Pesisir Jakarta itu…Eksotis !

TWA Angke 30

Saya hampir tak percaya bahwa panorama diatas berlokasi di Jakarta. Pemandangan yang sepertinya hanya bisa saya saksikan lewat layar kaca yang banyak menghiasi film-film kolosal dari Negeri Tirai Bambu. Dari kejauhan tampak seperti kumpulan teratai yang mengapung lembut, jauh di belahan bumi dimana Dewi Kuan Im begitu sangat dipuja.

Aslinya secara tak sengaja, saya menemukan destinasi wisata menarik ini. Berawal dari sebuah brosur lusuh yang entah sebab kenapa, tercecer dijalan yang sengaja saya pungut sewaktu tambal ban motor saya. Dan untuk kali kedua, saya kembali dibuat makin tak percaya, bahwa tempat itu hanya selemparan batu dari rumah. Dekat. Sangat dekat. Mendadak saya tersinggung. Kenapa saya baru tahu sekarang? Kenapa? Jelas brosur itu telah mencabik-cabik harga diri saya. Ketidaktahuan saya jelas membangkitkan emosi pribadi. :mrgreen: Saya musti bergegas. Saya harus kesana, ke surga itu. Saya harus piknik. Harus.

====================================================

Jakarta esotis 12

 

Namun mendadak saya seperti kebingungan. Bagi saya yang karyawan swasta kelas pekerja, tanggal tua adalah masa-masa krusial. Pertaruhan kelangsungan hidup. šŸ˜€ Pertanyaan hati saya pun mengerucut…bagaimana mungkin dengan uang Goban (50 ribu) di dompet, saya bisa mengunjungi lokasi impian itu? Bukan perkara mudah. Terkebih di Jakarta, beberapa tempat rekreasi terkadang hanya sebatas angan-angan untuk dikunjungi. Tak terjangkau oleh kalangan berkantong setipis triplek macam saya. :mrgreen: ati karep bondho cupet. Kening saya pun tak urung berkerut, mata mendadak menyipit tanda berpikir keras. Gemrobyos keringat pun tak mampu menentramkan hati. Namun bayangan Dewi Kwan Im yang seperti melambai-lambai, jelas mengundang penasaran saya berlipat-lipat sekaligus menebalkan tekad. Mengalahkan keraguan saya tentang apa yang bisa dilakukan dengan uang goban? Dan sebuah challenge pun dimulai…

Jakarta esotis 1

Dan saya pun berangkat. Setelah sebelumya mengisi bahan bakar motor, hanya dibutuhkan waktu sekitaran 15 menit berkendara dari rumah, saya sudah merapat di tekape…setelah sebelumnya melewati kawasan elite. Pantai Indah Kapuk. Itu memang akses satu-satunya, dituju dari manapun. Lokasi wisata ini memang bersanding dengan komplek perumahan nan mewah itu.

Jakarta esotis 28

Akhirnya…welcome to paradise.Ā Bukan tanpa maksud jika saya pilih tempat parkir agak ke pojok. Sengaja saya menyandingkan motor saya dengan sebuah matic ber genre retro. (Kalo boleh menyebut merek) Yamaha Mio Fino. Jujur saja, sudah lama saya kesengsem berat dengan matic ini. Soal desain memang obyektif, namun buat saya Mio Fino ini telah membuat saya jatuh hati. Gurat serta lekuk body sungguh aduhai. Seksi dan padat berisi. šŸ˜€ Dengan hanya memandang warna striping yang dinamis, saya dibuat merasa muda kembali. Namun, saya terpaksa menelan ludah. Saya seperti tak mengukur diri jika masih ingin memiliki Yamaha Mio Fino. Yamaha Mio Fino itu hanya angan-angan, sebab dirumah sudah ada matic dari pabrikan yang sama. Yamaha Mio Soul. Matic yang secara resmi saya serahkan kepada assisten pribadi aka istri untuk operasional. Ke pasar membeli kebutuhan rumah tangga, atau mengantar anak les.

———————————————————–

TWA Angke 24 TWA Angke 10 TWA Angke 11 TWA Angke 15TWA Angke 36TWA Angke 20TWA Angke 33TWA Angke 35

Kini saya benar-benar menginjakkan kaki di surga itu. Taman Wisata Alam Muara Angke. Ini yang selama ini gue cari. Wisata alam. Syukurlah…himpitan hutan beton dan guyuran debu jalanan ibukota tak serta merta melunturkan naluri kecintaan saya dengan alam. Back to nature. Buat saya…setelah lemah tersungkur berjibaku dengan mouse, keyboard, monitor dan setumpuk pekerjaan dimeja kantor, ini tempat yang sanggup merefresh pikiran dan memaksimalkan kembali fungsi kerja otak. Buat sampeyan, mungkin saya terlalu lebay…tapi biarlah, lakum dinukum waliyadin. šŸ˜€

Menyusuri jalan berpanggung berlapis dahan kayu, dengan rimbunnya pohon dikanan kiri seperti mengulang romantisme masa lalu kecil saya. Anak pantai? Bukan! Saya bukan anak pantai. Adalah teramat indah, masa kecil saya dulu dikampung berseberangan dengan hutan jati. Betapa saya masih ingat…dulu hutan itu memang sebenar-benarnya hutan. Rimbun dan lebat, hingga sinar matahari pun susah payah menembus rapatnya dedaunan. Bukan gampang dulu saya kecil menyibak semak belukar setinggi pundak orang dewasa. Saat musim hujan datang, bermunculanlah sumber mata air dimana-mana. Sebagian membentuk telaga kecil, sebagian mengalir meniti jalan setapak. Airnya bening…menyejukkan dan membuat hilang dahaga.

Ya, benar…saya memang anak hutan. Namun saya bangga dan bahagia…sebahagia ditempat wisata alam ini sekarang. šŸ˜€ Sejauh mata memandang…hamparan pohon mangrove dengan deretan beberapa pondok diatas air. Meneduhkan pikiran. Makcess. Sesekali air beriak, pertanda binatang air sedang bercengkerama. Ikan-ikan sebesar betis kadang liar menggoda, menyeruak ke permukaan air. Dan saat itu saya beruntung…menyaksikan sepasang biawak sedang berduaan menebar kemesraan. šŸ˜€

===================================================

293609_242279175812378_3459132_n

Sebenarnya ini wisata alam apaan sih? Trus apa aja fasilitas dan wahana di dalamnya? Dari info yang saya peroleh di pusat informasi wisata…ini pusat pembudidayaan dan pelestarian mangrove berbasis ECOTOURISM. You know, mangrove kan? Pohon sakti menahan abrasi dan peredam alami gelombang laut. Tanpa pohon ini di pantai…cepat atau lambat kita akan menyaksikan garis pantai yang menggerus daratan makin kedalam. Dan bukan tidak mungkin, akibat pengikisan, suatu saat kemudian sebagian jalan raya di pesisir ibukota akan bersebelahan dengan pantai. :mrgreen:

Dan, bukan tanpa alasan, jika saya mengajak serta putri saya ke tempat wisata ini. Ada hal-hal yang tak bisa saya jelaskan secara teoritis. Harapan saya sederhana. Tentang bagaimana bersahabat dan mencintai alam. Saya berharap, kicauan burung, gemerisik dedaunan, serta riak-riak air yang dilihatnya akan mengedukasi secara alamiah. Tiba-tiba saya dibuat terhenyak, ketika putri saya menanyakan “Ayah, itu tumbuhan apa sih, kok seperti lidi?” Sungguh diluar dugaan saya. Saya hampir gelagapan dibuatnya. “Oh, itu bukan tumbuhan. Itu akar pohon mangrove.” jawab saya. “Lho, kok akarnya malah keatas?” pertanyaan putri saya makin deras. Untuk seukuran anak kelas 5 SD, pertanyaan itu amat brilian. Kembali saya dibuat kalang kabut. “Iya, itu seperti alat pernafasan. Fungsinya untuk mengambil oksigen” jawab saya sok pintar. šŸ˜€

Selain sebagai pusat pembibitan dan rehabilitasi mangrove, Taman Wisata Alam Angke ini menyediakan bermacam-macam wahana penunjang. Apa saja?

1. Outbond mini.

Menilik namanya, wahana ini cocok banget buat anak-anak, walaupun tidak menutup kemungkinan para dewasa dan tua bangka ikut menikmatinya. šŸ˜€

2. Wisata Air dengan perahu.

Sampeyan bisa berkeliling area wisata dengan meyewa perahu ataupun kano. Untuk perahu bermesin sampeyan akan dikenakan 150-200rb/6orang/perahu. Sedangkan yang hobi mendayung disediakan kano dengan tarif 50rb/45menit.

3. Kemah/ villa.

Tersedia berbagai macam jenis villa dan tarifnya. Saya tidak begitu paham pada point ini. Seingat saya, untuk sewa camping ground, dikenakan tarif 300rb/camping ground/2orang/malam. Ini tarif termurah. Sedang untuk pondok di atas air…kalo ga salah 450rb/malam/…kalo pake AC menjadi 600rb/pondok. Gimana? Lumayan kan?! :mrgreen: ! Bagaimana dengan villa? Tarif termurah 1,3jt…tergantung besar villa, jumlah kamar dan fasilitas.

4. Paket Pre Wedding

Tarif 1jt dengan maximum crew 7orang, dengan setting lokasi semua outdoor di taman wisata. Ada juga tarif untuk shooting video klip dengan 4jt/hari, atau bahkan syuting film atau sinetron dengan biaya 5jt/hari. TWA Angke 28 TWA Angke 26 TWA Angke 22 TWA Angke 4TWA Angke 38TWA Angke 39TWA Angke 37297921_242306072476355_7037903_nTWA AngkeTWA Angke 34

——————————————————————————-

Tentunya juga…tersedia fasilitas standart khas tempat wisata seperti masjid, mushola, toilet, kafe ataupun balai bersantai. Terkhusus Masjid, buat saya ini spektakuler dan menakjubkan. Betapa tidak?! Jarang-jarang ada masjid diatas air kan? Jika ingin bertafakur mendekatkan diri pada sang Khalik, melakukan perjalanan spiritual yang tak biasa, masjid di taman wisata ini layak dikunjungi. šŸ˜€ Jakarta esotis 11Jakarta esotis 55

Dengan tiket masuk seharga 10rb/orang, jelas sangatlah ekonomis dan bersahabat dengan kantong. Namun, beberapa tarif komersil untuk sewa villa, camping ground, pre wedding photo session dll agak sedikit kurang terjangkau. Relatif mahal untuk tempat wisata dengan tarif masuk hanya ceban. :mrgreen: Dan sepertinya, minimnya sosialisasi media, serta kurangnya publikasi menjadikan Taman Wisata Alam Angke ini sepi pengunjung, bahkan dihari libur sekalipun.

Jakarta esotis 2

 

O,ya…kalo sampeyan berniat mengunjungi taman wisata ini, jangan bawa kamera pocket atau bahkan DSLR ya…soalnya sampeyan bakal dikenakan tarif layaknya professional…1jeti bro. :mrgreen: Hal yang agak disayangkan memang. Kalo cuma foto-foto pengabadian moment, sampeyan pakai aja kamera handphone. Aman. Lagi pula kamera hape sekarang kan canggih, bukan lagi sekelas VGA to? Sepanjang pengamatan , rata-rata pengunjung adalah remaja belasan tahun yang mungkin saja sedang panas-panasnya terbakar api asmara. šŸ˜€ Mereka gampang di jumpai mojok di venue-venue, ujung jembatan, bahkan nemplok di menara pengamatan…dengan gadget ditangan dan tak lupa tertawaĀ cekakaan seakan hendak membelah langit. :mrgreen: Biarkan saja…itu dunia mereka. Siapkan saja mental sampeyan. šŸ˜€

TWA Angke 31 TWA Angke 9

Pungkasan…tak ada gading yang tak retak. Pun dengan Taman wisata alam ini. Perilaku pengunjung yang sembrono dengan meninggalkan sampah disana-sini, juga vandalisme masih saja ada, menimbulkan pilu. :mrgreen: Selain mungkin terbatasnya kontrol petugas, juga pengunjung yang ga memahami, betapa sederhananya sebenarnya bersahabat dengan alam. Menikmati…itulah hal sederhana yang saya maksud. Dan layaknya pecinta alam, jangan mengambil dan meninggalkan apapun di belantara alam…selain meninggalkan jejak.

========================================================

Melanjutkan perjalanan ke arah timur, sampailah saya di Balai Konservasi Alam Margasatwa. Masih termasuk wilayah administrasi Muara Angke. Namun kali ini saya kecele. Saat di pintu gerbang, saya clingak-clinguk. Tak satupun pengunjung sebagaimana lazimnya destinasi wisata. Sampai pada akhirnya saya ditegur seorang petugas yang kebetulan lewat dan menghampiri saya. Ooo…rupanya tidak setiap masyarakat umum diperbolehkan mengunjungi balai konservasi ini. Harus ada tujuan tertentu, misalnya keperluan studi, karya ilmiah atau bahkan penelitian satwa. Dan yang terpenting harus ada ijin secara tertulis dari Kantor Balai Sumber Daya Alam di SalembaĀ sana. Pendeknya, segala keperluan yang berkepentingan dengan balai konservasi, atau sedikit banyak bersinggungan dengan wahana ini harus melalui izin tertulis. Selektif. Wah, agak repot juga ya. Btw, ada baiknya juga sih. Soalnya balai ini menangani ekosistem dengan satwa-satwa yang terancam punah. Kehadiran pengunjung “biasa dan umum” dengan perangai yang macam-macam, dikhawatirkan bisa menggangu satwa. Saya pun berlalu dari tempat itu.

Jakarta esotis 6Jakarta esotis 25

=======================================================

Kembali saya melanjutkan perjalanan. Saya sempatkan singgah disebuah taman kota yang masih tampak baru. Waduk Pluit. Bila membandingkan kondisi waduk sebelum dan sesudah normalisasi, wow…sungguh amazing. Mengagumkan. Dulu waduk ini tak ubahnya seperti sarang jin buang anak. Angker. Kumuh…dengan bangunan liar di kanan kiri. Pendeknya tidak enak dilihat, tak sedap pula dipandang mata. Kini, waduk kembali ke fungsi dan khitahnya. Sebagai sebenar-benarnya waduk. Sebagai zona tangkapan air dan pengendali bahaya jika negara api menyerang. šŸ˜€

Sekarang tampilan waduk sungguh menggoda dan memanjakan mata. Asri. Hijau. Jiaaan menyejuk kan hati dan pikiran. Tempat ini bisa jadi referensi jika hati gundah dan pikiran resah gelisah. Terlebih buat sampeyan yang lagi galau dan meradang diputus pacar, tinggal nyemplung ke waduk habis perkara. šŸ˜€ Maksudnya…adem jadinya rasa hati. šŸ˜€

Jakarta esotis 51 Jakarta esotis 40 Jakarta esotis 41 Jakarta esotis 42 Jakarta esotis 43 Jakarta esotis 44 Jakarta esotis 45 Jakarta esotis 46 Jakarta esotis 47 Jakarta esotis 48 Jakarta esotis 49 Jakarta esotis 50

 

Layaknya sebuah kedamaian, anak-anak bermain riang sedangkan para orangtua duduk mengawasi sambil bercengkerama. Bersepeda, kejar-kejaran serta bermain layang-layang adalah pemandangan khas yang menyejuk kan hati.Ā Sekelompok anak muda memanfaatkan waktu dan menyalurkan hobi dengan bermain bola dan basket. Sedikit banyak keberadaan aneka penunjang kegiatan di waduk Pluit ini bisa mereduksi hal negatif di kalangan pemuda. Tawuran misalnya. Seenggaknya minat bisa tersalurkan dengan hal yang positif ditunjang dengan prasarana yang memadai. Karena seperti kita ketahui bersama, kegairahan serta spirit anak muda memang spontan dan cenderung eksplosif. Mungkin prasarana sementara yang perlu ditambahkan adalah Wall City. Apa itu? Tembok kota sebagai wahana kreatif bagi tangan-tangan yang gatal bercorat coret. Ini penting untuk mencegah vandalisme liar. Boleh di coba buat tuh, pak.Ā Jempol deh buat Pemda DKI. šŸ˜€

Semakin berkurangnya lahan terbuka hijau di Jakarta memang bukan isapan jempol belaka. Ini melahirkan perilaku sosial yang mengkhawatirkan di kalangan anak muda. Anak-anak kehilangan tempat bermain. Alhasil mereka akan turun ke jalan-jalan. Saya malah pernah menjumpai jalanan yang sengaja di blokade anak-anak hanya untuk bermain bola. :mrgreen: Selain sangat berbahaya juga merugikan beberapa kepentingan.

Agaknya Pemda DKI sangat serius dan concern akan fungsi dan manfaat normalisasi waduk Pluit. Yang nampak di sisi barat sekarang ini hanya percontohan, karena pembangunan nantinya menyeluruh di areal waduk yang membentang dari Pluit Timur sampai Pasar Ikan seluas kurang lebih 80 ha. Beberapa alat berat nampak masih stand by di lokasi. Tidak berlebihan jika sebuah harapan akan terwujudnya taman kota yang humanis, asri dan menyegarkan akan menjadi nyata.

Hanya saja, ada yang agak sedikit mengganjal pandangan mata saya siang itu. Beberapa pengunjung yang datang secara berkelompok kadang meninggalkan sampah berserakan. :mrgreen: dan ini yang membuat trenyuh. Saya jadi teringat penggalan pesan dari sang Walikota ketika meresmikan waduk ini. “Biarlah tidak usah dipagar. Saya yakin masyarakat cukup bisa sadar lingkungan. Kalau ada sampah berserakan, ya dipungut. Kalau tanaman layu, ya disiram.” Sebuah himbauan dan ajakan sarat pengharapan. Fasilitas ruang terbuka hijau sudah terpampang didepan mata. Gratis pulak! Sudah seharusnya kita para pengunjung berkewajiban menjaga dan merawat taman kota ini. Tapi, apa hendak dikata, ketika tangan-tangan jahil minim etika mulai menjamah, cepat atau lambat taman kota hanya akan menjadi sarang jin buang anak kembali. :mrgreen:

Njur…solusine piye?!

Pertama dan terutama adalah kontrol petugas. Ini mutlak. Sebab petugas lah yang memegang otoritas pengendalian kelangsungan hidup taman kota ini. Petugas punya legalitas. Petugas yang tegas dan disiplin tinggi, tentu akan membuat para calon “pembuat rusuh” akan ciut nyali. Umpama, petugas mendapati pengunjung yang buang sampah seenak jidat, maka sebagai denda nya adalah memungut sampah yang dibuang ditambah dengan memunguti sampah seantero waduk. Petugas yang tak suka berkompromi akan menimbulkan wibawa, ini yang melahirkan segan dimata pengunjung. Jika benar aturan semacam ini ditegakkan, wis jiaaan mantep tenan. šŸ˜€ bisa jadi petugas kebersihan akan banyak di mutasikan: D

Kedua adalah kesadaran diri. Sadar bahwa kebersihan adalah cermin dari perilaku. Sadar bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari gaya hidup modern. Kembali ke diri sendiri. Seruwet apapun masalahnya, selalu dimulai dari pertanyaan, “Darimana kita mulai memecahkan?” Tentu jawabannya…dimulai dari diri sendiri dulu. Yo ora son? šŸ˜€

Ketiga adalah kepekaan sosial. Saat berada di waduk Pluit ini, saya beranikan diri menegur pasangan muda yang membuang begitu saja botol air kemasan. Padahal tak jauh dari situ, nongkrong dengan manis tong sampah merah biru. Sekilas tindakan saya akan sia-sia dan terkesan saya cari masalah. Mbok, biarin aja to? Botol dia dia ini, ngapain repot?Ā Logikanya begitu. Tapi efeknya? Tak lama saya perhatikan keduanya tampak menggerutu dan perlahan beranjak pergi. Hmmm… šŸ˜€ Terkadang suka atau tidak, jujur saja sebagian dari kita ternyata memang belum siap untuk menjadi tertib dan disiplin. :mrgreen:

Jakarta esotis 36

=======================================================

Kembali saya melanjutkan perjalanan. Masih seputaran pesisir utara Jakarta. Sampailah saya di Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan tua yang tak bisa dilupakan begitu saja oleh perkembangan serba cepat Metropolitan ini. Pelabuhan bersejarah yang masih menampak kan kegiatan lalu lintas kapal. Hampir tak bisa di temui sisa-sisa kejayaan masa lalu. Satu guratan sejarah terpancar jelas dari Menara Syahbandar yang berdiri tegak menantang. Romantisme masa lalu yang tak bisa hilang oleh deru debu perjalanan sang waktu. Dan dengan rasa kebanggaan, saya pun menceritakan kepada puteri saya… tentang peran penting pelabuhan tua ini terhadap perkembangan Jakarta sekarang ini. Tentang Jakarta yang dulunya bernama persis dengan pelabuhan tua ini. Tentang bagaimana dulu Portugis dibuat luluh lantak oleh Fatahilah di pelabuhan ini di tahun 1527 tanggal 22 Juni. Tentang tanggal 22 Juni yang kemudian ditetapkan sebagai hari ulang tahun Jakarta.

Sejarah panjang Pelabuhan Sunda Kelapa terus mengalami perkembangan hingga sampai sekarang ini. Seperti saya sarikan dari laman Wikipedia…

Pada saat ini Pelabuhan Sunda Kelapa direncanakan menjadi kawasanĀ wisataĀ karena nilai sejarahnya yang tinggi. Saat ini Pelabuhan Sunda Kelapa adalah salah satuĀ pelabuhanĀ yang dikelola olehĀ PT Pelindo IIĀ yang tidak disertifikasiĀ International Ship and Port SecurityĀ karena sifat pelayanan jasanya hanya untuk kapal antar pulau.

Saat ini pelabuhan Sunda Kelapa memiliki luas daratan 760 hektare serta luas perairan kolam 16.470 hektare, terdiri atas dua pelabuhan utama dan pelabuhan Kalibaru. Pelabuhan utama memiliki panjang area 3.250 meter dan luas kolam lebih kurang 1.200 meter yang mampu menampung 70 perahu layar motor. Pelabuhan Kalibaru panjangnya 750 meter lebih dengan luas daratan 343.399 meter persegi, luas kolam 42.128,74 meter persegi, dan mampu menampung sekitar 65 kapal antar pulau dan memiliki lapangan penumpukan barang seluas 31.131 meter persegi.

Dari segi ekonomi, pelabuhan ini sangat strategis karena berdekatan dengan pusat-pusat perdagangan di Jakarta seperti Glodok, Pasar Pagi, Mangga Dua, dan lain-lainnya. Sebagai pelabuhan antar pulau Sunda Kelapa ramai dikunjungi kapal-kapal berukuran 175 BRT. Barang-barang yang diangkut di pelabuhan ini selain barang kelontong adalah sembako serta tekstil. Untuk pembangunan di luar pulau Jawa, dari Sunda Kelapa juga diangkut bahan bangunan seperti besi beton dan lain-lain. Pelabuhan ini juga merupakan tujuan pembongkaran bahan bangunan dari luar Jawa seperti kayu gergajian, rotan, kaoliang, kopra, dan lain sebagainya. Bongkar muat barang di pelabuhan ini masih menggunakan cara tradisional. Di pelabuhan ini juga tersedia fasilitas gudang penimbunan, baik gudang biasa maupun gudang api.

Dari segi sejarah, pelabuhan ini pun merupakan salah satu tujuan wisata bagi DKI. Tidak jauh dari pelabuhan ini terdapat Museum Bahari yang menampilkan dunia kemaritiman Indonesia masa silam serta peninggalan sejarah kolonial Belanda masa lalu.

Di sebelah selatan pelabuhan ini terdapat pula Galangan Kapal VOC dan gedung-gedung VOC yang telah direnovasi. Selain itu pelabuhan ini direncanakan akan menjalaniĀ reklamasiĀ pantai untuk pembangunan terminal multifungsiĀ Ancol TimurĀ sebesar 500 hektare.

Jakarta esotis 5Jakarta esotis 14

=======================================================

Berada di pelabuhan Sunda Kelapa tanpa mengunjungi beberapa bukti sejarahnya rasanya kurang lengkap. Museum Bahari namanya. Letaknya hanya beberapa meter dari menara Syahbandar pelabuhan tua Sunda Kelapa. Museum ini menyimpan berbagai memorabilia maritim nasional dari Sabang sampai Merauke secara lengkap.

Seperti saya kutip dari laman resmi nyaĀ Museum Bahari terletak di Jalan Pasar Ikan No. 1 Penjaringan, Jakarta UtaraĀ dan berada di kawasan Pelabuhan Sunda KelapaĀ yang banyak menyimpan situs bangunan bersejarah Ā seperti Tembok Kota (city wall), Kubu Pertahanan (bastion), Gudang (werehouse), Galangan Kapal (ship yard), Benteng Batavia (casteel batavia), Passar Ikan, Pasar Heksagon, Masjid Kramat Luar Batang dan lainnya yang saat ini merupakan salah satu dari 12 jalur destinasi wisata pesisir Walikota administrasi Jakarta utara.
Sejak tahun 1652 sampai 1759Ā secara bertahap bangunan iniĀ digunakanĀ sebagai gudang penyimpanan rempah-rempah dan hasil bumi, seperti kopi, teh, tembaga, timah, dan tekstilĀ oleh Kongsi Dagang Belanda (VOC). Beberapa gudangĀ tambahanĀ dibangun pada akhir abad ke-17 untuk menciptakan lebih banyak ruang.Ā TahunĀ yang berbeda pada batu di atas beberapa pintuĀ gedungĀ mungkin mengacu pada tahun ketika perbaikanatauĀ penambahan gudang dilakukan. Pada masa pendudukan Jepang, gedung-gedung ini dipakaiĀ jugaĀ sebagai tempat menyimpan barang logistik tentara Jepang. Setelah kemerdekaan Indonesia, bangunan itu digunakan sebagai gudang untuk PLN dan PTT.

AkhirnyaĀ kompleks bangunan yang yang disebut Gudang Barat (Westzijdsch Pakhueizen)Ā iniĀ diserahkan kepada Pemerintah Provinsi DKI JakartaĀ pada tahun 1976. GudangĀ Barat terdiri dari 4 unit bangunan, dan 3 unit diĀ antaranya difungsikankan sebagai Museum.Ā TahunĀ 1976Ā itu jugaĀ bangunan cagar budaya ini dipugar kembaliĀ dan dinyatakan sebagai kekayaan budaya.Ā Kemudian padaĀ tanggalĀ 7 JuliĀ 1977Ā bangunan inidiresmikan sebagai Museum BahariĀ yangĀ menampilkan perjalanan panjang sejarahĀ maritimĀ Indonesia

Berada di museum bahari ini seperti mengingatkan saya tentang sebuah lagu nasional yang dulu diajarkan Bapak guru SD saya.

Nenek moyangku orang pelaut

gemar mengarungi luas samudera

menerjang ombak tiada takut

menempuh badai sudah biasa

angin bertiup layar terkembang

ombak berdebur di tepi pantai

pemuda b’rani bangkit sekarang

ke laut kita beramai-ramai

 

Jakarta esotis 120 Jakarta esotis 7 Jakarta esotis 16 Jakarta esotis 17 Jakarta esotis 18 Jakarta esotis 19 Jakarta esotis 21 Jakarta esotis 22 Jakarta esotis 23Jakarta esotis 8

Hanya dengan melihat replika perahu Phinisi yang legendaris itu, saya seperti membayangkan wajah-wajah keras membaja memenuhi setiap penjuru kapal. Wajah-wajah penuh tempaan panas dan hujan. Setiap bentangan layar terkembang adalah pengejawantahan dari raut wajah yang ditopang semangat membara tak gentar menghadang badai. Hanya dengan memandangi jangkar tua kusam, seperti ada keteguhan akan sikap. Sikap pengabdian. Sikap pantang menyerah dari para pendahulu kita. Nenek moyang kita.

Namun, semoga saja nenek moyang kita tidak bermuram hati dan murung diri melihat semangat anak negeri sekarang ini. Kini…negeri maritim ini seperti sedang bersusah payah menegaskan kembali dirinya sebagai negeri para pejuang bahari. Negeri kepulauan terbesar yang hampir kehilangan eksistensinya sebagai penguasa lautan…dimana negeri ini masih mengimpor garam. Identitas bangsa pelaut yang perlahan pudar oleh kikisan gelombang waktu.

Dengan harga tanda masuk yang hanya 5.000 rupiah, rasanya sangat ekonomis dan sangat terjangkau berbagai kalangan. Saya berpendapat, dengan karcis yang cuma goceng, Pemda DKI Jakarta terlihat sedang berusaha keras mendorong minat masyarakat tentang wisata bahari dan sejarahnya. Langkah yang perlu kita apresiasi. Namun jumlah pengunjung seperti membantah usaha persuasif pengelola.

Ada satu hal yang menjadi pertanyaaan saya selama ini. Mengapa museum di Jakarta ini pada kompakan libur dan tidak buka saat tanggal merah dan hari libur? Padahal justru pada saat-saat itulah kami para orang tua, para karyawan dan pekerja punya waktu dan berkesempatan mengajak anak, saudara dan handai taulan mengunjungi museum. Mengapa pak? Mengapa? Seandainya setiap tanggal merah dan hari libur museum tetap buka seperti biasa, bukan mustahil para pengunjung akan semakin banyak terjaring. Alhasil kecintaan dan minat orang untuk mengunjungi museum akan tetap terpelihara. Semoga saja.

Pengunjung memang didominasi remaja belasan tahun yang mungkin masih duduk di bangku sekolah. Itu pun sedikit sekali, dan mereka saya dapati hanya duduk-duduk di pelataran menara Syahbandar. Entahlah, apakah sebelumnya mereka sempat mendatangi museumnya apa tidak.

Saya sempat bertemu dengan dua pasangan wisatawan mancanegara. Mereka tampak antusias dan bersemangat melihat satu persatu benda koleksi museum. Tak jarang mereka tampak berdecak kagum. Dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah dan asal njeplak, saya mencoba berbincang dengan turis bule tersebut. Ternyata do’i berasal dari Swiss dan Belanda. Mereka berencana mengunjungi juga Pelabuhan Sunda Kelapa setelah dari museum ini. Dan menurut pengakuan do’i rupanya agak kecewa dengan minimnya koleksi benda museum.

Minat minim masyarakat tentang kunjungan ke museum memang mengundang miris. Sedangkan untuk menggratiskan tanda masuk jelas tidak mungkin. Museum butuh dana untuk operasional. Juga dengan kenihilan biaya masuk…jelas sangat tidak menghargai nilai dari benda-benda bersejarah. Sebuah bentuk pengingkaran masa lalu. Bentuk rasa tidak hormat kepada para pelaku sejarah. Ah, museum…riwayatmu kini. šŸ˜¦

Jakarta esotis 35

==============================================

Sore baru saja menjelang ketika gema adzan ashar mulai berkumandang menembus keramaian. Sebuah panggilan yang sangat familiar yang mengharuskan saya untuk pergi bergegas. Saya teringat akan sebuah masjid keramat tak jauh dari Museum Bahari ini. Ya, Masjid Luar Batang. Ke Masjid keramat penuh sejarah masa silam itulah saya menuju. Sebelum memasuki pelataran masjid, sebuah papan nama jelas terpampang seperti hendak menegaskan bahwa masjid ini peninggalan sejarah para pendahulu. Dan titipan sejarah ini sepenuhnya berada dibawah perlindungan negara. Dua buah menara kembar tegak tinggi menjulang, seperti hendak menembus batas cakrawala.

Jakarta esotis 54 Jakarta esotis 32 Jakarta esotis 52 Jakarta esotis 53

Memasuki area masjid, aroma masa silam dalam balutan religi serta bau harum wewangian khas masjid sangat kental terasa. Dengan makam di samping aula utama, memang membuat suasana terasa sakral dan keramat. Beberapa jamaah tampak khusyuk melakukan kegiatan perjalanan spiritual. Ada yang membaca Qur’an, sebagian tenggelam dalam dzikir dan do’a.

Berletak di kampung Luar Batang, seperti nama masjidnya. Banyak versi tentang hal ihwal sejarah masjid keramat ini. Hanya saja secara garis besarnya, keberadaan masjid ini tak lepas dari sepak terjang seorang ulama Yaman, Sayid Husein bin Abubakar AlaydrusĀ . Menurut keterangan seorang petugas masjid yang sempat saya ajak berbincang, konon, setelah habib meninggal dan hendak dikebumikan, pengusung keranda tidak mendapati jasad beliau. Alias kosong. Hal ini berlangsung sampai tiga kali. Akhirnya berdasarkan kesepakatan jamaah kala itu, jenazah beliau dimakamkan di kamar yang sekarang menjadi bagian di dalam komplek masjid.

Ada satu keunikan masjid ini. Yakni 12 tiang pancang yang tidak tersambung dengan langit-langit masjid. Tiang pancang itu memang tidak menyangga apapun.

Di dalam komplek masjid ini sebenarnya ada dua makam. Selain makam Habib sendiri, agak kedepan letaknya, ada sebuah makam yakni makam Haji Abdul Khadir. Ini murid dari Habib Alaydrus. Menurut cerita, dulu sang murid ini adalah seorang Tionghoa (Tiongkok) yang sedang dikejar-kejar oleh tentara VOC. Atas jaminan sang Habib, sang pelarian ini dilepaskan dan akhirnya menjadi murid sang Habib hingga akhir hayatnya.

Setelah menunaikan sholat ashar, Ā saya menjumpai dan berbincang dengan beberapa peziarah. Ada yang datang dari seputaran Jakarta, malahan ada juga yang datang dari luar Jawa. Umumnya mereka terkagum-kagum dan tampak takzim dengan nilai historis dari masjid ini. Terlebih jika membicarakan tentang Habib Alaydrus. Menurut para peziarah, Sang Habib ini diyakini adalah wali Allah. Dan masjid sang Habib ini penuh karomah. Segala niat dan pengharapan serta do’a, Insya Allah mudah dikabulkan. Maka tak mengherankan jika untaian dzikir dan do’a nyaris setiap saat membumbung ditujukan kepada beliau.

 

Jakarta esotis 33

=================================================

Melanjutkan perjalanan menuju pulang, saya sempatkan mampir ke Pusat Pelelangan Ikan Muara Angke. Tempat pelelangan ikan terbesar di Jakarta, selain Muara Baru. Bisa jadi, peredaran separoh ikan segar Jakarta berasal dari sini. Dengan transaksi yang masih secara konvensional, sampeyan bisa tawar-menawar ikan sekreatif mungkin. Ikan apa aja tersedia, kecuali paus. šŸ˜€ Jakarta esotis 9Jakarta esotis 27

O, ya bagi yang hobi kuliner, disediakan tempat untuk menikmati secara matang. Tentunya kuliner berbasis ikan dan kawan-kawan. Ada udang, cumi-cumi, kepiting dan sebagainya. Menurut salah seorang pemilik kedai kuliner yang sempat saya tanyai, tersedia bermacam paket. Ada paket borongan…dimana ikan dan menunya disiapkan oleh pemilik warung kuliner. Sampeyan tinggal pesan, layaknya di restoran…pokoke terima beres. Ada pula paket special…dimana pemilik lapak kuliner meracik masakan dari ikan yang sampeyan beli di pelelangan. Ada pula paket rombongan…yaitu pemilik warung juga melayani permintaan dengan jumlah orang tertentu. Misalnya 10 orang atau lebih. Harganya pun bervariasi, tergantung jumlah orang dan jenis-jenis ikan yang disajikan. Gimana? Tertarik dengan kuliner ikan laut? Sila merapat ke Wisata Kuliner Ikan Laut Muara Angke. šŸ˜€

Setelah penat seharian berkeliling, sejenak saya menikmati panorama pantai senja menjelang. Sejauh mata memandang, nuansa biru dan deburan ombak serta semburat cahaya kemerahan di batas cakrawala. Semangkok bakso Malang pun menjadi teman hangat. Ah, tak putus-putus saya berucap syukur. Sungguh suatu karunia Sang Pencipta yang tak terukur nilainya. Saya beruntung sekali dilahirkan di negeri yang (katanya) sangat kaya raya. Kaya akan sumber daya alam yang melimpah ruah, kaya akan hasil laut yang seperti tak pernah habis. Negeri yang gemah ripah loh jenawi, toto tentrem kerto raharjo. Negeri bagaikan untaian zamrud Khatulistiwa. Saya tak bisa membayangkan seandainya dulu saya kebagian jatah dilahirkan di negeri tandus dan langganan konflik tak berujung. Mendadak saya ngeri membayangkan seandainya benar terjadi.

Jakarta esotis 15Jakarta esotis 56

================================================

Matahari mulai agak condong ke barat. Sinar Sang Hyang Bagaskara timbul tenggelam tersaput mega. Awan hitam perlahan berarak menyelimuti angkasa. Pertanda alam akan tiba gilirannya air hujan membasahi bumi. Pertanda bahwa saya pun harus menyudahi perjalananan ini. Perjalanan mendekatkan diri kepada alam, menggali kejayaan peradaban masa lampau dan perjalanan spiritual menembus dimensi ruang batin.

Karena filosofi kearifan alam adalah media pembelajaran diri. Betapa alam akan diam bertasbih, tegar dan berserah diri ketika hujan dan sejuta topan badai datang menghampiri. Karena hanya dengan mendekatkan diri kepada sang Khalik, segala benih-benih keangkuhan dan kesombongan akan lenyap. Betapa kecil dan tidak berdayanya kita di hadapan kebesaran Tuhan. Karena dengan menengok sejarah itu diperlukan untuk mensugesti diri tentang kemampuan dan potensi diri. Generasi yang baik adalah generasi yang tak lupa sejarah masa lalu dan berusaha menciptakan sejarah yang lebih hebat dari para pendahulu. Itulah generasi yang bermartabat. Semoga.

========================================================

Sebelum gerimis benar-benar turun, saya berkata,”Ayo, kita pulang, nak”

==========================================================

Artikel ini saya ikut sertakan dalam apa yang bisa dilakukan dengan uang 50.000 ribu. Selengkapnya cek video terlampir

=========================================================

Kosa kata:

1. Ati karep bondo cupet = keinginan yang tidak sepadan dengan kemampuan

2. Clingak-clinguk = menengok ke kanan dan ke kiri

3. Jiaaan = ungkapan untuk menegaskan, bisa berarti memang

4. Goceng = lima ribu rupiah

5. Goban = lima puluh ribu rupiah

6. Njeplak = asal terbuka, asal menganga

7. Gemah ripah loh jenawi, toto tentrem kerto raharjo = Ungkapan yang berarti suatu keadaan dimanaĀ Ā masyarakat yang memilikiĀ kemakmuran, kesejahteraan dengan penuh rasaĀ kedamaian, keamanan, dan keteraturan.

Referensi:

1. Wikipedia

2.Ā www.museumbahari.org/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s