Tak Seharusnya Mereka Berada Disana…

Malam itu langit begitu sangat bersahabat. Tidak nampak awan gelap yang selama beberapa bulan ini begitu sering singgah seperti hendak  menggulung angkasa. Cerah. Namun seberkas mendung tiba-tiba datang menyergap, menusuk perasaan gue. Hati gue mendadak galau.
Jam 10 malam. Traffic Light Pesing Angke. Dari sinilah cerita bermula. Gue tertegun.

IMG-20140311-00719

Sekelompok, tepatnya tiga bocah belasan tahun dengan santai dan tanpa perasaan sedikitpun nongkrong di area lampu merah. Bukan di median jalan atau bahu jalan melainkan tepat dibadan jalan. WTF!!! Dari penampilanya bocah-bocah ini nampaknya bukan dari jenis (maaf) gelandangan. Pakaian mereka bersih, jauh dari kesan kumal. Mereka dengan santainya mengacuhkan ramainya lalu lintas. Asli ga habis pikir gue, bahkan segelandangan bagaimanapun, asal waras, kayaknya pasti mikir2, kalo nongkrong semacam itu. Padahal gue paham betul, jalur Tubagus Angke sarat dengan hilir mudiknya truk truk super jumbo, trailer pengangkut peti kemas. Mereka ga paham bahwa mereka bisa saja menjadi obyek kejahatan dan tindak kekerasan. Mereka juga ga menyadari, bahwa sewaktu-waktu maut bisa saja mengintai diam diam. Jiaaaan…ora mikir babarblas. :mrgreen:

Sejenak gue mengamati dari belakang zebra cross aktifitas ketiga bocah itu. Ga ada yang istimewa. Mereka cuma nongkrong, sambil sesekali tertawa lepas. Namun yang membuat gue bener-bener speechless…mereka ini semuanya perempuan dan merokok! Damn! Antara miris, sedih, trenyuh, prihatin, marah, kecewa campur baur mengaduk aduk perasaan gue. Tetiba gue galau. 😦

Jika ukuran nya anak gue yang jam segitu udah terlelap tidur, gue jelas prihatin dan sedih. Jam sembilan malam adalah limit waktu yang diberikan kanjeng mami kepada anak gue untuk menikmati malam. Tak sepenuhnya karena itupun masih diselingi dengan belajar. Jika mereka gelandangan, gue wajib trenyuh membayangkan mereka tak seberuntung anak gue. Jelas tuduhan gue ga berdasar, jika mengamati pakaian mereka yang bersih.

Namun…mendadak gue dihinggapi perasaan amarah mendekati murka. Jelas mereka terlahir ke muka bumi ini tidak dengan proses sulapan, bim salabim jadi. Ada orangtua sebagai prakarsa. Orangtua sebagai perantara Tuhan. Lantas kemana orangtua mereka? Sibuk kah? Tidak pedulikah? Orangtua memang harus sibuk, selama berjerih payah untuk keluarga. Orangtua wajib mempraktek kan idiom… kaki jadi kepala, kepala jadi kaki, jika orientasinya adalah berkesinambungan nya roda ekonomi keluarga. Tapi jika harus melupakan tanggung jawab akan bentuk perhatian dan kasih sayang kepada anak, sungguh merupakan orangtua yang lalim dan kejam. Bedebah! :mrgreen: Status orang tua hanya keterpaksaan belaka. Anak adalah titipan Tuhan untuk kelanjutan silsilah keluarga dan juga bagian dari sebuah generasi penerus. Jika orangtuanya saja sudah apatis terhadap anak sendiri, bagaimana orang lain? Kasihan, jika anak hanya akan menjadi beban masyarakat, dan berpotensi merecoki anak anak baik sebayanya. Iba, jika terpaksa kita menjumpai anak-anak yang terpinggirkan, terbiarkan terpojok di sudut-sudut kehidupan. Sulit membayangkan jika anak perempuan itu kelak juga akan melahirkan generasi sama kelamnya. Jiaaaan…tepok jidat tenan. :mrgreen:

Lha, trus masalah buat gue apaan? Toh mereka bukan bagian keluarga gue, ga ada sangkut paut pertalian darah ama gue? Memang, itu benar adanya. Bagaimanapun sikap dan perilaku mereka ga akan ngefek di kehidupan real gue. Tapi, gue yakin akan ada rentetan peristiwa berkelanjutan jika kita terus bersikap masa bodoh. Pembiaran kita sama seperti kita mengamini perilaku mereka.

Sebelum traffic light berganti warna hijau, setengah berteriak gue bilang,

“Hei, pulang! Nongkrong jangan disitu! Mau cari mati?!!!

Sengaja gue pake kalimat agak frontal, mengingat terus berkurangnya waktu delay traffic light. Pekik klakson bersahutan seperti menenggelamkan suara gue. Traffic light sudah nyala hijau. Sejenak mereka menoleh kearah gue. Entahlah, mereka paham apa kagak maksud gue, yang jelas gue sudah berusaha menjauhkan mereka dari bahaya. Berarti atau tidak itu urusan mereka. Dan gue pun perlahan berlalu dengan sedikit meninggalkan asa.

Pungkasan…pada akhirnya kita akan sampai di fase sebagai orangtua. Cepat atau lambat. Persiapkan diri sebaik-baiknya mengemban jabatan tanpa pelantikan itu. Tanpa bermaksud menggurui, mari kita lebih dalam membuka hati, melebarkan empati. Peduli di dalam setiap sendi kehidupan. Keluarga dan lingkungan. Belum terlambat jika kita mau memulai. Melawan ketidakpedulian. Melawan apatisme.

Salam perubahan.

Advertisements

4 responses to “Tak Seharusnya Mereka Berada Disana…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s