Langkah Mengurus Surat Pindah Domisili

“Mohon orang tua siswa untuk hadir ke sekolah”.

Kurang lebih begitulah bunyi surat edaran dari sekolah anak saya. Sudah beberapa kali saya mendapatkan undangan dari sekolahan, namun kali ini edaran tidak mencantumkan keperluan dan maksud undangan. Jelas membuat saya dan nyonya merasa bertanya-tanya. Dan seperti biasa, nyonya lah yang pantas dan layak memenuhi undangan tersebut. Kenapa? Seharusnya memang saya sebagai bapak lah yang berkewajiban, karena saya termasuk biang keladi hadirnya anak saya ke dunia ini. Namun urung, saya merasa sungkan di kerumuni oleh ibu-ibu satu kelas. Saya pernah dengan percaya diri tinggi, mengambil jatah nyonya untuk hadir ke sekolahan dalam rangka mengambil raport. Saya membayangkan bisa berbaur dan sekedar bertukar sapa dengan para bapak-bapak sekelas. Tapi apa yang terjadi? Saya seperti berada di sarang penyamun. Semua yang hadir adalah ibu-ibu. Dan ajaibnya untuk pertama kalinya, saya merasakan bahwa saya tampan. ๐Ÿ˜€ Dan semenjak itu saya kapok. ๐Ÿ˜€

———————————————————-

“Ayah ini gimana sih?, kan udah dibilang dari kapan tau, kita urus surat pindah!. Sekarang kalau sudah begini, gimana coba?!”

Bombardir pernyataan sang nyonya kepada saya begitu sampai di rumah. Saya geli dalam hati, kalau nyonya lagi begini, saya membayangkan yang saya hadapi adalah Ibu Subangun. Tokoh antagonis dalam serial drama TVRI Keluarga Rahmat. ๐Ÿ˜€ Gile…itu drama sukses mencengkeram pikiran saya sejak bocah. Tapi untunglah, sekejap saya bisa menetralisir keadaan. Saya sodorkan segelas air dingin, setelah sebelumnya gelas itu saya cium lama seperti dalam film India. Dan mujarab. Berangsur-angsur nyonya pun telah pulih kesadaran nya. ๐Ÿ˜€

———————————————————-

Saya akhirnya maklum dan paham, alasan mengapa istri saya mendadak jadi error. Ternyata, untuk masuk ke SMP, anak akan diarahkan ke sekolah terdekat dengan domisili keluarga. Rayonisasi. Celakanya Kartu Keluarga saya masih ter register di Kecamatan Tambora, sedangkan sudah tiga tahun saya sekarang ini berdomisili di Kecamatan Cengkareng. Terbayang oleh saya, antar jemput anak dari Cengkareng Tambora? Belum lagi jadwal kerja saya, pasti menyesuaikan dengan keadaan. Mendadak saya merasa masuk angin dan mules. :mrgreen: Belum lagi tentang psikologi anak, yang berhadapan dengan teman yg semuanya baru. Kebangetan banget ya saya. Saya merasa bersalah banget. Suer. ๐Ÿ˜ฆ Awalnya saya pikir, nanti aja lah…repot lah, mesti urus ini itu, spt balik nama kendaraan dsb. Namun cepat atau lambat, saya toh tetap harus pindah domisili. Awalnya saya bermaksud memakai jasa seorang kawan untuk pengurusan surat-surat, namun dari telik sandi dan penyelidikan serta tanya kolega kanan kiri, perihal makin membaiknya alur birokrasi, saya merasa tertantang dan hendak mengurusnya sendiri. Dan petualangan saya pun dimulai. ๐Ÿ˜€

——————————————————

I. Meminta surat pindah domisili.ย 

Dalam hal ini, yang mengeluarkan adalah Kelurahan, dengan tembusan sampai Kotamadya/Kabupaten. Karena domisili saya masih satu Kabupaten / Kotamadya (Jakarta Barat), maka proses surat pindah cukup di tingkat Kecamatan.

Lha trus caranya bijimane?

1. Mendatangi Ketua RT.

Minta surat pengantar dengan keterangan pemohon hendak mengajukan surat pindah. Siapkan uang tinta seikhlasnya. Kan ga enak, apalagi kalo kita di sediain kopi segala. ๐Ÿ˜€ Ceban noban masih cengli lah ๐Ÿ˜€ Proses ini memakan waktu fluktuatif, tergantung kita kenal baik/ akrab apa ngga. Lha kalo kebetulan kita kenal akrab, kan bisa keasyikan ngobrol. Ya ga?! ๐Ÿ˜€

2. Mendatangi Ketua RW.

Keperluan minta tandatangan sebagai pelengkap surat pengantar. Disini diperlukan juga salam tempel seikhlasnya. ๐Ÿ˜€

3. Mendatangi Kelurahan.

Berbekal surat pengantar dari RT, saya bergegas mendatangi Kelurahan. Saya sudah siapkan KK asli, KTP asli suami istri. Pokoknya asli lho, dan juga copy an nya. Nah, di Kelurahan ini KTP asli kita akan di lubangi sebagai tanda KTP sudah tidak berlaku lagi. Selanjutnya KTP yg sudah dilubangi petugas, diserahkan lg sebagai lampiran surat pindah. Sebenarnya dalam step ini proses bisa cepat selama Pak Lurahnya ada di tempat. Saya beruntung, karena kebetulan Pak Lurah sedang tidak melakukan kunjungan.

4. Mendatangi Kecamatan.

Setelah surat pindah dari Kelurahan saya dapatkan, saya diarahkan petugas untuk datang ke Kecamatan Tambora. Validasi dari Pak Camat. Tanda tangan gitu. Nah, apesnya saya kali ini, Pak Camat sedang blusukan entah kemana. Alhasil saya datang lagi keesokan harinya.
Dan surat pindah sudah berhasil saya dapatkan.

——————————————————————

II. Membuat KK dan KTP baru.

Membuat KTP baru

Tak menunggu waktu lama lagi, saya mencoba lagi petualangan menembus birokrasi negeri ini. Gimana rasanya? Kesimpulan nya saya quote dalam akhir artikel ini. O,ya surat pindah ini ada masa berlakunya lho. Sebulan. So, baik baik saja memanfaatkan waktu. Trus langkah selanjutnya gimana?

1. Mendatangi Ketua RT.

Setelah saya mendapatkan surat pindah dari domisili yang lama, saya datang ke Ketua RT dimana saya tinggal sekarang. Meminta surat pengantar untuk keperluan membuat KTP baru. Berhubung Ketua RT ini baru dilantik, saya merasa belum akrab, jadi tak perlu berlama lama, saya utarakan maksud dan tujuan. Dan surat pengantar pun siaap. Tak lupa saya selipkan ceban dalam salaman tangan dengan Pak RT. ๐Ÿ˜€

2. Mendatangi Ketua RW.
Validasi alias tandatangan dari RT rasanya belum cukup. Dan Ketua RW lah penuntas registrasi surat pengantar ini. Singkat kata, dan terjadilah ceban dalam salaman lagi ๐Ÿ˜€

3. Mendatangi Kelurahan.

Berbekal surat pengantar RT, saya dan nyonya (sebagai pemohon KTP baru) mendatangi Kelurahan dimana saya tinggal. Dalam hal ini Kelurahan Kapuk. Setelah menyerahkan berkas surat pindah dari domisili asal, kami disuruh mengisi formulir pembuatan KTP baru. Setelah menunggu beberapa saat, kami pun dipanggil untuk sesi pemotretan. Setelah sebelumnya tanda tangan dalam pen tablet mini. Jebret. Selesai? Sampai disini kami pikir KTP udah bisa di tunggu jadi. Namun seperti bisa menebak pikiran kami, petugas dengan yakin mengatakan, “Pak, besok datang lagi, ambil KTP” Oooo…kami berdua pun pulang.
Keesokan harinya saya datang lagi ke Kelurahan. Pucuk dicinta ulam tiba, KTP baru saya sudah jadi. Namun mendadak saya tercenung, visual KTP baru saya kok masih edisi lama yg belum e-KTP. Iseng saya tanya petugas, “Pak, ini belum e-KTP ya?” “Ga apa apa pak, tetap berlaku” Wah, piye iki?! Yo wis lah, toh KTP ini dikeluarkan oleh instansi berwenang, pikir saya melegakan hati.

————————————————-

Membuat Kartu Keluarga Baru

1. Mendatangi Ketua RT.

Awalnya saya pikir, ribet banget sih? Kenapa ga sekalian buat surat pengantarnya? Selidik punya selidik, untuk pembuatan KK baru harus berdasarkan KTP. Jadi oleh petugas Kelurahan, saya diminta untuk membawa surat pengantar dari Ketua RT lagi, kali ini dengan keperluan pembuatan KK baru. Singkat kata saya dapatkan juga surat pengantar RT itu.

2. Mendatangi Ketua RW.
Seperti proses sebelumnya dalam surat pengantar. Yaitu tanda tangan Ketua RW.

3. Mendatangi Kelurahan.

Dengan langkah pasti, saya mendatangi Kelurahan. Setelah menyerahkan berkas, saya pun menunggu dalam antrian hingga nama saya dipanggil. Dengan cermat petugas mengecek kelengkapan berkas para pemohon. Hingga tibalah nama saya dipanggil. Dan alangkah terkejutnya saya, ketika berkas saya kurang lengkap. Petugas menyatakan untuk melengkapi berkas dengan Akte Kelahiran anak. Tak ayal, saya pun bergegas pulang, mengambil dokumen yang diminta. Untunglah, rumah saya tak begitu jauh dengan kelurahan. Dengan tergopoh-gopoh saya pun menghadap petugas terkait. Setelah meneliti sekali lagi, petugas pun berkata, “Pak, datang lagi 14 hari kemudian”. Maaakkkk…lama kali, pikir saya. Apa boleh buat saya pun menjawab, “Baiklah, pak. Terima Kasih”. Saya menjabat tangan petugas, dan berlalu.
Dalam perjalanan pulang, saya bergumam…bagaimana jika KK ini diperlukan secepatnya? Dengan waktu dua pekan processing, untuk selembar Kartu Keluarga, rasanya bisa dipersingkat. Terpantik imajinasi nakal saya, dengan jeda waktu 14 hari sesuatu negosiasi atauun deal deal terselubung bisa saja terjadi. Hmm…tapi saya tetap berbaik sangka dan membiarkan proses ini berlangsung sewajarnya. Hingga dua pekan kemudian saya pun datang lagi ke kelurahan. Berbekal secarik kertas verifikasi pengambilan KK, saya mendatangi petugas. Dan KK baru saya sudah ditangan. Horee… Selesai?! Ternyata belum.

4. Mendatangi Ketua RT.

KK baru saya perlu validasi dari Ketua RT. Dan sepertinya Pak RT sudah mulai bosan melihat wajah saya. Tapi biarlah, untuk secoret tandatangan KK, Pak RT ini sungguh penting. Dan salaman tempel pun terjadi lagi. ๐Ÿ˜€

5. Mendatangi Kelurahan (lagi)

Hah?! Apa lagi?! Setelah KK sudah bertanda tangan saya dan berstempel Ketua RT, saya diharuskan datang lagi ke Kelurahan untuk minta tandatangan Lurah. Celakanya, Pak Lurah hari itu sedang tidak ada ditempat. Alhasil, oleh petugas saya di arahkan untuk datang esok hari, setelah menyerahkan KK saya. Dan saya pun pulang.
Dan keesokan harinya saya pun sudah menimang Kartu Keluarga baru saya. Sebelum saya benar benar meninggalkan Kelurahan, saya berjabat tangan dengan petugas seraya berkata, “Berapa pak?” Seperti terkaget, petugas pun berkata, “Bapak coba baca tulisan itu” seraya menunjuk sebuah papan sambil tersenyum. Aah, saya lupa mendokumentasikan tulisan yg dimaksud. Tapi kurang lebih begini…”Segala pengurusan KTP dan KK tidak dipungut biaya”. Dan saya pun pulang dengan wajah cerah.

KTP 2KTP KTP 1

——————————————————————

Terlepas dari waktu proses penerbitan dokumen, inilah birokrasi resmi yang kita dikehendaki. Birokrasi yang melayani. Dan yang jelas, tanpa retribusi. Ini birokrasi yang dihasilkan dari upaya transparansi, dan semoga saja tidak setengah hati. Walau tak menutup kemungkinan masih setengah jadi, namun birokrasi bersih bukan mimpi, selagi masih ada niat berbenah diri.

—————————————————————

Pungkasan, kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta, namun sistem yang baik dan bermartabat tetap harus diupayakan. Semoga artikel ini bermanfaat buat para pembaca sekalian, terlebih buat sampeyan yang kebetulan bermaksud mengurus pindahan.
Salam tempel. ๐Ÿ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s