Pulang Kampung… (Misteri Pulang dan Pergi)

 

Fajar menyeringai, pagi berseri cerah mengawali hari. Udara dingin berangin masih belum enyah dari penghujung Agustus. Logikanya ini masih di musim kemarau, tapi sesekali hujan tanpa permisi datang juga mengguyur tanah. Melunturkan debu di dedaunan. Cuaca akhir-akhir ini memang susah diprediksi. Hujan datang kadang tak pasti. Sesuka hati.

Saya masih di depan pawon (tungku perapian) sekedar menghangatkan badan dan menikmati secangkir kopi panas, ketika handphone saya berdering diatas meja. Walau agak malas, tak urung saya pun menyapa suara hallo di seberang. Seorang kolega menanyakan kapan kembali ke kota. Aah…baru saja saya menginjak kan kaki kembali di bumi tumpah darah, pikir saya. Segera setelah urusan saya di kampung selesai. Begitu jawaban saya. Singkat, padat dan jelas. Jelas jawaban itu mengisyaratkan bahwa saya tak berminat berlama-lama dan ingin secepatnya menyudahi pembicaraan dengan kolega saya. Agaknya kolega saya pun maklum. Setelah ber tengkyu ria, do’i pun menutup pembicaraan.

mudagrafika for wordpress mudik 7

Pawon itu masih membara. Membakar kayu-kayu. Bara panasnya mendidihkan air di ketel. Masih seperti bertahun-tahun sebelumnya, simbok saya dengan telaten menjerang air, menanak nasi dan mematangkan sayur. Pawon itu masih nyaris sama bentuknya ketika saya meninggalkan kampung. Memang ada sedikit gompal dan retak disana sini. Maklumlah pawon itu terbuat dari tanah merah yang diliatkan kemudian dikeraskan. Mungkin terantuk kayu bakar atau wajan yang salah taruh, pikir saya. Dan kini pawon itu masih tegar ditempat semula. Siap melaksanakan tugas. Sesekali tangan saya menambahkan kayu baru ketika nyala api agak redup. Ada kegairahan tersendiri ketika melihat nyala api semakin membesar.

Pawon itu masih tampak sederhana, tapi pawon itu tetaplah barang berharga buat keluarga kami. Di Pawon inilah tempat kami sekeluarga mendiskusikan bila ada hal-hal penting. Jika ada sanak saudara berkunjung dan bermalam, maka pawon lah tempat yang potensial merekatkan jalinan kekerabatan. Lengkap dengan the panas dan gula merah. Bersamaan dengan bunyi kokok ayam di pagi buta, almarhum bapak adalah orang pertama yang menyalakan api permulaan. Kemudian disusul simbok yang bergegas menyiapkan segala keperluan anggota keluarga. Dan seluruh ritme kehidupan keluarga ini berawal dari nyala api di pawon ini.

Saya meneguk kopi panas. Tepatnya menyeruput. Terlalu bernyali jika saya menenggaknya panas-panas. Tiba-tiba saya dihinggapi perasaan benci tapi rindu. Rindu tapi benci. Sebentuk romantisme yang membelenggu, khas rasa yang bersemayam di jiwa yang sedang terpanah asmara.

mudagrafika for wordpress mudik 8

Semua berawal dari kota. Semua hal apapun tentang kota…hanya semakin menegaskan bahwa betapa sangat indahnya kembali ke desa. Hanya dengan pergi, kita akan merasakan betapa bermaknanya pulang. Itulah kenapa mendadak saya terpaksa maklum dengan saudara saudara kita yang tetap berjuang mengupayakan agar tetap bisa mudik. Tak peduli walaupun harga tiket transportasi menjadi melambung tinggi menjelang tradisi tahunan itu. Tak peduli meski bertransportasi sendiri dengan bermotor, menyabung nyawa mengorbankan faktor safety.

Semua hal tentang kota…semakin membuat cara pandang kita tentang desa menjadi lebih berharga. Kokok ayam di pagi hari, suara jangkrik dan serangga malam adalah nyanyian alam yang membuat rindu. Saya ga bisa merasakan perasaan gaib ini justru tatkala saya masih tinggal di kampung. Semua berlalu begitu saja. Betapa suara kokok ayam ini kini begitu saya nikmati syahdu sekali. Kini semua gambaran wajah desa sepenuhnya adalah potret mahal yang tidak akan saya temui di kota. Pendeknya setiap denyut nadi kehidupan kampung bisa saya rasakan detaknya. Bapak-bapak yang masih setia menenteng sabit dan memanggul pacul. Anak-anak yang masih menyapa malu-malu kemudian lari adalah hal yang membuat senyum. Di kota, walaupun ada tetangga yang memelihara ayam dan seringkali berkokok, saya menganggapnya sebagai hal yang biasa. Ga ada chemitsry. Biasa saja.

Inilah pentingnya membuat sudut dan jarak pandang. Sama seperti gunung di kejauhan yang nampak biru, anggun dan mempesona. Padahal jika didekati, segala keanggunan gunung terbentuk dari beberapa gundukan bukit, pepohonan yang tidak sama tinggi dan jenis, serta ngarai ataupun jurang. Sama seperti dua saudara yang berdekatan. Sangat bisa jadi kekerabatan akan terisi dengan pertengkaran dan silang sengketa. Namun keharuan dan kerinduan serta bahkan perasaan kehilangan akan terpancar jika saudara berjauhan. Tepat seperti penggalan sebuah lagu…Kucinta dirimu namun kubenci hadirmu.

Jika separuh hati saya berisi kerinduan, maka separuhnya lagi bersemayam kebencian. Saya benci kenapa saya mesti harus meninggalkan kampung ini dulu. Kemiskinan adalah biang keladinya. Walaupun nyaris mustahil saya bertahan mengutuk keadaan, toh penghidupan yang baik memang harus diupayakan. Sebagaimana diketahui Tuhan menciptakan semua didunia ini saling berpasang-pasangan. Ada hal yang dirasa bertentangan tapi saling membutuhkan. Bagaimanapun takutnya kita akan kegelapan, toh malam akan datang juga mengganti siang. Apa jadinya jika sepanjang masa berisi siang saja. Tentu kita tidak akan bisa merasakan indahnya purnama menyinari. Saya benci ketika saya tepat di kerinduan ini, secepatnya saya harus kembali. Tapi memang begitulah rumus kehidupan. Semua hal yang bertentangan tadi menjadikan hidup ini lebih berwarna.

Akhirnya saya menyadari bahwa itulah misteri pulang dan pergi itu.

Advertisements

4 responses to “Pulang Kampung… (Misteri Pulang dan Pergi)

  1. Layaknya hukum alam, sistem yg sudah mapan akan menarik sistem yg belum mapan. Begitupun dgn kemapanan kota yg selalu menggoda para warga desa. Namun begitu, pepatah mengatakan setinggi-tinggi bangau terbang, akan kembali ke saangnya jua. Salam dari Palu – Sulteng, dan semoga sukses selalu mas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s