngeres. Wajarlah, namanya juga hiburan. Kalo elo ga suka, ya pindah channel lah. Pun demikian dengan yang kontra. Akan ada asumsi dan penyangkalan. Acara sampah. Acara ga mendidik. Merusak generasi muda. Acara cuma joget. Dan sebagainya dan sebagainya.

Belom lama ini tetangga gue, sebut saja namanya engkong Jaing mengadakan pesta pernikahan anaknya. Demi sebuah kata meriah, tak lupa menyewa hiburan organ tunggal. Lengkap dengan biduan. Dan kayaknya kita musti sepakat bahwa goyangan ala biduan organ tunggal itu lebih dahsyat. Koplo. Menegangkan. Apapun lagunya. Para pasukan joget pasti tau. Dan semua bebas menonton. Ga ada batasan umur. Tua, muda bahkan anak-anak! Gratis.

Efeknya? Jika kita mau sejenak meluangkan waktu berfikir, bisa jadi akan dramatis.

Simak berita berikut:

BANDARLAMPUNG, KOMPAS.com — Gara-gara maraknya tayangan goyang Caesar di televisi, sejumlah siswa sekolah dasar di Bandarlampung mempraktikkan goyangan itu sambil membuka ritsleting di depan kelas.

Ipah (31), bukan nama sebenarnya, salah satu orangtua siswi SD Negeri, di Kemiling, Bandarlampung, Minggu (27/10/2013), mengaku kaget ketika anaknya bercerita tentang perilaku teman lelaki sebaya anaknya berjoget goyangan itu sambil membuka ritsleting celana.

“Anak saya juga bercerita teman-teman perempuannya menjerit sambil menutup mata ketika teman-teman lelakinya mempraktikkan goyangan yang sedang marak di televisi,” ujar dia.

Ipah juga mengaku kebingungan menjawab pertanyaan anak perempuannya yang masih berusia delapan tahun. “Dia bertanya, ibu, ibu, teman saya buka ritsleting pas bilang ‘buka titik jos’,” kata Ipah mengulang pertanyaan polos anaknya itu.

Namun, dia tidak kekurangan akal menjelaskan makna kalimat tersebut. “Maksudnya, kalimat itu, buka celana untuk disuntik sama dokter,” tutur dia, mengulangi menjawab tertanyaan anak.

Setelah kejadian itu, Ipah dan sejumlah orangtua murid kerap memberi kontrol yang ketat kepada anak-anaknya saat mengikuti aktivitas belajar mengajar di sekolah.

Nuraini (39), orangtua siswa salah satu sekolah dasar negeri di Bandarlampung, mengaku takut dengan tayangan hiburan yang menjurus ke arah negatif. Tayangan tersebut dapat mengubah perilaku anak.

“Saya jadi tidak berani meninggalkan anak saat belajar, khawatir dia akan mempraktikkan dengan teman lawan jenisnya,” kata dia.

Nuraini berharap, pemerintah membatasi tayangan-tayangan yang dapat merusak perilaku anak. “Kami sebagai orangtua sudah betul-betul memperingati anak supaya tidak terjerumus, tapi bagaimanapun juga pengawasan kami sangat terbatas, tayangan yang tidak bertanggung jawab itu jauh lebih gencar daripada pengawasan kami sebagai orangtua,” ujarnya.

Penulis: Kontributor Lampung, Eni Muslihah
Editor: Bambang Priyo Jatmiko

************************************

Graphic1

Bagi yang aware dengan akan bagaimana mental anak anak muda mendatang, ini sebuah kemunduran moralitas. Seharusnya ini sebuah tragedi bagi penerus generasi. Lambat tapi pasti generasi kan berganti dengan generasi minim etika. Penyanjung hura-hura. Tapi tanpa kita sadari kita sudah kadung terbiasa dengan pembiaran. Pembiaran demi pembiaran. Kita terlupa bahwa pembiaran yang satu akan menimbulkan pembiaran yang berikutnya. Begitu seterusnya. Hingga pada akhirnya sistem tak sanggup lagi menahan serbuan budaya modern hasil inovasi. Sistem tetaplah sistem tanpa implementasi pelaksanaan yang semestinya. Tepatnya pembiaran oleh yang seharusnya dimana filter itu berada. Production house. Penyelenggara siaran. Komisi penyiaran.

Hakikat acara televisi, menurut gue harus mencakup konsep edukatif, informatif, dan entertaint (hiburan). Sebuah tayangan bisa dikatakan sempurna (lagi-lagi menurut gue) jika itu acara sangat mendidik, menambah wawasan dan menghibur. Sebuah acara televisi jika terus berlanjut itu karena ada permintaan selera pasar. Pemirsa. Tepatnya laku. Rating. Acara apapun bentuknya jika rating tinggi tetap akan mengudara. Betapapun itu acara banyak yang protes. Dan bisa dipastikan antrian untuk mengisi slot iklan akan mengular. Dan ini bisnis. Dalam dunia entertainment, celah sekecil apapun tetap menggiurkan.

Kontrol ekstra ketat orangtua terhadap anak akan melahirkan generasi kaku. Statis. Pengekangan terhadap anak juga berdampak dengan psikologi pembangkangan anak. Dilematis. Dan bagaimanapun ketatnya pengawasan orangtua terhadap anak, akan menjadi kurang berarti jika terus menerus digempur dengan hal hal yang kontraproduktif. Lingkungan sosial yang cuek yang berprinsip elo elo gue gue. Serta akses internet tanpa batas minim pengawasan.

*************************************

watching-tv

Lha, njur kiro-kiro solusine piye jal? Banting tv? Lempar remote? Bukan. Kalo menurut gue sih:

1. Teladan.

Maksud gue…
Anak itu peniru ulung. Copy paste. Dia meniru apa yang dilihat. Mengucap apa yang didengar. Taraf edukasi paling awal adalah keluarga. Ayah ibu adalah rekaman nyata. Anak akan memplagiat kebiasaan orangtua. Dari cara berkomunikasi, pembawaan bahkan cara bersiul. Menyuruh anak ngaji padahal orangtua (maaf) sholat aja kaga pernah, akan dilakukan setengah hati. Melarang anak tentang tayangan yg ditonton padahal orang tua juga menonton adalah sia sia. Pada point ini orang tua wajib konsisten. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

2. Bimbingan.

Bu, kenapa sih kalo mau pergi musti salim dulu?

Ayah, kenapa sih kalo naik motor musti pake helm ?

Kok ga boleh nonton acara itu sih?

Menurut gue, anak cerewet itu bagus. Kenapa? Rasa ingin tahu nya besar. Tinggal kita sebagai orangtua mengarahkan dan membimbing. Pakai sabar tentunya. Kadang beberapa pertanyaan anak datang dan bentuknya tak terduga. Ini butuh ketelatenan dan kedewasaan berfikir. Jawaban orangtua yang kurang mengenak kan hati anak, ketus dan singkat akan membuat anak akan enggan bertanya lebih lanjut. Kreatifitas terkebiri. Alhasil anak akan mencari jawaban sendiri. Iya kalo jawaban nya dari orang yang tepat, kalo kaga? Ciloko tenan.

3. Reward

Penghargaan. Ayah akan beliin tas baru asal kamu masuk rangking 3 besar. Ibu akan beliin sepatu baru asal bangun tidur jangan lupa rapiin tempat tidur. Atau sehari kamu ga nonton acara tv yang itu, uang saku mu akan ibu tambah. Bagus. Itu artinya anak akan berusaha dan terpacu demi mendapatkan apa yang diinginkan. Sebenarnya dalam point ini, reward alias penghargaan itu banyak ragamnya. Bisa dengan sebuah pelukan. Atau ciuman. Atau ucapan. Kecil kelihatanya tapi besar faedahnya. Coba aja.

**********************************

Hampir tengah malam. Sekilas di layar tv. Seharusnya gue bahagia melihat wajah-wajah riang itu. Wajah-wajah tanpa duka. Minim nestapa. Wajah wajah yang seolah olah besok pagi tak perlu pusing dan repot menyiapkan sarapan buat suami dan anak. Wajah-wajah yang seolah olah besok adalah cuti kerja. Wajah-wajah yang seolah olah besok adalah guru-guru berhalangan hadir di kelas. Seharusnya gue senang. Karena itu berarti ada peningkatan dalam kadar kebahagiaan gue. Senang liat orang lain senang dan susah liat orang lain susah. Seharusnya. Tapi naluri gue tidak demikian. Entahlah.

**********************************

remote

Pada akhirnya…memang tak semudah memindah channel remote control.

Salam perubahan.

Advertisements

2 responses to “Oplosan, Bukak Sithik Joss dan Remote Control.

  1. You post interesting articles here. Your website deserves
    much more traffic. It can go viral if you give it initial boost, i know very useful service
    that can help you, simply type in google: svetsern traffic tips

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s