Ini yang Seharusnya Dilakukan oleh Produsen Sepeda Motor.

Kebutuhan akan sistem transportasi massal yang murah, efisien dan tepat waktu, hingga kini masih tetap menjadi impian dan angan angan. Disaat program Pemerintah tentang sistem transportasi massal yang seakan jalan ditempat, pabrikan sepeda motor telah dengan jitu memanfaatkan celah. Setiap tahun produksi sepeda motor terus merangkak mengalami peningkatan. Menurut data AISI, untuk kurun waktu dua tahun belakangan ini saja, total penjualan sepeda motor mencapai 14.860.016 unit. Angka yang akan diprediksi meningkat dari tahun per tahun, jika tidak dibarengi dengan kebijakan pemerintah tentang pembatasan jumlah sepeda motor.

Setiap pabrikan terlihat giat dan gigih menggelontorkan serta memasarkan aneka produk produknya. Bisa dikatakan setiap pergantian tahun, pasti ada pergantian jenis motor. Selera konsumen yang universal, nyata betul direspon pabrikan dengan cermat dan seksama. Kini varian motor tak ubahnya seperti menu warung makan. Komplit. Sampeyan ga suka pecel, ada pilihan opor ayam. 😀 Motor pun begitu. Segala jenis serta peruntukan lengkap tersedia. Yang ga suka bebek, sila pilih motor batangan atau metik. Itupun masih dibagi beberapa sub type. Jenis bebek pun terdiri dari beberapa type dan cc. Mumet kan?!

Kini motor bukan hanya sebagai alat transportasi primer selayaknya kebutuhan yang urgensi. Pelan tapi pasti, motor juga sebagai media gengsi bahkan pamer diri. Bukan rahasia lagi jika dalam dunia permotoran, terjadi user classification. Penggolongan berdasarkan kebanyakan para pengguna motor. Sampeyan tentu pernah dengar istilah: motor bapak-bapak, motor abege, motor anak muda, dan semacamnya kan?! Ini (walau bisa dibantah) yang sedikit banyak melahirkan dualisme keinginan. Alhasil, tak jarang seseorang bisa memiliki lebih dari satu motor. Dan kini siapapun bisa naik motor, tanpa batasan umur dan gender. Terlebih di jaman emansipasi modern sekarang ini, tidak heran dan lumrah jika kita mendapati beberapa wanita pun menyemplak sang kuda besi.

Populasi sepeda motor yang tak terkendali, jelas akan menimbulkan transformasi perilaku di masyarakat. Fenomena cabe cabean dan kebrutalan geng motor belakangan ini hanyalah sedikit dari ekses negatif yang ditimbulkan. Hal ini jelas selain mengundang keprihatinan juga berpotensi akan masa depan yang suram. Bukan tentang individu bersangkutan, dalam konteks yang lebih luas menyangkut sebuah generasi. Generasi yang sudah seyogyanya kita proteksi dari semua hal degradasi. Itupun kalo kita masih peduli.

Pun dalam berlalu lintas. Menyerobot traffic light, merampas trotoar, lawan arah adalah pemandangan lumrah belakangan ini. Pelanggaran berlalu lintas seperti sudah menjadi kebiasaan baru. Karut marut kehidupan jalan raya semakin runyam ditambah dengan minimnya penegakan hukum oleh aparat. Laskar Bhayangkara yang diplot sebagai garda terdepan seakan dibuat tak berdaya. Sudah selaksa kejadian demi kejadian, peristiwa demi peristiwa yang menimbulkan lara dan nestapa. Sejenak kita perlu merenung akan sebuah fakta yang tak terbantahkan yakni prosentasi kematian dari sebab kecelakaan berlalu lintas adalah PEMBUNUH TERBESAR dan menduduki ranking teratas. Bukan kanker atau masuk angin. Pilu mendengarnya, bukan?!

Video berikut ini mungkin bisa memberi kita banyak pelajaran berharga

Berbagai seminar, simposium dan diskusi lintas stakeholder sudah sering dilakukan guna mereduksi angka petaka dijalan raya. Bermunculanlah klub serta organisasi yang secara massive menyebarkan virus keselamatan berlalulintas. Langkah positif dari semua pihak ini tentunya harus kita apresiasi tinggi, walaupun kalo boleh jujur belum sepenuhnya menyentuh akar rumput. Masyarakat lapisan bawah sebagai mayoritas dari problematika kompleks.

Kini sejuta pertanyaan pun menggunung. Apakah para cabe cabean itu paham kalo cenglu (bonceng telu) itu salah? Apakah pemotor itu mengerti jika tak pakai helm itu juga salah? Apakah biker yang biasa ga menyalakan lampu sein saat belok itu tahu kalo itu salah? Apakah para pelawan arah itu mengerti kalo hal itu membahayakan? Bagaimana jika mereka melakukan aneka pelanggaran itu didasari karena ketidaktahuan mereka? Naif bukan?! Dan semua pertanyaan apakah itu akhirnya mengerucut menjadi…Siapakan yang pertama seharusnya mengedukasi masyarakat tentang cara berkendara yang baik?

Produsen motor. Ya, inilah unit pertama yang seharusnya memberi “pendidikan” keselamatan di jalan raya.

Lha, caranya bagaimana? Mendirikan sekolah khusus? Bukan! Memberikan pelatihan safety riding secara kontinyu? Bisa iya, tentu juga bukan!

Cara yang efektif dan klik adalah dengan mengeluarkan Buku Panduan Keselamatan Berkendara.

buku panduan

Mengapa justru produsen motor?

Tentu kita tidak bisa serta merta mengatakan biang keladi dari keruwetan berlalu lintas berasal dari salah satu lembaga tertentu. Ada masyarakat umum sebagai pengguna, kepolisian sebagai penegak dan kemenhub sebagai pengelola jalan raya. Kemenhub pun kalo tidak salah pernah mengeluarkan buku panduan seperti yang dimaksud. Saya juga pernah membaca Buku teori ujian sim terbitan Polda Metro Jaya yang sebagain materinya memuat tata cara berkendara yang aman. Pertanyaan nya…apakah masyarakat umum sebagai konsumen tahu? Kalaupun tahu buku itu, dimana bisa mendapatkannya? Keterbatasan daya jangkau instansi inilah yang ditengarai sebagai sumber dari “kebodohan” masyarakat.

Draft dan materi dari buku itu disusun tentu melibatkan instansi terkait, karena selain berisi teknik berkendara yang benar juga memuat pasal pasal penegakan. Lha, terus masyarakat mendapatkan buku itu caranya bagaimana?

Seperti kita ketahui, bersamaan dengan diterimanya unit kendaraan baru, kita pasti akan menerima buku service, tool standard, helm serta buku panduan kendaraan bersangkutan. Mekanismenya adalah Buku Panduan Keselamatan Berkendara itu wajib disertakan dalam setiap pembelian kendaraan baru. Sebagai media edukasi dan pemahaman berkendara yang langsung sampai ke khalayak umum. Dengan demikian masyarakat akan lebih leluasa memahami aturan cara berkendara yang benar. Kenapa mesti buku? Sebab buku setiap saat kita bisa membaca dan mempelajari isinya secara berulang-ulang. Suatu hal yang dilakukan secara berulang-ulang akan melahirkan kebiasaan. Dan bukan tidak mungkin kitapun bisa menularkan dari apa yang kita baca kepada orang terdekat kita. Penambahan pengetahuan serta penegasan, kita bisa mengikuti seminar, simposium dan diskusi seputar safety riding.

Jika Buku Panduan itu bisa di realisasikan oleh tiap-tiap pabrikan, besar harapan kita akan perubahan baru paradigma masyarakat tentang berlalu lintas. Tentu dengan ringan dan tulus hati kita berikan standing applause dan angkat topi buat para pabrikan motor. Ini bukan tentang romantisme balas budi. Ini hanya sebentuk emphatic morality dari pabrikan kepada konsumen. Terlebih regulasi otomotif nasional yang cenderung memberi ruang kepada pabrikan untuk ekspansi produk, rasanya tidak berlebihan jika kita para pengguna sepeda motorpun berhak mendapatkan pembelajaran berlalu-lintas yang benar secara komperehensif.

Pungkasan…mari kembali menemukan jati diri sebuah bangsa yang hakiki. Bangsa yang (konon katanya) beradab dan berbudi pekerti. Sudah bosan kita mendengar berbagai tragedi. Risih kita menyaksikan sesama pengguna jalan saling sumpah serapah dan caci maki. Jenuh rasanya kita melihat perilaku keras hati dan arogansi. Tertib berlalu lintas hanyalah salah satu dari sekian indikasi dari masyarakat yang cinta negeri. Individu individu yang disiplin adalah cerminan karakter sebuah generasi. Tak selamanya akan kelabu, selagi masih ada putih. Berbekal niat dan kemauan tinggi di setiap lini, tentu segala keruwetan jalan raya selama ini bisa teratasi.

Semoga.
#keep safety and be smart driver

*inspired from suara lantang dari solo*