Supporter Bola…Fanatisme dan Etika.

0000132852

Sepakbola. Lebih diingat dengan bola. Siapa orang di negeri ini yang tidak kenal sepakbola.? Mungkin segelintir. Ini negeri dimana sepakbola adalah olahraga penuh gairah. Melahirkan energi. Membius siapa saja. Belum begitu lama rasanya moment dimana banyak ibu-ibu yang mendadak mengidolakan Christian Gonzales, ataupun cewe-cewe yang tiba-tiba histeris menggilai Irfan Bachdim. Dan era itu berlalu, sekarang berganti dengan hingar bingar fenomenalnya Evan Dimas dkk dengan Timnas U-19 nya.

Meski sepakbola nasional kita minim prestasi, namun eksistensinya tak bisa disangkal dan tetap menduduki peringkat teratas olahraga terpopuler diantara cabang olahraga yang beberapa sempat mencuatkan nama Indonesia. Fakta bercampur ironi. Antusiasme penonton tetap tinggi menjurus fanatisme. Ditambah dengan serbuan tayangan bola gratis liga liga Eropa memunculkan abang-abang, bapak-bapak yang mendadak saja seperti begitu kenal Manchester United, Chelsea, Barcelona, Bayern Muenchen ataupun Real Madrid. Atau remaja bahkan anak anak yang begitu pandai mengkritisi pemain A ataupun bahkan mengomentari sang komentator. Pendeknya sepakbola itu seperti magnet. Dari sinilah muncul istilah supporter karbitan. Supporter pemula. Supporter penggembira penuh hura-hura tanpa memahami apa arti sebenarnya supporter.

****************************

Jatidiri, 15 Februari 2014 21:00 wib.

Perhatian…kepada seluruh penonton semua, dimohon untuk tertib dan tidak menyalakan flare, kembang api atau petasan. Tolong dimengerti, dan jika penonton tidak mengindahkan larangan di stadion, tidak tertib, dengan sangat terpaksa pertandingan tidak bisa dilanjutkan.

********************************************************

supporter 1 supporter 2 flares-di-stadion-jatidiri-semarang red flare

Antara miris, trenyuh, kecewa dan emosi. Gue bingung dengan jenis supporter model begini. Jiaaan rasane pengin mbalang watu. Belakangan memang menyalakan kembang api dan semacamnya udah kaga boleh. Ini baru game level eksebisi lho. Lokal. Persahabatan. Apa jadinya bila yang digelar pertandingan antar negara. Timnas. Sungguh memalukan.

Gue bersyukur dianugerahi kegemaran akan sepakbola. Masa kecil gue yang indah di pedalaman adalah saat bola bisa dimainkan dimana saja. Tepi sungai, tengah sawah atau pekarangan rumah. Waktu dan tempat bukan masalah berarti. Gue bersama teman kecil hanya bermodal bola yang kami rangkai sendiri dari plastik bekas. You know…tepatnya aneka macam plastik bekas yang kami kais dari tempat sampah. Walaupun sekarang hanya sebatas penonton, tapi tak menyurutkan minat akan sepakbola.

Keluar masuk stadion, mungkin gue termasuk pecandu. Gelora Bung Karno (dulu bernama Stadion Utama Senayan), Stadion Benteng, Stadion Lebak Bulus adalah stadion dimana gue dulu sering nonton. Pertama kali menginjak stadion GBK adalah saat Kurniawan bersama tim Sampdoria melawan Indonesia Selection. Gue lupa taon berapa. Masa-masa keemasan Primavera. So…bayangkan betapa tua bangka nya gue sekarang. You know. Itu dulu. Itu jaman dimana Atillio Lombardo dipuja bak dewa.

Gelora_Bung_Karno_Stadium

Jika supporter datang ke stadion, setau gue cuma mau nonton bola. Merasakan atmosfer bergemuruhnya ribuan supporter, memang sebuah sensasi tersendiri. Bagi pecinta bola sejati, ini seperti sebuah perjalanan spiritual. Menyaksikan hal hal unik seluruh penghuni lapangan adalah hal langka yang tidak bisa kita saksikan dalam tayangan tv. Kiper yang mondar mandir persis setrikaan. Atau pemain cadangan yang melakukan warming up saat jeda. Supporter itu niatnya ya nonton bola. Bukan tawuran. Bukan lempar-lemparan batu. Bukan merusak fasilitas stadion. Jadilah supporter yang santun dan beradab, tak peduli dari garis keras aliran apapun!

***************************************************************

Jadi, gimana sih supporter beradab dan beretika itu?

1. Beli tiket.

Ini hukumnya wajib. Dalam level klub, hasil penjualan tiket sedikit banyak mempengaruhi kelanjutan hidup klub yang kalian dukung. Harap dipahami, untuk mengelola operasional klub, tak jarang manajemen dibuat kalang kabut. Pernah denger ga, pemain yang telat digaji berbulan-bulan? Atau fasilitas stadion serba minim? Rumput lapangan kalo hujan persis kubangan kebo? Itulah gunanya hasil penjualan tiket. Jadi jika kalian bener-bener support ama klub dan ga ingin klub kalian bangkrut, beli tiketnya. Beli merchandise resmi. Jangan jebol tembok atau lompat pagar.

2. Respek terhadap tim tamu.

Ini wajib kedua. Tuan rumah yang baik adalah yang menghormati tamu. Sebagai supporter tuan rumah, ada etika-etika yang harus diperhatikan. Misalnya…ga boleh meneriak kan yel-yel, nyanyian yang mencela, mengintimidasi tim lawan. Bernyanyilah dengan mars kebanggan klub semampu oktaf kalian. Kalo perlu sampai keesokan hari suara kalian berubah serak. Bebas.
Dalam level Timnas yang main,(ini yang jadi keprihatinan gue) supporter wajib menghormati lagu kebangsaan negara tamu. Gimana caranya? Dengan berdiri DIAM. Sekali lagi DIAM. Bukan dengan tiup-tiup terompet seenak jidat. Satu lagi…kalian musti hafal lagu kebangsaan Indonesia Raya! Menggelikan melihat supporter langsung tiup terompet, padahal lagu kebangsaan masih menyisakan satu reff.!!!

3. No anarchy.

Ini wajib berikutnya. Jangan merusak fasilitas stadion. Apapun. Bangku, toilet dan sarana publik lain nya. Termasuk vandalisme. Jangan. Susah payah stadion dibangun dengan dana dan pikiran yang ga sedikit. Melibatkan lobi-lobi eksekutif otoritas wilayah. Jika dengan gampangnya fasilitas itu dirusak, wis jiaaaan kebangeten tenan. Ora mikir babarblas. Emang duit tinggal nimba di sumur gitu? So…nikmati fasilitas yang tersedia dan jagalah.

4. No rasism.

Maksudnya kepiye? Seperti yang kita tau, negeri ini terdiri dari berbagai macam suku yang bertebaran dari Sabang sampe Merauke. Jangan membawa suku atau ras tertentu ke ranah sepakbola, apapun motif dan bentuknya. Haram. Mengancam integritas. FIFA dengan tegas mengkampanyekan anti rasisme. Kick out racism. Bahkan denda FIFA menanti jika ada negara yang terbukti melakukan rasisme.

5. Tertib.

Mulai dari berangkat dari rumah atau camp, selama perjalanan, di dalam stadion sampai pulang. Ga usah bergerombol di jalan raya. Nunggu tumpangan. Bikin macet. Dan jangan lupa bawa uang! Ga usah banyak, asal cukup! Ini penting! Gunanya…buat bayar angkot, beli tiket, beli minum. Jangan ke stadion cuma modal dengkul doang! Supporter model begini hanya akan jadi beban masyarakat dan berpotensi…membajak truk atau angkot, menjebol pagar stadion, menjarah warung!

Gue pernah ketemu ama beberapa supporter bola. Tepatnya 3 anak tanggung berjersey klub. Di terminal Blok M. Clingak clinguk tanda kebingungan. Keberingasan gerombolan supporter kala lempar-lemparan batu, merusak fasilitas publik yang selama ini gue lihat di tv…mendadak pupus saat melihat wajah-wajah memelas ini. Ternyata mereka kesasar. Iba dan trenyuh hati gue. Gue tanya, “Pulang kemana?”
“Kalideres bang” jawab salah satu anak tadi.
“Oh, kalo gitu bareng aja ama abang” kata gue mengajak bareng karena satu jurusan. Ngobrol sepanjang perjalanan, mereka ini terpisah dari rombongan, dan gue dapati fakta bahwa mereka ini kaga bawa uang! “Kok bisa nyampe Stadion Lebak Bulus?” tanya gue terperanjat. Hampir aja biji mata gue lompat saking kagetnya. “Kami numpang truk loss bak, bang” Jiaaaan nekat tenan iki bocah. Ternyata mereka ini tidak sempat masuk stadion. Mereka tak berhasil menerobos ketatnya penjagaan petugas. Alhasil mereka hanya duduk-duduk diluar stadion. Gue bengong tanda gagal mikir.

****************************************************

25032010_85513_jakmania_300_225 13680573491893124964 10510_large supporter

Seharusnya sepakbola memang milik siapa saja. Tanpa batasan kasta dan status sosial. Seharusnya sepakbola bisa menjadi media mediasi antar kelompok warga yang hampir terkotak kotak oleh paham, aliran atau ideologi yang tak sepaham. Seharusnya sepakbola bisa dinikmati oleh semua kalangan masyarakat. Tanpa bayang-bayang kecemasan dan ketakutan. Semoga.

2 responses to “Supporter Bola…Fanatisme dan Etika.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s