Ini yang Seharusnya Dilakukan oleh Produsen Sepeda Motor.

Kebutuhan akan sistem transportasi massal yang murah, efisien dan tepat waktu, hingga kini masih tetap menjadi impian dan angan angan. Disaat program Pemerintah tentang sistem transportasi massal yang seakan jalan ditempat, pabrikan sepeda motor telah dengan jitu memanfaatkan celah. Setiap tahun produksi sepeda motor terus merangkak mengalami peningkatan. Menurut data AISI, untuk kurun waktu dua tahun belakangan ini saja, total penjualan sepeda motor mencapai 14.860.016 unit. Angka yang akan diprediksi meningkat dari tahun per tahun, jika tidak dibarengi dengan kebijakan pemerintah tentang pembatasan jumlah sepeda motor.

Setiap pabrikan terlihat giat dan gigih menggelontorkan serta memasarkan aneka produk produknya. Bisa dikatakan setiap pergantian tahun, pasti ada pergantian jenis motor. Selera konsumen yang universal, nyata betul direspon pabrikan dengan cermat dan seksama. Kini varian motor tak ubahnya seperti menu warung makan. Komplit. Sampeyan ga suka pecel, ada pilihan opor ayam. 😀 Motor pun begitu. Segala jenis serta peruntukan lengkap tersedia. Yang ga suka bebek, sila pilih motor batangan atau metik. Itupun masih dibagi beberapa sub type. Jenis bebek pun terdiri dari beberapa type dan cc. Mumet kan?!

Kini motor bukan hanya sebagai alat transportasi primer selayaknya kebutuhan yang urgensi. Pelan tapi pasti, motor juga sebagai media gengsi bahkan pamer diri. Bukan rahasia lagi jika dalam dunia permotoran, terjadi user classification. Penggolongan berdasarkan kebanyakan para pengguna motor. Sampeyan tentu pernah dengar istilah: motor bapak-bapak, motor abege, motor anak muda, dan semacamnya kan?! Ini (walau bisa dibantah) yang sedikit banyak melahirkan dualisme keinginan. Alhasil, tak jarang seseorang bisa memiliki lebih dari satu motor. Dan kini siapapun bisa naik motor, tanpa batasan umur dan gender. Terlebih di jaman emansipasi modern sekarang ini, tidak heran dan lumrah jika kita mendapati beberapa wanita pun menyemplak sang kuda besi.

Populasi sepeda motor yang tak terkendali, jelas akan menimbulkan transformasi perilaku di masyarakat. Fenomena cabe cabean dan kebrutalan geng motor belakangan ini hanyalah sedikit dari ekses negatif yang ditimbulkan. Hal ini jelas selain mengundang keprihatinan juga berpotensi akan masa depan yang suram. Bukan tentang individu bersangkutan, dalam konteks yang lebih luas menyangkut sebuah generasi. Generasi yang sudah seyogyanya kita proteksi dari semua hal degradasi. Itupun kalo kita masih peduli.

Pun dalam berlalu lintas. Menyerobot traffic light, merampas trotoar, lawan arah adalah pemandangan lumrah belakangan ini. Pelanggaran berlalu lintas seperti sudah menjadi kebiasaan baru. Karut marut kehidupan jalan raya semakin runyam ditambah dengan minimnya penegakan hukum oleh aparat. Laskar Bhayangkara yang diplot sebagai garda terdepan seakan dibuat tak berdaya. Sudah selaksa kejadian demi kejadian, peristiwa demi peristiwa yang menimbulkan lara dan nestapa. Sejenak kita perlu merenung akan sebuah fakta yang tak terbantahkan yakni prosentasi kematian dari sebab kecelakaan berlalu lintas adalah PEMBUNUH TERBESAR dan menduduki ranking teratas. Bukan kanker atau masuk angin. Pilu mendengarnya, bukan?!

Video berikut ini mungkin bisa memberi kita banyak pelajaran berharga

Berbagai seminar, simposium dan diskusi lintas stakeholder sudah sering dilakukan guna mereduksi angka petaka dijalan raya. Bermunculanlah klub serta organisasi yang secara massive menyebarkan virus keselamatan berlalulintas. Langkah positif dari semua pihak ini tentunya harus kita apresiasi tinggi, walaupun kalo boleh jujur belum sepenuhnya menyentuh akar rumput. Masyarakat lapisan bawah sebagai mayoritas dari problematika kompleks.

Kini sejuta pertanyaan pun menggunung. Apakah para cabe cabean itu paham kalo cenglu (bonceng telu) itu salah? Apakah pemotor itu mengerti jika tak pakai helm itu juga salah? Apakah biker yang biasa ga menyalakan lampu sein saat belok itu tahu kalo itu salah? Apakah para pelawan arah itu mengerti kalo hal itu membahayakan? Bagaimana jika mereka melakukan aneka pelanggaran itu didasari karena ketidaktahuan mereka? Naif bukan?! Dan semua pertanyaan apakah itu akhirnya mengerucut menjadi…Siapakan yang pertama seharusnya mengedukasi masyarakat tentang cara berkendara yang baik?

Produsen motor. Ya, inilah unit pertama yang seharusnya memberi “pendidikan” keselamatan di jalan raya.

Lha, caranya bagaimana? Mendirikan sekolah khusus? Bukan! Memberikan pelatihan safety riding secara kontinyu? Bisa iya, tentu juga bukan!

Cara yang efektif dan klik adalah dengan mengeluarkan Buku Panduan Keselamatan Berkendara.

buku panduan

Mengapa justru produsen motor?

Tentu kita tidak bisa serta merta mengatakan biang keladi dari keruwetan berlalu lintas berasal dari salah satu lembaga tertentu. Ada masyarakat umum sebagai pengguna, kepolisian sebagai penegak dan kemenhub sebagai pengelola jalan raya. Kemenhub pun kalo tidak salah pernah mengeluarkan buku panduan seperti yang dimaksud. Saya juga pernah membaca Buku teori ujian sim terbitan Polda Metro Jaya yang sebagain materinya memuat tata cara berkendara yang aman. Pertanyaan nya…apakah masyarakat umum sebagai konsumen tahu? Kalaupun tahu buku itu, dimana bisa mendapatkannya? Keterbatasan daya jangkau instansi inilah yang ditengarai sebagai sumber dari “kebodohan” masyarakat.

Draft dan materi dari buku itu disusun tentu melibatkan instansi terkait, karena selain berisi teknik berkendara yang benar juga memuat pasal pasal penegakan. Lha, terus masyarakat mendapatkan buku itu caranya bagaimana?

Seperti kita ketahui, bersamaan dengan diterimanya unit kendaraan baru, kita pasti akan menerima buku service, tool standard, helm serta buku panduan kendaraan bersangkutan. Mekanismenya adalah Buku Panduan Keselamatan Berkendara itu wajib disertakan dalam setiap pembelian kendaraan baru. Sebagai media edukasi dan pemahaman berkendara yang langsung sampai ke khalayak umum. Dengan demikian masyarakat akan lebih leluasa memahami aturan cara berkendara yang benar. Kenapa mesti buku? Sebab buku setiap saat kita bisa membaca dan mempelajari isinya secara berulang-ulang. Suatu hal yang dilakukan secara berulang-ulang akan melahirkan kebiasaan. Dan bukan tidak mungkin kitapun bisa menularkan dari apa yang kita baca kepada orang terdekat kita. Penambahan pengetahuan serta penegasan, kita bisa mengikuti seminar, simposium dan diskusi seputar safety riding.

Jika Buku Panduan itu bisa di realisasikan oleh tiap-tiap pabrikan, besar harapan kita akan perubahan baru paradigma masyarakat tentang berlalu lintas. Tentu dengan ringan dan tulus hati kita berikan standing applause dan angkat topi buat para pabrikan motor. Ini bukan tentang romantisme balas budi. Ini hanya sebentuk emphatic morality dari pabrikan kepada konsumen. Terlebih regulasi otomotif nasional yang cenderung memberi ruang kepada pabrikan untuk ekspansi produk, rasanya tidak berlebihan jika kita para pengguna sepeda motorpun berhak mendapatkan pembelajaran berlalu-lintas yang benar secara komperehensif.

Pungkasan…mari kembali menemukan jati diri sebuah bangsa yang hakiki. Bangsa yang (konon katanya) beradab dan berbudi pekerti. Sudah bosan kita mendengar berbagai tragedi. Risih kita menyaksikan sesama pengguna jalan saling sumpah serapah dan caci maki. Jenuh rasanya kita melihat perilaku keras hati dan arogansi. Tertib berlalu lintas hanyalah salah satu dari sekian indikasi dari masyarakat yang cinta negeri. Individu individu yang disiplin adalah cerminan karakter sebuah generasi. Tak selamanya akan kelabu, selagi masih ada putih. Berbekal niat dan kemauan tinggi di setiap lini, tentu segala keruwetan jalan raya selama ini bisa teratasi.

Semoga.
#keep safety and be smart driver

*inspired from suara lantang dari solo* 

Pulang Kampung… (Misteri Pulang dan Pergi)

 

Fajar menyeringai, pagi berseri cerah mengawali hari. Udara dingin berangin masih belum enyah dari penghujung Agustus. Logikanya ini masih di musim kemarau, tapi sesekali hujan tanpa permisi datang juga mengguyur tanah. Melunturkan debu di dedaunan. Cuaca akhir-akhir ini memang susah diprediksi. Hujan datang kadang tak pasti. Sesuka hati.

Saya masih di depan pawon (tungku perapian) sekedar menghangatkan badan dan menikmati secangkir kopi panas, ketika handphone saya berdering diatas meja. Walau agak malas, tak urung saya pun menyapa suara hallo di seberang. Seorang kolega menanyakan kapan kembali ke kota. Aah…baru saja saya menginjak kan kaki kembali di bumi tumpah darah, pikir saya. Segera setelah urusan saya di kampung selesai. Begitu jawaban saya. Singkat, padat dan jelas. Jelas jawaban itu mengisyaratkan bahwa saya tak berminat berlama-lama dan ingin secepatnya menyudahi pembicaraan dengan kolega saya. Agaknya kolega saya pun maklum. Setelah ber tengkyu ria, do’i pun menutup pembicaraan.

mudagrafika for wordpress mudik 7

Pawon itu masih membara. Membakar kayu-kayu. Bara panasnya mendidihkan air di ketel. Masih seperti bertahun-tahun sebelumnya, simbok saya dengan telaten menjerang air, menanak nasi dan mematangkan sayur. Pawon itu masih nyaris sama bentuknya ketika saya meninggalkan kampung. Memang ada sedikit gompal dan retak disana sini. Maklumlah pawon itu terbuat dari tanah merah yang diliatkan kemudian dikeraskan. Mungkin terantuk kayu bakar atau wajan yang salah taruh, pikir saya. Dan kini pawon itu masih tegar ditempat semula. Siap melaksanakan tugas. Sesekali tangan saya menambahkan kayu baru ketika nyala api agak redup. Ada kegairahan tersendiri ketika melihat nyala api semakin membesar.

Pawon itu masih tampak sederhana, tapi pawon itu tetaplah barang berharga buat keluarga kami. Di Pawon inilah tempat kami sekeluarga mendiskusikan bila ada hal-hal penting. Jika ada sanak saudara berkunjung dan bermalam, maka pawon lah tempat yang potensial merekatkan jalinan kekerabatan. Lengkap dengan the panas dan gula merah. Bersamaan dengan bunyi kokok ayam di pagi buta, almarhum bapak adalah orang pertama yang menyalakan api permulaan. Kemudian disusul simbok yang bergegas menyiapkan segala keperluan anggota keluarga. Dan seluruh ritme kehidupan keluarga ini berawal dari nyala api di pawon ini.

Saya meneguk kopi panas. Tepatnya menyeruput. Terlalu bernyali jika saya menenggaknya panas-panas. Tiba-tiba saya dihinggapi perasaan benci tapi rindu. Rindu tapi benci. Sebentuk romantisme yang membelenggu, khas rasa yang bersemayam di jiwa yang sedang terpanah asmara.

mudagrafika for wordpress mudik 8

Semua berawal dari kota. Semua hal apapun tentang kota…hanya semakin menegaskan bahwa betapa sangat indahnya kembali ke desa. Hanya dengan pergi, kita akan merasakan betapa bermaknanya pulang. Itulah kenapa mendadak saya terpaksa maklum dengan saudara saudara kita yang tetap berjuang mengupayakan agar tetap bisa mudik. Tak peduli walaupun harga tiket transportasi menjadi melambung tinggi menjelang tradisi tahunan itu. Tak peduli meski bertransportasi sendiri dengan bermotor, menyabung nyawa mengorbankan faktor safety.

Semua hal tentang kota…semakin membuat cara pandang kita tentang desa menjadi lebih berharga. Kokok ayam di pagi hari, suara jangkrik dan serangga malam adalah nyanyian alam yang membuat rindu. Saya ga bisa merasakan perasaan gaib ini justru tatkala saya masih tinggal di kampung. Semua berlalu begitu saja. Betapa suara kokok ayam ini kini begitu saya nikmati syahdu sekali. Kini semua gambaran wajah desa sepenuhnya adalah potret mahal yang tidak akan saya temui di kota. Pendeknya setiap denyut nadi kehidupan kampung bisa saya rasakan detaknya. Bapak-bapak yang masih setia menenteng sabit dan memanggul pacul. Anak-anak yang masih menyapa malu-malu kemudian lari adalah hal yang membuat senyum. Di kota, walaupun ada tetangga yang memelihara ayam dan seringkali berkokok, saya menganggapnya sebagai hal yang biasa. Ga ada chemitsry. Biasa saja.

Inilah pentingnya membuat sudut dan jarak pandang. Sama seperti gunung di kejauhan yang nampak biru, anggun dan mempesona. Padahal jika didekati, segala keanggunan gunung terbentuk dari beberapa gundukan bukit, pepohonan yang tidak sama tinggi dan jenis, serta ngarai ataupun jurang. Sama seperti dua saudara yang berdekatan. Sangat bisa jadi kekerabatan akan terisi dengan pertengkaran dan silang sengketa. Namun keharuan dan kerinduan serta bahkan perasaan kehilangan akan terpancar jika saudara berjauhan. Tepat seperti penggalan sebuah lagu…Kucinta dirimu namun kubenci hadirmu.

Jika separuh hati saya berisi kerinduan, maka separuhnya lagi bersemayam kebencian. Saya benci kenapa saya mesti harus meninggalkan kampung ini dulu. Kemiskinan adalah biang keladinya. Walaupun nyaris mustahil saya bertahan mengutuk keadaan, toh penghidupan yang baik memang harus diupayakan. Sebagaimana diketahui Tuhan menciptakan semua didunia ini saling berpasang-pasangan. Ada hal yang dirasa bertentangan tapi saling membutuhkan. Bagaimanapun takutnya kita akan kegelapan, toh malam akan datang juga mengganti siang. Apa jadinya jika sepanjang masa berisi siang saja. Tentu kita tidak akan bisa merasakan indahnya purnama menyinari. Saya benci ketika saya tepat di kerinduan ini, secepatnya saya harus kembali. Tapi memang begitulah rumus kehidupan. Semua hal yang bertentangan tadi menjadikan hidup ini lebih berwarna.

Akhirnya saya menyadari bahwa itulah misteri pulang dan pergi itu.

Pesan Dalam Sekarung Beras.

“Mas, ada titipan dari kampung. Kalau sempat, nanti diambil ya”

Sebuah pesan singkat sukses mendarat di hape saya. Tak biasanya saya mendapat kiriman atau titipan dari keluarga di desa. Selama ini komunikasi saya dan keluarga biasanya lewat handphone. Dulu…sebelum hape merajalela seperti sekarang ini…untuk sekedar mengabarkan salah seorang anggota keluarga yang meriang atau batuk pilek saja, keluarga dirumah musti datang ke wartel yang jaraknya lumayan jauh di kota kecamatan. Atau sesekali lewat surat, hanya untuk menanyakan, “Piye kabare? Nek ora krasan ning Jakarta…mulih wae yo”

Kini, teknologi sudah menyentuh sendi-sendi interaksi manusia. Betapa mudahnya dan sering bagi saya menelepon keluarga dikampung hanya untuk sekedar iseng menanyakan, “mbok, masak apa hari ini?” Atau, “kambing kita berapa?” Dan aneka pertanyaan tak penting dan remeh lainnya.

Hmm…ada apa gerangan? Namun, apapun bentuk kiriman, titipan atau paketnya sungguh telah membuat saya bertanya-tanya dan mengundang penasaran.

 

Singkat kata dan pada akhirnya…kiriman itu sudah ada dirumah saya. Tepat di hadapan saya. Sejurus saya tertegun. Sekarung beras. Kemudian beras itu saya letakkan begitu saja. Posisinya yang visionable seakan membuatnya menjadi point of view. Dari sudut manapun. Saat hendak ke dapur ataupun keruang depan saya pasti melewati sekarung beras itu. Sampai disini perasaan saya masih biasa saja. Yah, saya pikir, toh hanya beras. Tidak lebih.

Hingga pada suatu malam…

Saya duduk di sofa ruang tamu. Menikmati kopi. Sudah menjadi kebiasaan, anak dan istri saya sudah tertidur selepas Isya’. Jadi saya ngopi hanya sendiri saja.

Menikmati kopi sembari ngudud adalah wajib. Menikmati kopi tanpa permainan penerawangan hati dan pikiran adalah mustahil buat saya. Alhasil pikiran saya mengembara menembus dimensi ruang dan waktu. Sesekali pikiran mengajak saya kembali ke masa masa kecil di kampung. Masa kecil yang sebagian saya habiskan dengan makan nasi jagung dan rebung. Tak lama pikiran mengundang saya mengenang teman teman sekolah dulu. Teman sekolah dulu ada yang sekarang menjadi anggota Polri, bahkan hampir pernah menilang saya di daerah Kebayoran Lama. Teman sekolah yang beberapa diantaranya bahkan sudah meninggalkan dunia ini. Helaan nafas saya seperti hendak menyimpulkan, aah…sudahlah. 😦 Betapa cepatnya waktu berlalu.

Hingga tanpa sengaja mata saya bersirobok, seakan seperti beradu pandang dengan sekarung beras itu (lagi). Saya memandangnya lebih dalam. Lebih dalam lagi. Mendadak seperti ada sesuatu perasaan bergolak di hati saya. Antara kesedihan dan keharuan lebur menjadi satu dan sukses mengaduk aduk perasaan saya. Saya masih bisa merasakan (dan dipaksa untuk merasakan kembali) bahwa untuk mendapatkan sekarung beras itu, melewati proses yang tidak mudah dan melelahkan. Dan pengembaraan pikiran saya mulai berganti.

Dulu…kemiskinan kami memang menyedihkan. Sawah yang di garap hanyalah sawah garapan dengan durasi yang bisa saja berubah sewaktu-waktu oleh sang pemilik. Sawah garapan yang oleh orang tua dikelola dengan cucuran keringat seperti tak kenal lelah. Sawah garapan yang memaksa kami seakan seperti hendak pindah rumah, karena sawah garapan itu berada di kampung sebelah. Pagi buta bapak dan ibu saya sudah berangkat dan pulang selepas Magrib. Melewati jalan setapak menembus luas dan lebatnya belukar perbukitan hutan jati. Menjumpai kawanan babi hutan atau menjangan liar adalah hal biasa.

Musim kemarau adalah keadaan terberat buat kami. Saat sumber air menipis dengan sawah yang harus tetap terairi adalah perjuangan penuh uji nyali. Sumber irigasi utama yang mengairi sawah kami dan juga yang lain berada tepat di tengah-tengah pekuburan kampung setempat. Itupun kadang sawah kami tak kebagian air secara penuh. Kami kalah cepat dengan petani setempat. Malam hari adalah saat yang memungkinkan agar sawah kami tidak kekeringan. Tak jarang kami pun menginap di sawah dengan gubuk seadanya.

Ah, kemiskinan kami memang kelam. Kemiskinan kami bagi yang melihatnya seharusnya melahirkan empati. Tapi siapa yang peduli? Sebagian besar penghuni kampung didera persoalan yang nyaris sama. Kadarnya saja yang berbeda. Empati yang terpaksa dikelola secara tersembunyi karena terbentur kondisi. Kemiskinan yang anehnya kami sendiri begitu menikmati. Kemiskinan malah membuat kami bisa merasakan makan singkong rebus bisa menjadi senikmat kentaki. Kemiskinan membuat kami merasa tidak susah untuk berbagi. Berbagi apa saja, karena itulah energi dari kemiskinan kami. Berbagi materi dalam kemiskinan kami adalah mustahil. Berbagi tegur sapa, salam dan suasana damai itulah yang kami bisa. Kemiskinan membuat kami terbiasa berkeringat lebih deras. Kemiskinan membuat kami senantiasa terjaga untuk tetap memastikan nyala api perjuangan tidak padam. Kemiskinan kami memang menyedihkan, tapi tidak hina. Kami bahkan merasa tidak kalah hormat dalam kemiskinan jika dibanding dengan para pejabat pengemplang uang rakyat!

Tanpa saya sadari mata saya berkaca kaca. Terlebih sekarang ini, simbok berjuang hanya ditemani adik perempuan saya. Kurang lebih sewindu yang silam bapak pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. 😦

Saya masih menatap sekarung beras itu. Mencoba mengurai adakah pesan pesan yang mungkin bisa saya rangkaikan.

Seharusnya saya merasa tersinggung. Betapa saya sekarang masih dianggap sebagai penghuni desa tertinggal. Bahkan untuk menyambung hidup di Jakarta ini saya perlu dikirimi beras dari kampung. Ah, tidak! Saya tak bisa tersinggung begitu saja. Jangan! Karena itu berarti bibit kesombongan mulai tumbuh di hati saya. Susah payah saya menetralisir perasaan.

Syukurlah, ternyata saya berada disudut pandang yang keliru. Saya hanya sedikit merubah sudut pandang saja dan perlahan kegaiban perasaan itu saya rasakan. Sekarung beras itu seperti mengisyaratkan selaksa kasih yang tak berujung. Kasih seorang ibu yang tak lapuk oleh jarak waktu. Kasih yang hanya memberi tak berharap menanti. Betapa saya masihlah seorang anak dari ibu yang melahirkan saya. Mendadak saya merasa bersalah. Berkali kali saya mengabaikan telepon dari kampung dengan alasan sibuk dan keesokan harinya saya terlupa untuk menelpon balik. Sekarung beras itu seperti hendak menegaskan bahwa bagaimanapun keadaannya, kasih ibu itu nyata dan tak tergantikan. Perlahan saya peluk sekarung beras itu dengan perasaan mengharu biru.

Bahwa dalam setiap butir padi adalah perwujudan penuh harap dari tetesan keringat dan do’a, lengkap dengan atribut kemiskinan yang melekat. Sekarung beras itu juga seperti hendak menafsirkan bahwa tak mudah mewujudkan harapan. Hanya keyakinan teguh dan perjuangan ekstra keras penuh integritas yang bisa menghadirkannya menjadi nyata. Perjuangan penuh determinasi dan tahan uji.

———————————————-

Saya masih memeluk sekarung beras itu, hingga pada akhirnya saya menyadari, bahwa sekarung beras itu sarat makna.

Misteri Sebuah Nama…

Apalah arti sebuah nama? Begitulah kira-kira kata William Shakespeare. Sebuah nama tetaplah nama tanpa makna, sebutan hanya untuk memudahkan pengelompokan dan klasifikasi saja. Namun, kita tak dapat mengelak bahwa semua benda didunia ini tetap mempunyai nama. Bagi sebagian masyarakat, terutama yang masih terjaga tradisi keluhuran…nama bisa saja menggambarkan wujud karakter dan identitas serta pengharapan kebaikan.

Bertolak belakang dengan teorinya Shakespeare…bukan tanpa alasan, jika ada orang tua memberi nama anaknya Sugeng, Rahayu, Mukti, Wibowo atau bahkan Selamet. Bagi paham di sebagian orang Jawa…itu semua bermakna kebaikan. Jarang atau mungkin ga ada orangtua yang memberi nama anak nya dengan Jahanam (walaupun nama ini ada dalam kitab suci)…jika ada, sungguh orang tua yang salah pengertian dan keji. :mrgreen: Dan proses pemberian sebuah nama, tidak asal mengo, sim salabim, melainkan lewat proses selamatan, dengan bubur merah putih, memohon keberkahan atas nama dari Sang Pemberi Hidup.

=====================================================================

Berbicara tentang nama…baru-baru ini ada seorang akademia lulusan University of  Metaphysics International Los Angeles di belahan Amrik sono, yang menterjemahkan karakter sebuah nama untuk ramalan kehidupan yang bersangkutan. Tentang keberuntungan, kesehatan, asmara, karir dsb. Pendeknya lewat terawangan berbasis sofware modern, sang doktor bisa membaca “nasib” dari sebuah nama.

Adalah Arkand Bodhana Zeshaprajna, sang doktor yang dimaksud. Beliau jelas menolak jika dikatakan sebagai dukun. Beliau lebih suka menyebut dirinya dengan konsultan nama dan waktu. Menurut nya…nama bukan hanya sekedar kumpulan kata, melainkan mengandung energi. Fisika merumuskan bahwa energi bersifat tetap…tak bisa diciptakan, tak bisa pula dihancurkan. Semua hal di semesta raya ini mempunyai energi. Termasuk nama.!

Menariknya…banyak dari tokoh dan publik figur serta sosialita kita yang meminta pertimbangan dari sang doktor. Sebut saja Butet Kertaradjasa, Slamet Rahardjo, Mohammad Sobari bahkan arsitek Timnas U-19 kita, Indra Sjafrie.

Dari pengakuan Mas Butet, setelah berkonsultasi dengan doktor Arkand ini, hanya butuh sugesti tentang nama yang diyakini. Bahkan beliau ini memprakarsai berdirinya Paguyuban Kitab Blirik. Opo kuwi? Yaitu sekumpulan orang yang berkeyakinan dan mensugesti diri sendiri akan sebuah nama. Pendeknya…paguyuban ini menampung orang-orang dengan pemikiran yang sama tentang sebuah nama. Dalam ritual awal…cukup menuliskan nama kita sebanyak satu halaman folio setiap hari dan berlangsung selama 90 hari tanpa jeda. Artinya…setiap hari Mas Butet dan kawan-kawan menuliskan nama beliau di selembar folio dan selama 3 bulan ga boleh lupa. Kalo lupa…ya ulang lagi dari awal. Umpama…kita udah menuliskan sebanyak 89 hari nonstop, lha ndilalah dihari pamungkas kita kelupaan….ya restart lagi. :mrgreen:

Lain Mas Butet, lain pula yang diyakini Indra Sjafrie. Sosok di belakang prestasi mencengangkan Timnas U-19. Sang arsitek Timnas U-19 yang flamboyan itu. Setelah rembug an dengan doktor Arkand ini, beliau disarankan hanya untuk mengganti huruf Y dalam nama Syafri, menjadi J (kembali ke sebelum EYD) Indra Sjafrie. Menurut penuturan beliau…beberapa nama anak skuad Timnas pun tak luput dari sedikit campur tangan Tuan Arkand. Hanya saja Indra Sjafrie menegaskan…dalam perekrutan pemain, tetap merujuk pada kriteria-kriteria yang menjadi hak prerogatif pelatih. Skill, visi bermain, stamina dan mental adalah hal krusial yang sepenuhnya berada di bawah kendali tim pelatih.

================================================================

Dinamika politik belakangan ini…agaknya tak luput dari perhatian doktor Arkand. Beliau membaca karakter dari nama nama yang mengerucut menjadi calon presiden dan wakil. Menurut beliau, secara individu…dari struktur karakter nama capres yang bagus dan berharani positif:

1. Joko Widodo
2. Wiranto
3. Surya Paloh
4. Aburizal Bakrie
5. Gita Wiryawan
6. Hatta Rajasa
Nama Nama 1

Lantas, apakah dari nama nama yang berkarakter bagus itu jika dikombinasikan tetap akan berharani kuat? “Belum tentu,” katanya. Berikut urutan terbagus jika nama nama itu di gabungkan:

1. Joko Widodo-Gita Wirjawan.
2. Surya Paloh-Joko Widodo.
3. Wiranto-Harry Tanoe.
4. Aburizal Bakrie-Hatta Rajasa
5. Gita Wiryawan-Prabowo Subianto
Nama 2 Nama 3

 

====================================================================

Bukan hanya mampu membaca karakter nama secara individu…yang menghebohkan adalah dengan sangat percaya diri, beliau ini menyarankan agar Indonesia berganti nama menjadi Nusantara. Rentetan kejadian bencana dan konflik berkepanjangan dianggap hanya salah satu sebab yang mengindikasikan bangsa ini sedang sakit-sakitan…dan layaknya anak yang sakit-sakitan (dalam falsafah kejawen) butuh ritual selamatan ganti nama. Setelah di mistik…nama Indonesia (kalo istilah jawa) itu kabotan jeneng. Tidak memberikan energi yang positif. Bahkan dengan yakin nya, beliau ini memprediksi…akan ada perpecahan berbuntut kehancuran diantara elemen bangsa di tahun puncak 2020, jika masih tetap keukeuh bin nekat menggunakan nama Indonesia. Horornya lagi…menurut nya tak ada satu negarapun yang sanggup menghadapi polaritas-polaritas negatif seperti itu. Syerem tenan euy… 😀

Nama 6

Via akun twitter nya, Doktor Arkand menjelaskan secara gamblang:

Dalam Arkand Secret Code System, nama Indonesia membentuk struktur yang sangat buruk. Dengan Syncronicity 0,5 dan Coherence 0,2 disertai Composition of  Character yang buruk membentuk negara yamg secara bertahap kehilangan harga diri kebangsaannya, ketidakmampuan bernegara dengan baik, dimana unit-unit pemerintahan lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri melalui segala cara. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme adalah warna yang sangat jelas terlihat.

Syncronicity 0,5… menunjukkan bagaimana negara ini tidak mampu melihat dan memanfaatkan kesempatan dengan baik meski memiliki sumber daya alam yang luar biasa.

Coherence 0,2 …juga menunjukkan bagaimana negara ini tidak mampu memenuhi kebutuhan nya sendiri, adalah hal yang mengenaskan negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia masih mengimpor garam (dan masih banyak lagi daftar ketidakmampuan sebagai negara)

Memiliki Momentum Stream 0,8125 dengan Harani 8 adalah tanda bahaya besar akan hancurnya negara besar ini. Garis waktu menunjukkan periode 2014-2023 dengan puncak negative ada di 2020 akan mengarahkan pada kehancuran total (masa yang lebih buruk dari 1994-1998 dimana berakhir dengan turunnya Presiden Soeharto dan jatuhnya Orde Baru)

 

======================================================================

Njur…sebenarnya bagaimana sih metode dan cara kerja otak atik nama versi doktor Arkand ini sih?

Nama 4

Dalam sistem kerjanya, otak akan membedakan antara visual dan non visual. Gambar dan kata. Gambar hanya akan menggunakan tiga bagian teratas dari klasifikasi susunan otak. Sedangkan kata, menggunakan seluruh element penyusun. Nama adalah kata atau suara.
Awalnya ribet dan ga praktis menghitung dengan coret coret dikertas, diciptakanlah sebuah sofware yang bisa menggantikan metode ortodoks tadi. Arkand Series. Cukup ketik kan nama lengkap dan tanggal lahir…dan jreeeng…sebuah hasil akan terpampang dilayar. Dan dari beberapa parameter itulah, analisa sebuah nama bisa disimpulkan. Apa saja parameternya sih? Seperti dikutip dari situs pribadinya…parameter-parameter pembentuk sebuah struktur nama terdiri dari:

Nama 5

1. Harani.
Ini parameter krusial. Akhir dari hasil keseluruhan kode dalam nama. Dibagi menjadi jangka panjang dan jangka pendek. Harani buruk bermain di 5,7,8,9.11 dan 13.
2. Syncronize value
Parameter ini menunjukkan hubungan kode dalam diri sendiri dengan kode dari luar. Dalam kehidupan, parameter ini menunjukkan kemampuan seseorang memanfaatkan ruang dan waktu. Ini ada di rentang 0,05 sampai 1,0. Sedangkan SV yang positif ada diangka 0,8 sampai 1
3. Coherence Value.
Ini ada di rentang 0,1 sampai 1,0. Sedangkan SV yang positif ada diangka 0,7 sampai 1
Parameter ini menunjuk kan kemampuan seseorang dalam menguasai suatu bidang ketrampilan atau bahkan multi talent. Semakin tinggi nilainya, semakin joss gandhos.
4. Acoustic Root.
Parameter ini menunjukkan potensi atau kecenderungan pada hal positif dan negatif. Ada 22 accoustic root. Bersama Time, parameter ini yang bertugas membentuk harani.
4. Obstacle 3.
Parameter yang mengindikasikan potensi cacat baik oleh suatu penyakit ataupun kecelakaan.
5. Momentum stream.
Parameter yang menunjukkan tingkat keutuhan dari keseluruhan kode-kode struktur. Ada di rentang -1 +1. Rentang positif ada di 0,6 sampai 1. Semakin tinggi nilai momentum stream, maka akan semakin bagus, semakin besar potensi keberhasilan. Namun yang membedakan adalah sv, cv, composition of character dan harani.
6. Sinergy.
Ada di angka 0%-100% sinergi terkuat di 70%-100%. Terbentuk oleh kombinasi accoustic Root, Time, Synchronize Value, Coherence Value dan Composition of Character.
7. Productive.
Menunjukkan tingkat produktifitas dalam keseluruhan kode. Ada di kisaran 0%-100% terbaik di 70%-100%.
8. Time.
Menunjukkan potensi atau kecenderungan pada sisi positif atau negatif yang terdapat dalam waktu. Ada 3.456 basic of timeline.
9. Composition of Character.
Menunjukkan kualitas dan tipe karakter. Ada a 185 milyar komposisi karakter. Dalam kehidupan, ini parameter yang mengindikasikan kemampuan seseorang mengoptimalkan hasil maksimal dari usaha serta meminimalisir potensi kerugian atau kesalahan.

==================================================================

Pungkasan…pada akhirnya semua kembali ke individu masing-masing, untuk sekedar mempercayai atau tidak, meyakini atau sangsi. Yang jelas…manusia hanyalah ibarat sekumpulan debu dalam dimensi tata ruang semesta raya… dan semua energi yang menaungi kehidupan ini berasal dari satu sumber pemberi…Sang Khalik.

==================================================================

*disarikan dari Kick Andy Show

Siapapun Presiden Terpilih Nanti…Bersiaplah Merasakan Sensasi “Air Force One”.

Gelaran pemilu baru saja usai. Pesta demokrasi yang konon katanya menghabiskan dana tak kurang dari 40 trilyun rupiah kini memasuki tahap selanjutnya yakni penghitungan suara. Bagi bagi jatah kursi parlemen. Kursi prestisius berlabel wakil rakyat. Kursi buat orang orang terpilih dan (katanya) terhormat. Dan manusia terpilih inilah yang nantinya (dengan berbagai manuver politik tentunya) memilih (tepatnya menjagokan) calon sang RI1. Sang Presiden. Pemilu lagi. Lagi-lagi pemilu. Biaya lagi. Lagi-lagi biaya. :mrgreen:

Sebagai warganegara yang baik hati dan tidak sombong, terlebih punya hak pilih…gue pun dengan antusias ikut mencoblos. Perkara mencoblos, bukan hal baru buat gue. Berapa kali? Entahlah, gue sendiripun udah kaga ingat. 😀 Dan seperti kebiasaan gue yang sudah-sudah, gue tak perlu berlama lama dibilik suara. Lha?! Jargon pemilu yang jujur dan adil terus terngiang di kepala gue, alhasil…demi dan atas nama keadilan, gue coblos semua mua nya kertas suara. Adil. 😀

Sepak terjang para anggota dewan yang terhormat ini, belakangan betapa mengusik sisi sinisme dan melahirkan pesimisme. :mrgreen: Satu suara kita sangat menentukan nasib calon anggota dewan ini nantinya. Tentang…berapa milyar rupiah yang akan mereka korupsi…berapa mobil mewah yang akan mereka koleksi…berapa wanita cantik yang akan mereka selingkuhi. :mrgreen:

Dan dengan gue mencoblos, salah satu jari gue akan berstempel sah, tanda udah mencoblos. Dan ini motivasi gue. Lha?! Dengan kelingking yang sudah berstempel, gue akan dapat diskon di toko atau gerai pendukung anti golput. Lumayan kan?! Buat gue ini penting! Juga gue akan lolos dari interogasi sang penyerang fajar yang udah susah payah menembus barikade para peronda malam, hanya untuk menitipkan suara pilihan untuk dibarter dengan beberapa kg beras, minyak goreng, mie instant dan kaos partai. Percayalah, serangan fajar itu memang benar-benar ada.

———————————————–

Back to topik. Pesawat kepresidenan. Seperti dilansir dari laman portal berita…

113025620140410-101416340x340

 

JAKARTA, KOMPAS.com — Pesawat baru untuk operasional presiden RI, Boeing Business Jet 2 (BBJ2), telah tiba di Jakarta, Kamis (10/4/2014). Selama ini, belum diketahui berapa harga pesawat tersebut. Informasi angka yang beredar berbeda-beda. Sebenarnya, berapa uang negara yang keluar untuk membeli pesawat itu?

“Harga sekitar Rp 840 miliar,” kata Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi kepada wartawan di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis.

Berdasarkan rilis yang diterima wartawan, harga satu unit pesawat tersebut, yakni 89,6 juta dollar AS atau dalam kurs rupiah Rp 847 miliar. Harga itu sudah termasuk fabrikasi, modifikasi interior, dan modifikasi lainnya yang diperlukan.

Meski harga pesawat relatif mahal, Sudi menyatakan, membeli pesawat baru lebih menghemat anggaran negara dibandingkan menyewa pesawat komersial. Selama ini, pemerintah menyewa pesawat milik Garuda Indonesia untuk operasional Presiden.

“Perhitungan yang dilakukan dengan cermat oleh pemerintah, penghematan anggaran negara, selama masa pakai pesawat ini di kisaran beberapa tahun ke depan adalah Rp 114,2 miliar,” ujar Sudi.

Selain itu, tambah Sudi, dengan tidak bergantung lagi pada pesawat komersial, maka tidak akan lagi ada gangguan jadwal dan kinerja maskapai penerbangan.

“Selama ini perusahaan penerbangan harus mengatur ulang jadwal penerbangan apabila ada tugas-tugas kenegaraan yang mengharuskan menggunakan pesawat (komersial) bagi perjalanan dinas presiden,” jelas Sudi.

 

Liputan6.com, New York – Kado istimewa untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sempat tertunda sejak tahun lalu akhirnya tiba juga di Indonesia, pesawat kepresidenan jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2). Pesawat kepresidenan itu siap mengantarkan SBY dalam mengemban tugas negara baik ke dalam maupun luar negeri.Seperti dikutip dari Jet Advisor, Kamis (10/4/2014), BBJ merupakan produk hasil usaha patungan Boeing dengan General Electric (GE). Usaha patungan itu memang sengaja dibentuk demi menciptakan pesawat dengan performa unggul seperti yang kini diterima Indonesia.BBJ yang pertama kali diproduksi berhasil mengundang decak kagum para pelanggan dan sejumlah manufaktur mengingat hasil penjualannya yang jauh melampaui ekspektasi. Dikenalkan pada 2012, pesawat berbadan panjang, BBJ2 memiliki ruang interior yang berukuran 25% lebih luas dengan kapasitas bagasi ganda.Pesawat yang juga dikenal sebagai generasi 737-800 ini memang berukuran 19,2 kaki lebih panjang dibandingkan jenis 737 yang telah sukses sebelumnya.Mampu bepergian dengan ukuran yang besar, BBJ2 memiliki tenaga kuda yang tangguh. Pesawat megah itu digerakkan dua mesin turbofan General Electric/Snecma (CFMI) CFM56-7. Masing-masing mesin tercatat bertenaga 27.300 lbs.Pesawat tersebut dapat melaju sejauh 5.750 mil laut dengan kecepatan Mach 0,82.Kokpit BBJ2 dilengkap dengan sistem avionik digital Honeywell dengan tiga ORS dan komputer pendataan penerbangan ganda. Panel pesawat diletakkan di tengah enam monitor LCD EFIS berukuran besar.Kokpit canggih BBJ2 juga dilengkapi FMS ganda, Rockwell Collins Series 900 VHF comm/nav ganda dengan DME, HF comms, ADF, GPS, MLS dan radar cuaca tipe WXR-700X weather radar. Salah satu model terbaru Flight Dynamics HGS 2000 HUD juga melengkapi kemewahan pesawat tersebut. Dirancang demi menjaga kenyamanan penumpangnya, BBJ2 sangat mirip dengan B737. Keduanya sama-sama memiliki sayap rendah, mesin yang diletakkan di bawah sayap dan pendaratan yang sempurna di gigi tiga.Pesawat itu juga mampu menempuh jarak yang sangat jauh mengingat BBJ2 dilengkapi sembilan tangki bahan bakar tambahan.Kabin BBJ2 dapat menampung 60 penumpang dengan konfigurasi yang luas. Meski demikian, kabin pesawat dioptimalkan hanya untuk delapan penumpang dan memberinya ruang lebih luas.

Berbicara soal desain interior BBJ2, tak diragukan lagi, para penumpang bisa langsung merasakan kemewahannya. Desain interior yang megah dan mewah juga menjadi bagian dari tingginya harga BBJ2.

Maklum, salah satu fitur pesawat tersebut adalah ruang pertemuan yang unik dan lengkap. Di dalamnya, para penumpang juga dapat menggunakan kamar mandi berukuran besar lengkap dengan shower.

Tak hanya itu, kamar lengkap dengan tempat tidurnya juga disiapkan guna menjamin kenyamanan tidur penumpang. Bepergian menggunakan BBJ2 bagaikan membeli apartemen pribadi.

BBJ2 juga menawarkan kecepatan dan sistem operasi yang berasing. Pesawat berbadan panjang ini sangat cocok untuk para pengusaha yang mendambakan perjalanan produktif dengan ruang kerja di dalamnya.

(Nurseffi Dwi Wahyuni)

 

Ini kali pertama, Republik ini mempunyai pesawat kepresidenan, setelah sekian lama menyewa dari maskapai penerbangan domestik. Salah satu alat kelengkapan pemerintahan yang diharapkan jadi simbol negara. Rasanya memang terlalu lebay dan memaksakan diri jika membandingkan nya dengan Air Force One nya Uncle Sam. Bagaikan metromini bersanding dengan bus patas AC RSS. :mrgreen: Ono rego, ono rupo. Harga menentukan kualitas. Padahal pesawat ini harganya ga main main lho. 😀  840milyar rupiah. Nominal segitu jika dibelikan sepeda motor akan mendapatkan 56.00 unit, dengan asumsi per unit 15jt. Dan jika di bentangkan, dengan perkiraan satu motor mengambil space 2meter, akan memakan 112km, jarak Jakarta – Sukabumi. Dahsyat bro… 😀 Bandingkan dengan Air Force One yang bernilai hampir 3 trilyun rupiah. Waah jiaaan…mumet ngehitungnye. Itu duit semua lho…asli pulak. 😀

————————————————-

Lantas, apa saja fasilitas yang diberikan Air Force One kw ini? Layaknya pesawat kepresidenan, pastinya pesawat ini di desain khusus untuk menunjang tugas-tugas sang RI1. Bahkan dalam situasi genting sekalipun, perang misalnya…tugas Presiden tetaplah vital. Komunikasi unlimited dengan bawahan, prioritas penerbangan, serta akses akses premium adalah mutlak. Adalah terlarang jika komunikasi sang presiden di sambut dengan kicauan mbak Veronica. Fatal jika presiden mau telpon menteri pembantu terdengar nada tulalit…tulalit. Cukup kita saja yang merasakan sibuknya tulalit dan desahan Veronica :mrgreen: karena memang itulah kenyataanya.
Selain itu, aneka instrument dan property pesawat pastinya high class. Kelas satu. Bahkan konon kabarnya…untuk satu sofa saja bernilai 2 milyar.

 

Pembelian interior pesawat dinilai berlebihan senilai Rp 243 miliar. Juga harga satu kursi yang menyamai biaya pembangunan dua sekolah dasar. Koordinator LSM Bendera, Mustar Bonaventura, mengungkapkan keresahannya soal harga kursi yang dibayarkan pemerintah untuk mempercantik pesawat kepresidenan di Jakarta, Minggu, (26/2/2012).

“Jadi jika diasumsikan ada 100 kursi di dalam pesawat maka harga rata-rata tiap kursi senilai Rp 2 miliar. Sementara Rp 43 miliar lainnya untuk tempat tidur, wc, meja, televisi, dapur, tangga dan lain-lain. Harga kursi Rp 2 miliar itu setara dengan membuat 2 SD permanen dengan 6 ruang kelas, satu ruang guru, satu ruang kepala sekolah dan satu lapangan voli atau Badminton,” bebernya.

Mustar Bonaventura merinci jika satu kelas rata-rata berisi 40 siswa maka setiap SD bisa menyekolahkan 240 siswa. Tapi jika kegiatan sekolah dibuat dua kali dalam satu hari yaitu pagi dan siang maka tiap SD bisa menampung 480 siswa atau 960 siswa untuk 2 SD.

“Dengan demikian jika seluruh biaya kursi itu di gunakan untuk membangun SD maka ada 9.600 anak yang bisa bersekolah. Jika tiap bangunan bertahan rata-rata 10 tahun maka dengan harga 100 kursi pesawat Presiden bisa menyekolahkan 96.000 siswa,” paparnya.

Menurut Mustar Bonaventura pembelian pesawat kepresidenan dengan harga yang fantastis ini tentu menyakiti rasa keadilan rakyat Indonesia yang saat ini sebagian besar masih hidup dalam kemiskinan.

“Keputusan membeli pesawat kepresidenan di saat Indonesia masuk peringkat 5 terbesar di dunia dalam jumlah Balita kurang gizi yaitu 900.000 balita, merupakan keputusan tanpa akal dan nurani,” lanjutnya.

Mustar mencoba mengingatkan soal pesawat yang dibeli rakyat Aceh untuk Soekarno yaitu pesawat Seulawah 001, tidak digunakan untuk pesawat kepresidenan tetapi menjadi pesawat perintis untuk membuka wilayah Sumatera.

BoeingBusinessJet-2 158091_big Airbus-319-Corporate-Jet-Owner-Vijay-Mallya-2

(sumber)

Ediyaaan tenan. :mrgreen:  Jangan bayangkan kenyaman dan keamanannya. Jangan bayangkan juga…pesawat ini kan di desain loss bak…alias kargo seperti pesawat kepresidenan Iran. …penghematan dan income negara, inilah yang menjadi alasan Ahmadinejad.
Juga, pastinya pesawat ini dibekali dengan teknologi anti misil dan anti rudal. Kalo perlu juga anti huru hara dan anti santet. 😀

———————————————-

Satu hal yang menjadi tanda tanya gue (dan mungkin juga sampeyan) adalah warna biru di sekujur badan pesawat. Ini warna yang sangat tendensius. Khalayak ramai menyebutnya sarat muatan politis. Agaknya sang pemesan lupa bahwa, negara ini sudah kadung sepakat untuk dwi warna…merah putih. Sang pemesan mungkin khilaf sejarah, tentang asal muasal gula kelapa nya laskar Majapahit. Sang pemesan mungkin kurang pemahaman patriotik tentang merah darahku putih tulangku.
Ah, warna aja dimasalahin? Kan bisa dicat ulang? Logikanya emang begitu. Tapi jika ini menyangkut niat dan kepentingan, bukan tidak mungkin nantinya pesawat ini akan benar-benar galau dan susah move on. Ganti presiden ganti warna. Sebentar biru, kemudian kuning, terus merah, ijo, kelabu, ungu…persis warna balon. Jika sampai terjadi demikian, sungguh pesawat yang malang. :mrgreen:

112659720140410-101301780x390

———————————————————

Pungkasan…Pesawat memang sudah take off dan kini berhanggar di Halim Perdanakusuma Jakarta. Operasional dan maintenance pesawat dikendalikan oleh Skuadron TNI AU dan Garuda Indonesia. Tentunya bolehlah kita menaruh sedikit harapan demi kemakmuran negeri ini, agar semoga siapapun presiden terpilih nanti…
— Tak berlama lama dan menyegerakan mengunjungi daerah bencana macam Sinabung, Merapi dan Menado…serta daerah rawan konflik, agar penanganan nya cepat dan tidak berlarut larut.
— Sering-seringlah blusukan ke daerah perbatasan negara tetangga. Daerah yang terpinggirkan. Daerah yang minim perhatian dan belaian. Bukan tidak mungkin, dari sinilah muncul separatis-separatis pengancam integritas.

————————————————–

“Halim Tower… this is Indonesian Air Force One… request for landing… “
“Indonesian Air Force One… this is Halim Tower… clear for landing… have a nice landing and welcome home… “

Tak Seharusnya Mereka Berada Disana…

Malam itu langit begitu sangat bersahabat. Tidak nampak awan gelap yang selama beberapa bulan ini begitu sering singgah seperti hendak  menggulung angkasa. Cerah. Namun seberkas mendung tiba-tiba datang menyergap, menusuk perasaan gue. Hati gue mendadak galau.
Jam 10 malam. Traffic Light Pesing Angke. Dari sinilah cerita bermula. Gue tertegun.

IMG-20140311-00719

Sekelompok, tepatnya tiga bocah belasan tahun dengan santai dan tanpa perasaan sedikitpun nongkrong di area lampu merah. Bukan di median jalan atau bahu jalan melainkan tepat dibadan jalan. WTF!!! Dari penampilanya bocah-bocah ini nampaknya bukan dari jenis (maaf) gelandangan. Pakaian mereka bersih, jauh dari kesan kumal. Mereka dengan santainya mengacuhkan ramainya lalu lintas. Asli ga habis pikir gue, bahkan segelandangan bagaimanapun, asal waras, kayaknya pasti mikir2, kalo nongkrong semacam itu. Padahal gue paham betul, jalur Tubagus Angke sarat dengan hilir mudiknya truk truk super jumbo, trailer pengangkut peti kemas. Mereka ga paham bahwa mereka bisa saja menjadi obyek kejahatan dan tindak kekerasan. Mereka juga ga menyadari, bahwa sewaktu-waktu maut bisa saja mengintai diam diam. Jiaaaan…ora mikir babarblas. :mrgreen:

Sejenak gue mengamati dari belakang zebra cross aktifitas ketiga bocah itu. Ga ada yang istimewa. Mereka cuma nongkrong, sambil sesekali tertawa lepas. Namun yang membuat gue bener-bener speechless…mereka ini semuanya perempuan dan merokok! Damn! Antara miris, sedih, trenyuh, prihatin, marah, kecewa campur baur mengaduk aduk perasaan gue. Tetiba gue galau. 😦

Jika ukuran nya anak gue yang jam segitu udah terlelap tidur, gue jelas prihatin dan sedih. Jam sembilan malam adalah limit waktu yang diberikan kanjeng mami kepada anak gue untuk menikmati malam. Tak sepenuhnya karena itupun masih diselingi dengan belajar. Jika mereka gelandangan, gue wajib trenyuh membayangkan mereka tak seberuntung anak gue. Jelas tuduhan gue ga berdasar, jika mengamati pakaian mereka yang bersih.

Namun…mendadak gue dihinggapi perasaan amarah mendekati murka. Jelas mereka terlahir ke muka bumi ini tidak dengan proses sulapan, bim salabim jadi. Ada orangtua sebagai prakarsa. Orangtua sebagai perantara Tuhan. Lantas kemana orangtua mereka? Sibuk kah? Tidak pedulikah? Orangtua memang harus sibuk, selama berjerih payah untuk keluarga. Orangtua wajib mempraktek kan idiom… kaki jadi kepala, kepala jadi kaki, jika orientasinya adalah berkesinambungan nya roda ekonomi keluarga. Tapi jika harus melupakan tanggung jawab akan bentuk perhatian dan kasih sayang kepada anak, sungguh merupakan orangtua yang lalim dan kejam. Bedebah! :mrgreen: Status orang tua hanya keterpaksaan belaka. Anak adalah titipan Tuhan untuk kelanjutan silsilah keluarga dan juga bagian dari sebuah generasi penerus. Jika orangtuanya saja sudah apatis terhadap anak sendiri, bagaimana orang lain? Kasihan, jika anak hanya akan menjadi beban masyarakat, dan berpotensi merecoki anak anak baik sebayanya. Iba, jika terpaksa kita menjumpai anak-anak yang terpinggirkan, terbiarkan terpojok di sudut-sudut kehidupan. Sulit membayangkan jika anak perempuan itu kelak juga akan melahirkan generasi sama kelamnya. Jiaaaan…tepok jidat tenan. :mrgreen:

Lha, trus masalah buat gue apaan? Toh mereka bukan bagian keluarga gue, ga ada sangkut paut pertalian darah ama gue? Memang, itu benar adanya. Bagaimanapun sikap dan perilaku mereka ga akan ngefek di kehidupan real gue. Tapi, gue yakin akan ada rentetan peristiwa berkelanjutan jika kita terus bersikap masa bodoh. Pembiaran kita sama seperti kita mengamini perilaku mereka.

Sebelum traffic light berganti warna hijau, setengah berteriak gue bilang,

“Hei, pulang! Nongkrong jangan disitu! Mau cari mati?!!!

Sengaja gue pake kalimat agak frontal, mengingat terus berkurangnya waktu delay traffic light. Pekik klakson bersahutan seperti menenggelamkan suara gue. Traffic light sudah nyala hijau. Sejenak mereka menoleh kearah gue. Entahlah, mereka paham apa kagak maksud gue, yang jelas gue sudah berusaha menjauhkan mereka dari bahaya. Berarti atau tidak itu urusan mereka. Dan gue pun perlahan berlalu dengan sedikit meninggalkan asa.

Pungkasan…pada akhirnya kita akan sampai di fase sebagai orangtua. Cepat atau lambat. Persiapkan diri sebaik-baiknya mengemban jabatan tanpa pelantikan itu. Tanpa bermaksud menggurui, mari kita lebih dalam membuka hati, melebarkan empati. Peduli di dalam setiap sendi kehidupan. Keluarga dan lingkungan. Belum terlambat jika kita mau memulai. Melawan ketidakpedulian. Melawan apatisme.

Salam perubahan.

Supporter Bola…Fanatisme dan Etika.

0000132852

Sepakbola. Lebih diingat dengan bola. Siapa orang di negeri ini yang tidak kenal sepakbola.? Mungkin segelintir. Ini negeri dimana sepakbola adalah olahraga penuh gairah. Melahirkan energi. Membius siapa saja. Belum begitu lama rasanya moment dimana banyak ibu-ibu yang mendadak mengidolakan Christian Gonzales, ataupun cewe-cewe yang tiba-tiba histeris menggilai Irfan Bachdim. Dan era itu berlalu, sekarang berganti dengan hingar bingar fenomenalnya Evan Dimas dkk dengan Timnas U-19 nya.

Meski sepakbola nasional kita minim prestasi, namun eksistensinya tak bisa disangkal dan tetap menduduki peringkat teratas olahraga terpopuler diantara cabang olahraga yang beberapa sempat mencuatkan nama Indonesia. Fakta bercampur ironi. Antusiasme penonton tetap tinggi menjurus fanatisme. Ditambah dengan serbuan tayangan bola gratis liga liga Eropa memunculkan abang-abang, bapak-bapak yang mendadak saja seperti begitu kenal Manchester United, Chelsea, Barcelona, Bayern Muenchen ataupun Real Madrid. Atau remaja bahkan anak anak yang begitu pandai mengkritisi pemain A ataupun bahkan mengomentari sang komentator. Pendeknya sepakbola itu seperti magnet. Dari sinilah muncul istilah supporter karbitan. Supporter pemula. Supporter penggembira penuh hura-hura tanpa memahami apa arti sebenarnya supporter.

****************************

Jatidiri, 15 Februari 2014 21:00 wib.

Perhatian…kepada seluruh penonton semua, dimohon untuk tertib dan tidak menyalakan flare, kembang api atau petasan. Tolong dimengerti, dan jika penonton tidak mengindahkan larangan di stadion, tidak tertib, dengan sangat terpaksa pertandingan tidak bisa dilanjutkan.

********************************************************

supporter 1 supporter 2 flares-di-stadion-jatidiri-semarang red flare

Antara miris, trenyuh, kecewa dan emosi. Gue bingung dengan jenis supporter model begini. Jiaaan rasane pengin mbalang watu. Belakangan memang menyalakan kembang api dan semacamnya udah kaga boleh. Ini baru game level eksebisi lho. Lokal. Persahabatan. Apa jadinya bila yang digelar pertandingan antar negara. Timnas. Sungguh memalukan.

Gue bersyukur dianugerahi kegemaran akan sepakbola. Masa kecil gue yang indah di pedalaman adalah saat bola bisa dimainkan dimana saja. Tepi sungai, tengah sawah atau pekarangan rumah. Waktu dan tempat bukan masalah berarti. Gue bersama teman kecil hanya bermodal bola yang kami rangkai sendiri dari plastik bekas. You know…tepatnya aneka macam plastik bekas yang kami kais dari tempat sampah. Walaupun sekarang hanya sebatas penonton, tapi tak menyurutkan minat akan sepakbola.

Keluar masuk stadion, mungkin gue termasuk pecandu. Gelora Bung Karno (dulu bernama Stadion Utama Senayan), Stadion Benteng, Stadion Lebak Bulus adalah stadion dimana gue dulu sering nonton. Pertama kali menginjak stadion GBK adalah saat Kurniawan bersama tim Sampdoria melawan Indonesia Selection. Gue lupa taon berapa. Masa-masa keemasan Primavera. So…bayangkan betapa tua bangka nya gue sekarang. You know. Itu dulu. Itu jaman dimana Atillio Lombardo dipuja bak dewa.

Gelora_Bung_Karno_Stadium

Jika supporter datang ke stadion, setau gue cuma mau nonton bola. Merasakan atmosfer bergemuruhnya ribuan supporter, memang sebuah sensasi tersendiri. Bagi pecinta bola sejati, ini seperti sebuah perjalanan spiritual. Menyaksikan hal hal unik seluruh penghuni lapangan adalah hal langka yang tidak bisa kita saksikan dalam tayangan tv. Kiper yang mondar mandir persis setrikaan. Atau pemain cadangan yang melakukan warming up saat jeda. Supporter itu niatnya ya nonton bola. Bukan tawuran. Bukan lempar-lemparan batu. Bukan merusak fasilitas stadion. Jadilah supporter yang santun dan beradab, tak peduli dari garis keras aliran apapun!

***************************************************************

Jadi, gimana sih supporter beradab dan beretika itu?

1. Beli tiket.

Ini hukumnya wajib. Dalam level klub, hasil penjualan tiket sedikit banyak mempengaruhi kelanjutan hidup klub yang kalian dukung. Harap dipahami, untuk mengelola operasional klub, tak jarang manajemen dibuat kalang kabut. Pernah denger ga, pemain yang telat digaji berbulan-bulan? Atau fasilitas stadion serba minim? Rumput lapangan kalo hujan persis kubangan kebo? Itulah gunanya hasil penjualan tiket. Jadi jika kalian bener-bener support ama klub dan ga ingin klub kalian bangkrut, beli tiketnya. Beli merchandise resmi. Jangan jebol tembok atau lompat pagar.

2. Respek terhadap tim tamu.

Ini wajib kedua. Tuan rumah yang baik adalah yang menghormati tamu. Sebagai supporter tuan rumah, ada etika-etika yang harus diperhatikan. Misalnya…ga boleh meneriak kan yel-yel, nyanyian yang mencela, mengintimidasi tim lawan. Bernyanyilah dengan mars kebanggan klub semampu oktaf kalian. Kalo perlu sampai keesokan hari suara kalian berubah serak. Bebas.
Dalam level Timnas yang main,(ini yang jadi keprihatinan gue) supporter wajib menghormati lagu kebangsaan negara tamu. Gimana caranya? Dengan berdiri DIAM. Sekali lagi DIAM. Bukan dengan tiup-tiup terompet seenak jidat. Satu lagi…kalian musti hafal lagu kebangsaan Indonesia Raya! Menggelikan melihat supporter langsung tiup terompet, padahal lagu kebangsaan masih menyisakan satu reff.!!!

3. No anarchy.

Ini wajib berikutnya. Jangan merusak fasilitas stadion. Apapun. Bangku, toilet dan sarana publik lain nya. Termasuk vandalisme. Jangan. Susah payah stadion dibangun dengan dana dan pikiran yang ga sedikit. Melibatkan lobi-lobi eksekutif otoritas wilayah. Jika dengan gampangnya fasilitas itu dirusak, wis jiaaaan kebangeten tenan. Ora mikir babarblas. Emang duit tinggal nimba di sumur gitu? So…nikmati fasilitas yang tersedia dan jagalah.

4. No rasism.

Maksudnya kepiye? Seperti yang kita tau, negeri ini terdiri dari berbagai macam suku yang bertebaran dari Sabang sampe Merauke. Jangan membawa suku atau ras tertentu ke ranah sepakbola, apapun motif dan bentuknya. Haram. Mengancam integritas. FIFA dengan tegas mengkampanyekan anti rasisme. Kick out racism. Bahkan denda FIFA menanti jika ada negara yang terbukti melakukan rasisme.

5. Tertib.

Mulai dari berangkat dari rumah atau camp, selama perjalanan, di dalam stadion sampai pulang. Ga usah bergerombol di jalan raya. Nunggu tumpangan. Bikin macet. Dan jangan lupa bawa uang! Ga usah banyak, asal cukup! Ini penting! Gunanya…buat bayar angkot, beli tiket, beli minum. Jangan ke stadion cuma modal dengkul doang! Supporter model begini hanya akan jadi beban masyarakat dan berpotensi…membajak truk atau angkot, menjebol pagar stadion, menjarah warung!

Gue pernah ketemu ama beberapa supporter bola. Tepatnya 3 anak tanggung berjersey klub. Di terminal Blok M. Clingak clinguk tanda kebingungan. Keberingasan gerombolan supporter kala lempar-lemparan batu, merusak fasilitas publik yang selama ini gue lihat di tv…mendadak pupus saat melihat wajah-wajah memelas ini. Ternyata mereka kesasar. Iba dan trenyuh hati gue. Gue tanya, “Pulang kemana?”
“Kalideres bang” jawab salah satu anak tadi.
“Oh, kalo gitu bareng aja ama abang” kata gue mengajak bareng karena satu jurusan. Ngobrol sepanjang perjalanan, mereka ini terpisah dari rombongan, dan gue dapati fakta bahwa mereka ini kaga bawa uang! “Kok bisa nyampe Stadion Lebak Bulus?” tanya gue terperanjat. Hampir aja biji mata gue lompat saking kagetnya. “Kami numpang truk loss bak, bang” Jiaaaan nekat tenan iki bocah. Ternyata mereka ini tidak sempat masuk stadion. Mereka tak berhasil menerobos ketatnya penjagaan petugas. Alhasil mereka hanya duduk-duduk diluar stadion. Gue bengong tanda gagal mikir.

****************************************************

25032010_85513_jakmania_300_225 13680573491893124964 10510_large supporter

Seharusnya sepakbola memang milik siapa saja. Tanpa batasan kasta dan status sosial. Seharusnya sepakbola bisa menjadi media mediasi antar kelompok warga yang hampir terkotak kotak oleh paham, aliran atau ideologi yang tak sepaham. Seharusnya sepakbola bisa dinikmati oleh semua kalangan masyarakat. Tanpa bayang-bayang kecemasan dan ketakutan. Semoga.