Kejanggalan Dalam Proses Perpanjangan SIM.

Limabelas hari yang lalu, dikarenakan masa bakti SIM saya mendekati expired alias kadaluarsa, saya mendatangi gerai SIM yang ada di sebual Mall di bilangan Cengkareng. Dalam rangka perpanjangan masa berlaku SIM tentunya. Sekarang untuk layanan perpanjangan SIM atau STNK petugas melakukan sistem jemput bola. Membidik pemohon di beberapa kawasan dengan mobil keliling atau menyewa stand tetap. Memudahkan para pemohon layanan. Mantaap.

Seperti di Mall Taman Palem Cengkareng ini. Sengaja saya pilih tempat disana, selain tekape nya deket rumah, juga saya agak malas ke Satpas SIM Daan Mogot. Biasane antrine poll:mrgreen: Bikin mules dan wajah kusut. Antrian paanjang itu selain mengakibatkan kebosanan juga mengurangi sugesti kadar ketampanan.😀

mudagrafika for wordpress sim mudagrafika for wordpress sim1

Untuk mengantisipasi antrian yang mungkin mengular, sengaja saya berangkat agak awal. Jam setengah sembilan pagi saya sudah stand by di TKP. Pilihan saya tepat adanya. Belum banyak para pemohon layanan gerai ini, baik untuk perpanjangan SIM atau STNK. Segera saya menuju ke bagian pendaftaran. Setelah menyerahkaan berkas, saya menuju ruang tunggu yang sudah dipersiapkan. Menunggu siapa? Menunggu antrian.😀 Belum juga pa*tat secara sempurna mendarat di bangku, loudspeaker di pintu kanan gerai menyalak meyebut nama saya. Wah…rupanya saya langsung mendapat tiket wild card. Antrian pertama. Tanpa sungkan dan penuh percaya diri saya masuk. Makbledheng.😀

mudagrafika for wordpress sim4

Saya langsung dipersilakan duduk berhadapan dengan petugas terkait. Sebuah kamera setinggi gilingan es batu nongkrong dengan manis diatas meja petugas tepat beberapa inchi dari wajah saya. Mendadak saya gugup. Grogi. Selain karena saya memang agak sensitif jika berhadapan dengan kamera, juga karena petugas nya seorang perempuan. Saya memang sering salah tingkah jika menghadapi kaum hawa. Apalagi perempuan cantik. Wah…iso panas dalam. Meriang.😀

mudagrafika for wordpress sim3

Tak perlu berlama lama, petugas menyatakan beberapa hal sebagai verifikasi data. Kemudian saya disuruh tanda tangan plus cap jempol. Dan selanjutnya photo. Karena saya bermohon perpanjangan 2 SIM yakni SIM A dan SIM C, saya pun dua kali tanda tangan, dua kali cap jempol dan dua kali photo. Setelah sesi pemotretan selesai, sejenak petugas tadi beranjak ke bilik sebelahnya. Entahlah, saya juga kaga tau mau ngapain.😀

Dan…saat yang saya tunggu akhirnya tiba juga. Sekembali dari bilik sebelah, petugas menyodorkan SIM baru saya.
“Tiga ratus ribu, pak” kata petugas. Saya kecele…karena saya pikir “ah…paling banter juga nopek lah alias dua ratus  ribu aja” Ya…itu batas psikologis paling maksimal. Nominal segitu hasil riset berbulan bulan dan pantang menyerah tanya kolega kanan kiri. Sejenak saya melongo dan terkesima. Namun dengan cepat dan penuh kesadaran saya bisa mengatasi keadaan keterbengongan saya. Saya rogoh kantong celana saya. Tanpa menghitung ulang, langsung saya sodorkan ke tangan petugas. Ya…karena saya bawa uang segitu gitunya. Itupun asumsi saya lebih dari cukup.

Setelah menerima pembayaran, petugas langsung duduk kembali menghadap layar monitor. Kali ini dengan percaya diri yang tinggi, saya pun kembali duduk dengan manis. Ya…tinggal selangkah lagi kekikukan ini akan berlalu. Batin saya optimis.
“Sudah pak” seru petugas. “SIM bapak udah selesai, silahkan”.  Senyum manis dan rentangan sebelah tangan petugas seperti isyarat bahwa saya harus segera beranjak untuk digantikan pemohon berikutnya. Kembali saya bengong untuk kali kedua. Saya pikir, saya akan mendapatkan secarik kertas resi pembayaran perpanjangan SIM. Ternyata saya salah. Saya tak mendapatkan kertas apapun sebagai bukti pembayaran.

Naluri keingintahuan saya pun seperti mendapat tantangan. Seperti tau akan kegelisahan saya, “Untuk perpanjangan SIM, memang ga ada kuitansinya pak” tegas petugas ketika saya menayakan resi yang saya maksud. Untuk kali ketiga saya kembali melongo. “Oh, begitu ya?” Anggukan kepala petugas seperti mempertegas kalimat pertamanya.

Saya kemudian beranjak bangkit, menjabat tangan petugas dan berlalu.

Sepanjang langkah menuju parkiran, pikiran saya mengembara tak karuan. Ternyata estimasi biaya perpanjangan, melebihi ekspektasi saya. Dari informasi yang saya peroleh…

  • Untuk SIM A Rp 120 ribu, perpanjang Rp 80 ribu, SIM BI Rp 120 ribu dengan perpanjang Rp 80 ribu, SIM BII Rp 120 ribu dan perpanjangan Rp 80 ribu, SIM C Rp 100 ribu dengan perpanjangan Rp 75 ribu, SIM D Rp 50 ribu dengan perpanjangan Rp 30 ribu.

  • Adapun untuk SIM International Rp 250 ribu dan perpanjang Rp 225 ribu dan untuk uji keterampilan mengemudi melalui simulator dikenakan biaya Rp 50 ribu untuk yang baru dan perpanjang juga Rp 50 ribu.

Yah sebenarnya selisih…ceban noban…buat saya masih cengli lah.:mrgreen: Tapi kalo dirasa ada indikasi oknum yang bermain, kok kebangetan ya.:mrgreen: Dan juga, biasanya ketika saya menunaikan pembayaran berorientasi publik, entah itu bayar listrik, PAM, atau PBB, saya selalu mendapatkan kuitansi pembayaran resmi. Berstempel. Legalitasnya memang seperti itu. Ataukah bisa jadi karena ketidak tauan saya? Mungkin juga. Hanya saja, saya kok ngerasa ada yang aneh. Janggal. Pembayaran yang notabene uangnya masuk kas negara, kok ga ada struk bukti pembayaran.:mrgreen:

*********************************************************************

mudagrafika for wordpress sim2

Tapi saat menimang SIM baru ditangan, dan mengingat agak gampang juga dan ga pake ribet pengurusan perpanjangan….saya seperti dipaksa berdamai dengan ketidakmengertian. Entahlah. Mendadak saya malas mikir begituan. Ben wae lah.😀

Njur, kiro kiro…adakah diantara pembaca yang pernah mengalami kejadian serupa?

15 responses to “Kejanggalan Dalam Proses Perpanjangan SIM.

  1. daku mbiyen nalikane gawe SIM C yo ngono kok,.ora ono kwitansi utawane opolah…pokoke bayar bres bres..SIM dadi yo wis, perkoro arep mlebu kas negoro mbuh ora, ra tak pikirke,
    awalnya daku mau ikutan tes, tp ada tawaran mau cepet apa yg biasa, yo daku milih sing cepet tho..ra wurung nek sing biasa yo rung karuan diluluske, ujung2e yo ming duit meneh, ..
    jiyann….

  2. of course like your web site however you need to test the spelling on quite a few of your posts.
    A number of them are rife with spelling issues and I find it very bothersome to tell
    the reality nevertheless I will definitely come back
    again.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s