Begini Cara Instal Downgrade Dari Windows 8 Ke Windows XP

Mumet sirahe. Mungkin itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan bagaimana perasaan gue saat itu. Galau. Kerja otak mengalami kebuntuan. Seperti ada asap mengepul keluar dari ubun-ubun. Overheat. Panas tenan. Jiaan rasane pengin nguntal menyan. :mrgreen:

Lha, apa pasalnya? Begini…salah satu PC divisi pembukuan kantor mengalami gagal system. Tepatnya ada salah satu software yang crash. Padahal PC itu sudah memakai system operasi Windows 8. Dan rekan kantor meminta gue buat ganti aja ke Windows XP. Sampai disini gue pikir no problemo. :D

Masalah bermula dari awal proses instalasi downgrade ke Windows XP tesebut. Setelah gue masukin CD installer, lha malah keluar blue screen. Asal tau aja, problema blue screen ini kadang sangat menjengkelkan dan bikin esmosih. :D Dan itu berlangsung terus menerus. Berbagai trik udah gue coba. Dari banting monitor ame ngemut keyboard. Dari scan virus ame copot pasang beberapa hardware tetep aja ter display blue screen. Tepok jidat tenan. :mrgreen:

XP Installer

Dalam kebuntuan, gue pun mengontak kawan lama yang udah biasa mainin beginian. Dan problem pun terjawab. Ternyata,,,memang khusus untuk downgrade OS ada parameter yang perlu disetting terlebih dulu via bios. Oalaaah…ya pantes kalo gitu. :D Penjabaran secara ilmu teknologi gue ga paham, kenapa bisa begitu… hanya secara teknisnya bisa di praktek kan sebagai berikut:

1. Masuk BIOS dengan menekan tombol del secara berulang-ulang bersamaan dengan saat kompi dinyalakan.

2. Klik tab Advanced-Sata Configuration. Kemudian pilih opsi IDE.

XP Installer 3

3. Save dan EXIT.

Setelah gue ikutin langkah settingan diatas dan…taraaaaaa… :D Prosesi intall downgrade Windows XP pun berjalan lancar jaya. :D

XP Installer 2 XP Installer 1
Jika ada yang iseng nanya,

“Bro, kalo buat laptop bisa ga pake trik diatas?”

Mungkin bisa. Soale gue sendiripun blom pernah coba sih. :D Hanya saja menurut penerawangan…kebanyakan laptop sekarang ini sudah mengusung OS Windows Vista dan sejenisnya termasuk Windows 8. Ini dibekali dengan AHCI yang tidak mengenali IDE pada hard disk. So…bagi Laptop’ers yang sudah kadung cinta mati ama XP dan kepingin ganti OS, bisa dicoba deh. Coba kan ga bayar :D Masalah hasil…kembali kepada amal dan perbuatan masing masing. :D

Demikian artikel sederhana ini, semoga bermangfaat dan kompi tetep membawa berkah. :D  Ciaaoooo….

(Review Product) Yamalube Carbon Cleaner…Untuk Performa Optimal.

Tak terasa akan menginjak awal tahun ke delapan, kebersamaan gue dengan Sakawuni. Sengaja motor gue namain demikian bukan tanpa sebab. Entah mengapa gue agak sedikit terobsesi dengan karakter Sakawuni dalam epic sandiwara radio Tutur Tinular besutan S.Tidjab. Lugas, dan sedikit liar, namun welas asih dan suka menolong kaum tertindas. :D  Dan karakter itulah yang gue rasa cucok dengan motor bebek tunggangan gue ini. Responsif dan meledak ledak. Khas overstroke.

Sakawuni inilah teman yang selalu setia menemani segala kegiatan dan keperluan gue selama ini. Ke kantor, antar anak sekolah, antar kanjeng mami ke pasar atau sesekali kuajak touring lintas kota Jabodetabek. Bahkan dalam beberapa kesempatan malah kuajak mudik ke kampung. Lengkap dengan wira wiri di seputaran Sindoro Sumbing. Perlakuan gue ke Sakawuni ini biasa saja cenderung kalem. Hanya kadang-kadang Sakawuni ini pernah gue perkosa dengan semena-mena. Bayangkan…gue pernah menjambak Sakawuni ini pada gear 2 sampai kecepatan 70km/jam. Alhasil doi teriak overlimit. Kejam banget ya gue. :D

Sakawuni ini gue biarkan saja apa adanya. Orisinil. Standard. Gue emang ga minat dan tertarik buat oprek-oprek motor mendongkrak performa atau apapun bau modifikasi. Gue biarin alami aja. Modifikasi paling  ekstrim yang pernah gue lakuin yakni menempelkan stiker motoGP dan ganti tutup pentil ala misil. Itu doang. Dan itu sudah cukup menambah sugesti gue, kalo Sakawuni tetaplah gesit dan lincah. :D Dan sudah menjadi kewajiban gue ke Sakawuni untuk selalu ganti oli secara berkala dan minum oplosan. Bukan oplosan ciu campur tape bro, :D Terkadang pertamax, tak jarang pula premium kalo lagi tanggung bulan. :D
Hingga tanpa gue sadari sekarang odometer motor sudah nangkring di angka 62323. Angka yang lumayan panjang. Angka yang jika ditarik garis lurus kurang lebih 4 kali pulang pergi jarak Jakarta ke Mekah. Artinya sudah 4 kali pula Sakawuni naik haji. :mrgreen:

YCC 1

Property apapun yang kita gunakan tentunya membutuhkan perawatan secara murni dan konsekuen berkala dan kontinyu. Agar performa tetap terjaga. AC saja tanpa kita bersihkan dan rawat akan menjadi barang tak berguna. Pun demikian dengan motor gue.
Seorang teman menyarankan agar gue pake produk penjaga stamina motor. Semacam vitamin, katanya. :D Awalnya gue agak sangsi, namun apa salahnya gue coba. Dan do’i menunjuk satu produk yakni Yamalube Carbon Cleaner. Produk ini (katanya) ampuh membersihkan kerak-kerak hasil sisa pembakaran. Wah, ini dia, pikir gue antusias. Terlebih dengan cara pakai yang sangat gampang. Tinggal lhep. Tinggal tuang di tangki motor, dan biarkan cairan ini bekerja. Tak pake lama, gue pun mendapatkan barang itu. Dengan bahan bakar full tank, gue cekokin Sakawuni dengan sebotol Carbon Cleaner itu. Makglegeg. :D

 

YCC

Trus testimoninya bijimane? Instantly gue belom dapet feel apapun dari pasca pemakaian produk itu. Baru setelah pemakaian full tank BBM motor gue habis, perlahan bisa gue rasakan bedanya. Tarikan motor bisa gue rasakan menjadi enteng dan responsif, terindikasi dari mudahnya rpm mencapai peaknya. Setiap perpindahan persneling, tenaga motor terasa berisi. Pokoke nendang. Alhasil untuk mencapai limiter tak butuh waktu lama. Jiiaaaan mantep tenan coooyyy… :D

Jika ada yang iseng nanya, “motor gue kan bikinan pabrik sebelah tuh, bisa ga kalo gue pake Yamalube Carbon Cleaner itu bro?” (Masih menurut temen gue itu), “ga majalah bro, motor apapun bisa, mau motor bikinan Hongkok kek, Arab kek, metik, sepot atawa bebek”. Pendeknya produk ini terbuka dikonsumsi semua motor lintas pabrikan, tak memandang kasta dan derajat motor. Cucok lah kalo begetooohh… :D

Pun, jika ada yang nanyain, “trus, cara kerja Carbon Cleaner ini bijimane sih, bro?” “Trus, ane musti pake pertamax atawa Premium jika mau dicekokin Carbon Cleaner itu bro?” “Trus kerak-kerak yg berhasil dilunturkan dari ruang bakar larinya kemane dong?”

pistonseizeda

Penjelasan singkatnya begini:

1. Tuangkan 1 botol Carbon Cleaner dengan 3-4 liter bahan bakar. Pas banget takaran tersebut dengan motor metik dan bebek yg kebanyakan bertangki BBM dengan kapasitas 3 atau 4 liter. Untuk motor sport, sampeyan butuh 2 botol Carbon Cleaner, secara kapasitas BBM motor batangan ini lumayan besar.

2. Selama pemakaian Carbon Cleaner ini, usahakan sesekali sampeyan tarik gas secara penuh. Full throttle. Dan jangan kaget jika sampeyan mendapati asap hitam mengepul dari knalpot. Itu pertanda bahwa cairan sedang on progress, bekerja maksimal merontokkan kerak-kerak yang bersemayam pada ruang bakar.

3. “Trus apakah gue musti pake ni produk tiap isi BBM, bro?” Anjuran penggunaan Carbon Cleaner ini untuk pemakaian setiap 3000km. Itu udah recomended dari pabrikan. Jadi sampeyan ga perlu menambahkan cairan ini tiap isi BBM. Bisa jadi akan mubazir.

4. Pemakaian Carbon Cleaner menggunakan Pertamax atau Premium? Sebelumnya kita musti tau dulu sifat, karakter dan jenis kedua BBM familiar ini. Secara garis besar kedua jenis ini sama, hanya untuk Pertamax adalah jenis Premium yang sudah di beri additive. Ada zat tambahan khusus. Additional chemical ini yang menyebabkan tarikan motor menjadi berbeda jika dibandingkan dengan Premium biasa. Itulah salah satu alasan kenapa jenis Pertamax biasanya lebih mahal. Dari sini tentu sampeyan bisa memutuskan mana yang terbaik untuk pemakaian pertama dengan Carbon Cleaner ini.

5. Yang perlu di ingat yakni, bahwa Carbon Cleaner ini BUKAN untuk menambah kecepatan motor, melainkan mengembalikan power motor seperti semula. Restorasi gitu deh. :D Seperti kita ketahui bahwa dalam perjalanan proses pembakaran, tentunya meninggalkan residu dan endapan dalam ruang bakar yang lambat laun akan bertumpuk membentuk kerak hitam. Ini salah satu biang kerok yang mengakibatkan performa motor menjadi loyo dan ngempos. Dan juga salah satu sebab yang mengakibatkan motor menjadi boros BBM.

Demikian review singkat dari pemakaian Yamalube Carbon Cleaner ini. Semoga bermanfaat dan motor semakin membawa berkah.

Pungkasan…review singkat ini tidak manjur dan berguna bagi biker yang fanatik dengan merek tertentu. :D Ciaooo…. :P

Pulang Kampung… (Misteri Pulang dan Pergi)

 

Fajar menyeringai, pagi berseri cerah mengawali hari. Udara dingin berangin masih belum enyah dari penghujung Agustus. Logikanya ini masih di musim kemarau, tapi sesekali hujan tanpa permisi datang juga mengguyur tanah. Melunturkan debu di dedaunan. Cuaca akhir-akhir ini memang susah diprediksi. Hujan datang kadang tak pasti. Sesuka hati.

Saya masih di depan pawon (tungku perapian) sekedar menghangatkan badan dan menikmati secangkir kopi panas, ketika handphone saya berdering diatas meja. Walau agak malas, tak urung saya pun menyapa suara hallo di seberang. Seorang kolega menanyakan kapan kembali ke kota. Aah…baru saja saya menginjak kan kaki kembali di bumi tumpah darah, pikir saya. Segera setelah urusan saya di kampung selesai. Begitu jawaban saya. Singkat, padat dan jelas. Jelas jawaban itu mengisyaratkan bahwa saya tak berminat berlama-lama dan ingin secepatnya menyudahi pembicaraan dengan kolega saya. Agaknya kolega saya pun maklum. Setelah ber tengkyu ria, do’i pun menutup pembicaraan.

mudagrafika for wordpress mudik 7

Pawon itu masih membara. Membakar kayu-kayu. Bara panasnya mendidihkan air di ketel. Masih seperti bertahun-tahun sebelumnya, simbok saya dengan telaten menjerang air, menanak nasi dan mematangkan sayur. Pawon itu masih nyaris sama bentuknya ketika saya meninggalkan kampung. Memang ada sedikit gompal dan retak disana sini. Maklumlah pawon itu terbuat dari tanah merah yang diliatkan kemudian dikeraskan. Mungkin terantuk kayu bakar atau wajan yang salah taruh, pikir saya. Dan kini pawon itu masih tegar ditempat semula. Siap melaksanakan tugas. Sesekali tangan saya menambahkan kayu baru ketika nyala api agak redup. Ada kegairahan tersendiri ketika melihat nyala api semakin membesar.

Pawon itu masih tampak sederhana, tapi pawon itu tetaplah barang berharga buat keluarga kami. Di Pawon inilah tempat kami sekeluarga mendiskusikan bila ada hal-hal penting. Jika ada sanak saudara berkunjung dan bermalam, maka pawon lah tempat yang potensial merekatkan jalinan kekerabatan. Lengkap dengan the panas dan gula merah. Bersamaan dengan bunyi kokok ayam di pagi buta, almarhum bapak adalah orang pertama yang menyalakan api permulaan. Kemudian disusul simbok yang bergegas menyiapkan segala keperluan anggota keluarga. Dan seluruh ritme kehidupan keluarga ini berawal dari nyala api di pawon ini.

Saya meneguk kopi panas. Tepatnya menyeruput. Terlalu bernyali jika saya menenggaknya panas-panas. Tiba-tiba saya dihinggapi perasaan benci tapi rindu. Rindu tapi benci. Sebentuk romantisme yang membelenggu, khas rasa yang bersemayam di jiwa yang sedang terpanah asmara.

mudagrafika for wordpress mudik 8

Semua berawal dari kota. Semua hal apapun tentang kota…hanya semakin menegaskan bahwa betapa sangat indahnya kembali ke desa. Hanya dengan pergi, kita akan merasakan betapa bermaknanya pulang. Itulah kenapa mendadak saya terpaksa maklum dengan saudara saudara kita yang tetap berjuang mengupayakan agar tetap bisa mudik. Tak peduli walaupun harga tiket transportasi menjadi melambung tinggi menjelang tradisi tahunan itu. Tak peduli meski bertransportasi sendiri dengan bermotor, menyabung nyawa mengorbankan faktor safety.

Semua hal tentang kota…semakin membuat cara pandang kita tentang desa menjadi lebih berharga. Kokok ayam di pagi hari, suara jangkrik dan serangga malam adalah nyanyian alam yang membuat rindu. Saya ga bisa merasakan perasaan gaib ini justru tatkala saya masih tinggal di kampung. Semua berlalu begitu saja. Betapa suara kokok ayam ini kini begitu saya nikmati syahdu sekali. Kini semua gambaran wajah desa sepenuhnya adalah potret mahal yang tidak akan saya temui di kota. Pendeknya setiap denyut nadi kehidupan kampung bisa saya rasakan detaknya. Bapak-bapak yang masih setia menenteng sabit dan memanggul pacul. Anak-anak yang masih menyapa malu-malu kemudian lari adalah hal yang membuat senyum. Di kota, walaupun ada tetangga yang memelihara ayam dan seringkali berkokok, saya menganggapnya sebagai hal yang biasa. Ga ada chemitsry. Biasa saja.

Inilah pentingnya membuat sudut dan jarak pandang. Sama seperti gunung di kejauhan yang nampak biru, anggun dan mempesona. Padahal jika didekati, segala keanggunan gunung terbentuk dari beberapa gundukan bukit, pepohonan yang tidak sama tinggi dan jenis, serta ngarai ataupun jurang. Sama seperti dua saudara yang berdekatan. Sangat bisa jadi kekerabatan akan terisi dengan pertengkaran dan silang sengketa. Namun keharuan dan kerinduan serta bahkan perasaan kehilangan akan terpancar jika saudara berjauhan. Tepat seperti penggalan sebuah lagu…Kucinta dirimu namun kubenci hadirmu.

Jika separuh hati saya berisi kerinduan, maka separuhnya lagi bersemayam kebencian. Saya benci kenapa saya mesti harus meninggalkan kampung ini dulu. Kemiskinan adalah biang keladinya. Walaupun nyaris mustahil saya bertahan mengutuk keadaan, toh penghidupan yang baik memang harus diupayakan. Sebagaimana diketahui Tuhan menciptakan semua didunia ini saling berpasang-pasangan. Ada hal yang dirasa bertentangan tapi saling membutuhkan. Bagaimanapun takutnya kita akan kegelapan, toh malam akan datang juga mengganti siang. Apa jadinya jika sepanjang masa berisi siang saja. Tentu kita tidak akan bisa merasakan indahnya purnama menyinari. Saya benci ketika saya tepat di kerinduan ini, secepatnya saya harus kembali. Tapi memang begitulah rumus kehidupan. Semua hal yang bertentangan tadi menjadikan hidup ini lebih berwarna.

Akhirnya saya menyadari bahwa itulah misteri pulang dan pergi itu.

Pesan Dalam Sekarung Beras.

“Mas, ada titipan dari kampung. Kalau sempat, nanti diambil ya”

Sebuah pesan singkat sukses mendarat di hape saya. Tak biasanya saya mendapat kiriman atau titipan dari keluarga di desa. Selama ini komunikasi saya dan keluarga biasanya lewat handphone. Dulu…sebelum hape merajalela seperti sekarang ini…untuk sekedar mengabarkan salah seorang anggota keluarga yang meriang atau batuk pilek saja, keluarga dirumah musti datang ke wartel yang jaraknya lumayan jauh di kota kecamatan. Atau sesekali lewat surat, hanya untuk menanyakan, “Piye kabare? Nek ora krasan ning Jakarta…mulih wae yo”

Kini, teknologi sudah menyentuh sendi-sendi interaksi manusia. Betapa mudahnya dan sering bagi saya menelepon keluarga dikampung hanya untuk sekedar iseng menanyakan, “mbok, masak apa hari ini?” Atau, “kambing kita berapa?” Dan aneka pertanyaan tak penting dan remeh lainnya.

Hmm…ada apa gerangan? Namun, apapun bentuk kiriman, titipan atau paketnya sungguh telah membuat saya bertanya-tanya dan mengundang penasaran.

 

Singkat kata dan pada akhirnya…kiriman itu sudah ada dirumah saya. Tepat di hadapan saya. Sejurus saya tertegun. Sekarung beras. Kemudian beras itu saya letakkan begitu saja. Posisinya yang visionable seakan membuatnya menjadi point of view. Dari sudut manapun. Saat hendak ke dapur ataupun keruang depan saya pasti melewati sekarung beras itu. Sampai disini perasaan saya masih biasa saja. Yah, saya pikir, toh hanya beras. Tidak lebih.

Hingga pada suatu malam…

Saya duduk di sofa ruang tamu. Menikmati kopi. Sudah menjadi kebiasaan, anak dan istri saya sudah tertidur selepas Isya’. Jadi saya ngopi hanya sendiri saja.

Menikmati kopi sembari ngudud adalah wajib. Menikmati kopi tanpa permainan penerawangan hati dan pikiran adalah mustahil buat saya. Alhasil pikiran saya mengembara menembus dimensi ruang dan waktu. Sesekali pikiran mengajak saya kembali ke masa masa kecil di kampung. Masa kecil yang sebagian saya habiskan dengan makan nasi jagung dan rebung. Tak lama pikiran mengundang saya mengenang teman teman sekolah dulu. Teman sekolah dulu ada yang sekarang menjadi anggota Polri, bahkan hampir pernah menilang saya di daerah Kebayoran Lama. Teman sekolah yang beberapa diantaranya bahkan sudah meninggalkan dunia ini. Helaan nafas saya seperti hendak menyimpulkan, aah…sudahlah. :-( Betapa cepatnya waktu berlalu.

Hingga tanpa sengaja mata saya bersirobok, seakan seperti beradu pandang dengan sekarung beras itu (lagi). Saya memandangnya lebih dalam. Lebih dalam lagi. Mendadak seperti ada sesuatu perasaan bergolak di hati saya. Antara kesedihan dan keharuan lebur menjadi satu dan sukses mengaduk aduk perasaan saya. Saya masih bisa merasakan (dan dipaksa untuk merasakan kembali) bahwa untuk mendapatkan sekarung beras itu, melewati proses yang tidak mudah dan melelahkan. Dan pengembaraan pikiran saya mulai berganti.

Dulu…kemiskinan kami memang menyedihkan. Sawah yang di garap hanyalah sawah garapan dengan durasi yang bisa saja berubah sewaktu-waktu oleh sang pemilik. Sawah garapan yang oleh orang tua dikelola dengan cucuran keringat seperti tak kenal lelah. Sawah garapan yang memaksa kami seakan seperti hendak pindah rumah, karena sawah garapan itu berada di kampung sebelah. Pagi buta bapak dan ibu saya sudah berangkat dan pulang selepas Magrib. Melewati jalan setapak menembus luas dan lebatnya belukar perbukitan hutan jati. Menjumpai kawanan babi hutan atau menjangan liar adalah hal biasa.

Musim kemarau adalah keadaan terberat buat kami. Saat sumber air menipis dengan sawah yang harus tetap terairi adalah perjuangan penuh uji nyali. Sumber irigasi utama yang mengairi sawah kami dan juga yang lain berada tepat di tengah-tengah pekuburan kampung setempat. Itupun kadang sawah kami tak kebagian air secara penuh. Kami kalah cepat dengan petani setempat. Malam hari adalah saat yang memungkinkan agar sawah kami tidak kekeringan. Tak jarang kami pun menginap di sawah dengan gubuk seadanya.

Ah, kemiskinan kami memang kelam. Kemiskinan kami bagi yang melihatnya seharusnya melahirkan empati. Tapi siapa yang peduli? Sebagian besar penghuni kampung didera persoalan yang nyaris sama. Kadarnya saja yang berbeda. Empati yang terpaksa dikelola secara tersembunyi karena terbentur kondisi. Kemiskinan yang anehnya kami sendiri begitu menikmati. Kemiskinan malah membuat kami bisa merasakan makan singkong rebus bisa menjadi senikmat kentaki. Kemiskinan membuat kami merasa tidak susah untuk berbagi. Berbagi apa saja, karena itulah energi dari kemiskinan kami. Berbagi materi dalam kemiskinan kami adalah mustahil. Berbagi tegur sapa, salam dan suasana damai itulah yang kami bisa. Kemiskinan membuat kami terbiasa berkeringat lebih deras. Kemiskinan membuat kami senantiasa terjaga untuk tetap memastikan nyala api perjuangan tidak padam. Kemiskinan kami memang menyedihkan, tapi tidak hina. Kami bahkan merasa tidak kalah hormat dalam kemiskinan jika dibanding dengan para pejabat pengemplang uang rakyat!

Tanpa saya sadari mata saya berkaca kaca. Terlebih sekarang ini, simbok berjuang hanya ditemani adik perempuan saya. Kurang lebih sewindu yang silam bapak pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. :-(

Saya masih menatap sekarung beras itu. Mencoba mengurai adakah pesan pesan yang mungkin bisa saya rangkaikan.

Seharusnya saya merasa tersinggung. Betapa saya sekarang masih dianggap sebagai penghuni desa tertinggal. Bahkan untuk menyambung hidup di Jakarta ini saya perlu dikirimi beras dari kampung. Ah, tidak! Saya tak bisa tersinggung begitu saja. Jangan! Karena itu berarti bibit kesombongan mulai tumbuh di hati saya. Susah payah saya menetralisir perasaan.

Syukurlah, ternyata saya berada disudut pandang yang keliru. Saya hanya sedikit merubah sudut pandang saja dan perlahan kegaiban perasaan itu saya rasakan. Sekarung beras itu seperti mengisyaratkan selaksa kasih yang tak berujung. Kasih seorang ibu yang tak lapuk oleh jarak waktu. Kasih yang hanya memberi tak berharap menanti. Betapa saya masihlah seorang anak dari ibu yang melahirkan saya. Mendadak saya merasa bersalah. Berkali kali saya mengabaikan telepon dari kampung dengan alasan sibuk dan keesokan harinya saya terlupa untuk menelpon balik. Sekarung beras itu seperti hendak menegaskan bahwa bagaimanapun keadaannya, kasih ibu itu nyata dan tak tergantikan. Perlahan saya peluk sekarung beras itu dengan perasaan mengharu biru.

Bahwa dalam setiap butir padi adalah perwujudan penuh harap dari tetesan keringat dan do’a, lengkap dengan atribut kemiskinan yang melekat. Sekarung beras itu juga seperti hendak menafsirkan bahwa tak mudah mewujudkan harapan. Hanya keyakinan teguh dan perjuangan ekstra keras penuh integritas yang bisa menghadirkannya menjadi nyata. Perjuangan penuh determinasi dan tahan uji.

———————————————-

Saya masih memeluk sekarung beras itu, hingga pada akhirnya saya menyadari, bahwa sekarung beras itu sarat makna.

Fitur-Fitur Sepeda Motor Masa Kini…

Setelah di artikel sebelumnya membahas fitur safety (pada motor jadul) yang dikebiri, (klik) rasanya ga fair jika kita tidak melanjutkan ke topik fitur-fitur sepeda motor masa kini. Ga terbatas pada fitur safety saja, melainkan berbagai macam fitur menyeluruh pada motor masa kini. Fitur yang pada motor jadul kaga ada. Seiring perkembangan roda dua yang sedemikian pesat, pengaplikasian properti berbasis secure, safety dan comfort mutlak dibenamkan.

Wis, ra sah kesuwen…langsung saja kita ke tekape.

1. Cover Muffler.

 

Graphic2dfsfsfsf

Fungsinya sebagai pelindung panas yang dihasilkan oleh sisa pembakaran pada knalpot. Knalpot motor yang merupakan bagian luar motor dan notabene panas…memang beresiko mengenai anggota badan. Kaki terutama. Jelas ini penting. Salah salah betis yang nempel…jiaaaan mak kronyos. :mrgreen:

2. Engine Guard.

Graphic2fasfasdada

Hampir sama dengan yang nempel di knalpot, piranti ini memberi perlindungan dari panas mesin. Bukan peredam panas sebenarnya, hanya semacam properti sebagai batas antara kaki pengendara dengan mesin. Penting. Sehingga panas yang dihasilkan mesin, tidak langsung mengenai kaki rider. Mengendarai motor pelindung mesin, lambat laun bagaikan menginjak bara api…apalagi tanpa sepatu…jiaaan koyo kobong, rasane ra karuan. :D

3. Hand grip guard.

Graphic2dsfsdfsdf

Ini bukan untuk gaya-gayaan khas anak muda. Penting bro…Fungsinya menahan grip apabila motor jatuh. Sebagai penahan gas motor dari resiko pelintiran gas secara liar yang dihasilkan dari impact motor jatuh. Penting banget, kan?! Hanya saja, masih ada beberapa varian motor yang belum memakai piranti sederhana ini.

4. Lean Angle Sensor.

Graphic2sdasdasd

Wih, opo iki? Fitur safety yang bekerja secara otomatis jika motor mengalami sudut kemiringan tertentu. Maksude piye? Jelasnya begini…dengan fitur ini, mesin motor akan otomatis mati, jika motor jatuh. Aman kan?! Kita ga perlu gelagapan matiin mesin motor, saat tiba-tiba motor mendadak oleng dan susah dikendalikan. Fitur ini tergolong canggih dan mutakhir. Ga semua motor dibekali fitur ini.

4. Parking lock.

Graphic2 3

Hampir sama dengan hand brake pada mobil. Fungsinya menahan laju (mundur) motor saat berhenti di tanjakan. Diharapkan dengan fitur ini meminimalkan pengendara motor dari kejengkang dengan kaki cekangkangan akibat tak mampu mengendalikan motor yang mundur… makregadhak. :D

5. Secure key.

Graphic2 1

Dari namanya, ini memang bukan fitur safety, tapi fitur keamanan. Fitur ini diharapkan menimalisir motor dari tindak pencurian. Yang perlu diingat…prinsip kerjanya bukan mencegah, tapi menghambat. Dengan didesain mengcover lubang kunci, para pelaku kriminal ga akan leluasa dalam menggondol motor incaran. Fitur ini penting banget…apalagi, maling biasanya lebih pinter. :mrgreen: ada aja modus operandinya. Sekedar saran sederhana…lengkapi motor dengan kunci ganda.

Graphic2sadadasda

Pada motor bebek tunggangan, yang belum tersentuh fitur secure ini…gue mengakali dengan menambahkan gembok. Karena penempatan gembok pada cakram rem itu udah terlalu mainstream…gue menggemboknya di standar tengah! Alhasil…motor akan diam membisu, didorongpun ga bisa…kecuali digotong beramai-ramai! :D

6. ABS.

Apa itu? Antilock Brake System. Fitur safety yang menurut gue masih sebatas impian…jika di applikasikan pada motor massal nan merakyat. Fitur ini selain sangat penting juga canggih. Saking canggihnya…terdapat perbedaan harga yang sangat signifikan antara motor yang pake ABS dengan non ABS. Ga semua motor mengadopsi fitur ini. Fitur ini nemplok biasanya pada motor seperempat liter ke atas…mengingat power dan muntahan tenaga dari motor ber cc besar yang nggegirisi.

Lha, sakjane fungsine opo to, bro? Fitur ini mencegah terjadinya rem mengunci akibat bekerjanya rem secara over capacity. Hard breaking. Tegasnya…pada pemakaian rem secara panic breaking, tekanan mendadak dari master rem pada kaliper akan serta merta mengakibatkan piston mendorong kampas rem dan mengunci piringan perlambatan. Akibatnya bisa ditebak… motor akan nyungsruk. :D Cara kerja fitur ini…dengan menambahkan sensor yang berfungsi mengubah tekanan kaliper menjadi putus-nyambung. Secara simultan…tekanan yang dihasilkan akan membuat disc tidak mengunci. Lebih jelasnya, monggo simak video terlampir…

Mengingat fungsinya yang sangat vital…dalam regulasi otomotif di Eropa sono…semua pabrikan wajib menggunakan fitur ABS pada motor diatas 150cc. Tuh kan?! Terbukti bahwa bule-bule ternyata sangat care dengan property safety. Betapa mereka menyadari…bahwa motor bukan sepeda pancal, yang ngeremnya pun bisa pake sendal… :mrgreen:

7. SSS (side stand switch)

Graphic2 23

Mirip saklar yang fungsinya mematikan mesin saat standar samping diturunkan. Dengan kata lain…fitur ini mencegah motor hidup saat standar samping masih on parking.

Sifat pelupa kita itu memang udah bawaan. Mengendarai motor dengan kelupaan menaikkan standar itu jelas bahaya…salah-salah, kita bisa kejengkang. :mrgreen: Hanya sayangnya… dengan fitur ini kita ga akan mendapati orang-orang baik yang menyempatkan diri berteriak “Bang, standarnya bang!”

Gue pernah punya pengalaman menggelitik, sampai sekarang kalo ingat masih akan bisa tersenyum simpul :D Tentang standar samping. Jauh di kampung…berboncengan dengan teman dan melewati hutan karet, gue dikejar ama pengendara motor. Gue pikir doi rampok. Bahaya tenan nih! Karuan aja, gue memacu motor sekuat-kuatnya. Motor tua gue jelas terseok-seok dibanding motor pengejar yang masih nampak baru. Uniknya saat doi berhasil overlap gue…doi bilang “Mas, standare!” sembari nunjuk arah bawah motor gue. Refleks kaki pun menowel standar, sambil tak lupa bilang, “Suwun, kang” diiringi dengan lambaian tangan brotherhood. Ya…beberapa orang baik yang kadang rela bersusah payah, hanya sekedar mengingatkan kita…tentang keselamatan.

8. ISS (Idle Stop Switch)

Graphic2dsfsfsfs

Opo kuwi? Fitur ini membuat mesin motor mati secara otomatis jika throttle gas tidak terbuka dan kitiran rpm tidak jalan selama beberapa detik. Fitur ini lumayan maknyus jika kita sering terjebak kemacetan atau pas di lamer. Dengan menekan tombol ISS sebelumnya, saat di antrian traffic light, motor akan mati dengan sendirinya. Canggihnya…kita tak perlu pencet electric starter lg buat ngehidupin motor, cukup buka tarikan gas maka motor pun akan menyala kembaali. Dengan fitur ini diharapkan pemakaian bbm bisa menjadi lebih hemat. Keren kan?!

8. ABS

Opo iki? Answer Back System. Semacam alarm dengan remote sebagai pemicunya. Fitur ini memudahkan kita mengenali dan menemukan motor saat parkir. Saat di tempat terbuka yang motor pada bejibun berparkir, kita kadang kelupaan dengan tempat parkir motor kita semula. Cukup tekan remote, maka piranti pada motor ini akan bekerja dengan mengeluarkan suara dan kedipan lampu. Keren kan?!

So, pasti…kita tidak akan clingak-clinguk mencari motor di keramaian parkiran. :D Monggo simak video berikut ini yang saya angkut dari official site nya Kang Haji TMC

9. Safety Starter.

Graphic2sdasdada

Fitur ini membuat motor ga akan hidup tanpa melakukan tindakan pada piranti tertentu terlebih dahulu. Pada metic, motor baru mau hidup jika kita menekan tuas rem…depan atau belakang. Sedangkan pada motor ber persneling, motor ogah nyala saat kondisi persneling tidak dalam posisi idle atau netral. Fitur ini penting…untuk menghindari motor jumping atau salto saat motor dinyalakan.

Dan gue punya pengalaman yang sungguh hina bin nista tentang hal ini. :D Saat hendak memboncengkan istri tercinta…belum sepenuhnya pant*t nemplok di jok motor, gue menyalakan motor. Celakanya, pas gue tekan starter, persneling 1 masuk tanpa gue sadari…dan makpecodol. :mrgreen: Motor serasa dijambak setan. Lompat trengginas. Karuan aja kanjeng mami kejengkang dengan sempurna. Malamnya gue panggil dukun urut…dan tragisnya…selama sepekan gue diganjar dengan lirikan mata kanjeng mami yang seperti hendak menghakimi. :mrgreen: So…selalu netral kan persneling saat hendak menyalakan motor. Serius.

10. Charger.

Graphic2

Sekarang kita hidup dijaman, dimana komunikasi digital seperti hampir menjadi kebutuhan pokok, selain pangan, sandang dan papan. Informasi dan interaksi sosial cukup dalam genggaman. Tak pelak, kelangsungan hidup ponsel tetap harus terjaga. Fitur ini menjawab kebutuhan diatas. Hape lowbatt, tinggal colok di motor kita. Wah, ajaib kan?! Jika sudah sedemikian gampangnya…bukan tidak mungkin motor masa depan akan dijejali fitur modem atau bahkan wifi serta bluetooth. Wis jiaaan…kantor bisa pindah di jok motor nih… :D

11. Music mp3

Graphic2 355

Ini fitur kenyamanan. Belum teruji secara safety. Fitur dimana motor udah dibenamkan mp3 player. Tinggal pencet…kita udh bisa ajeb-ajeb, geleng-geleng dijalan. :D Tapi, rasanya secara pribadi gue kok agak gimana gitu ama fitur ini. Ga septi pisan euy… :mrgreen: Tapi untungnya, fitur ini nempel pada motor pabrikan kelas dua…dimana produk-produknya kurang dilirik konsumen, sekedar meramaikan pasar roda dua tanah air. Entah apa jadinya jika fitur ini diaplikasikan pada motor rakyat keluaran pabrikan besar semacam Honda atau Yamaha. Bisa jadi, kita akan gampang menjumpai biker yang geleng-geleng dijalanan dan pasukan joget bertebaran dimana-mana. :D

=========================================================================

Itulah beberapa fitur-fitur pada sepeda motor sekarang ini. Teknologi memang terus berkembang dan pengaplikasian pada motor juga akan mengalami perubahan. Tentunya dengan kemajuan teknologi, selain manfaatnya yang tak terbantahkan, motor juga bisa menjadi sahabat yang saling melengkapi. Motor yang sehat dengan fitur-fitur pelengkap yang mumpuni, tentunya membuat pengendara merasa nyaman. So, konsentrasi riding pun minim gangguan. Namun, yang utama dari itu semua adalah adab berkendara.

Seberapapun canggihnya sebuah motor, tanpa dibarengi perilaku berlalu lintas yang beretika adalah sia-sia. Kang Valentino Rossi bilang…”Mental adalah segalanya.”

#salam safety

*some images taken from google search and TMC Blog

Kemana Perginya Fitur Safety ini…?

Di sebuah pengkolan jalan, dari dalam warung kopi, lamat-lamat gue mendengar suara beep…agak mirip dengan suara beep dalam warning komputer. Awalnya gue pikir ini suara beep yang sangat khas dari mobil truk yang mundur. Terlihat seorang pengendara motor turun bergegas. Motor bebek lansiran tahun tua yang masih terawat dengan baik.

Setelah mengucap salam, ternyata beliau ini bermaksud menanyakan alamat. Gue bersama seorang kawan yang kebetulan tau alamat yang dimaksud, dengan senang hati pun membimbing beliau dari jalan kesesatan dengan menunjuk kan rute dan jalan yang benar. :D Setelah berterima kasih, sang pengendara motor pun berlalu.

====================================================================

Bebek tua itu sudah hilang di telan ujung jalan. Namun mendadak gue terhenyak. Ya, bebek tua itu mengingatkan gue tentang beberapa piranti keselamatan pada sepeda motor yang ironisnya entah sengaja atau tidak, di campak kan begitu saja oleh pabrikan. Disunat alias dikebiri. :mrgreen:

Ditengah isu keselamatan berkendara dan problema berlalu-lintas yang makin hari makin semrawut, jelas langkah pabrikan meniadakan beberapa fitur safety ini adalah sebuah kemunduran. Kontraproduktif. Menilik dari karakter sepeda motor yang responsif dan manuvernya yang “aje gile”, harusnya menuntut hal-hal yang krusial menyangkut faktor safety. Adalah menggelikan dan tragis jika sebuah kecelakaan bermula karena sang korban tidak “terlihat”.

Menurut beberapa rekan drivers yang sempat gue tanyain…pejalan kaki dan pengendara motor ini ada dalam daftar teratas kategori pengguna jalan yang harus diwaspadai. Ingat kasus Bro Ari Wibowo, atau Bang Faisal? Manuver beberapa bikers yang “kura-kura penyu” alias hampir sama dengan sopir bajaj…kadang bikin drivers ekstra hati-hati. Selap selip minim perhitungan adalah yang ditakutkan para driver…ditambah dengan paradigma hukum kita yang kadang mengaburkan fakta sesungguhnya. Betapa sopir truk selalu tak berdaya di depan pak pulisi, jika berhadapan dengan bikers. Padahal, dalam beberapa kasus banyak bikers yang secara individu gagal mengantisipasi keadaan…seperti, motor oleng, terperosok lubang jalan, slonong boy dsb. Pendeknya…yang kecil akan selalu menangan. :mrgreen:

====================================================

Secara garis besar, fitur safety ini dibagi dalam dua kategori. Visual dan verbal. Yang terlihat dan yang terdengar. Sebagai contoh…lampu sein dan klakson. Inilah bentuk komunikasi kita yang sangat krusial dengan sesama pengguna jalan yang lain.

Tanpa media vital ini, kita benar-benar akan menjadi Tarzan kota, dengan bahasa isyarat dan “auuoooo” nya. Pasti repot deh, jika kita mau belok musti bengak-bengok alias teriak. :mrgreen: atau bahkan nunjuk-nunjuk.

Lantas, apa saja sih beberapa fitur safety pada motor yang gue maksud? Fitur safety yang (entah sengaja atau tidak) ditiadakan produsen motor?

1. Sound flasher.

Ini fitur yang gue singgung pada preambule di atas. Kalo boleh menyebut merek…fitur ini nemplok manis di Yamaha Alfa. Entah keluaran tahun berapa. Mungkin sudah sering kita melihat di jalanan, lampu sein kanan nyala…eh, beloknya kiri. :D Atau sepanjang perjalanan, lampu sein nyala terus tanpa kita sadari. Ini jelas membingungkan pengguna jalan yang lain. :mrgreen:

Memang kalo kita cermati, bersamaan dengan nyalanya lampu sein, akan terdengar bunyi beep dari dalam dashboard motor. Sama persis dengan beep yang diaplikasikan di mobil. Hanya saja jelas beda kadar volume penangkapan oleh kuping kita. Kabin mobil yang tertutup rapat, sangat memungkinkan kita mendengar voice dari sein ini, bahkan suara (maaf) buang angin pun bisa terdengar nyaring. :D

Tapi pada motor…yaelaah, suaranya hampir ga kedengaran bro. :D apalagi ditengah ramainya lalu-lintas, ditambah kita pake helm…ya kaga kedengaran babarblas. :mrgreen: Dengan fitur ini, seenggaknya kita “ngeh” dengan sign lamp kita. Kan ga mungkin, kita nunduk terus memelototin dashbord motor kan? Selain pegel, juga beresiko. Sangat disayangkan memang. :mrgreen:

2. Tail light

Ini salah satu property motor yang wajib ada. Lazimnya benda ini nempel pada belakang motor. Spatbor.

Yang masih gue ingat dan khas banget adalah tail light segitiga pada varian motor keluaran Suzuki. Asli trademark tenan. Dan makin kemari…desain tail light pun makin variatif. Ada yang berada di bawah stoplamp, bahkan pada beberapa type motor, di desain menyatu dengan kaca mika lampu rem belakang.

Lha, njur sakjane fungsine opo to? Fitur ini semacam emergency assistance, jika sewaktu-waktu lampu rem belakang motor mendadak mati. Fitur safety ini akan nampak bercahaya jika terkena sorot lampu. Yang akan menyala dalam gelap, menjadikan motor kita menjadi visionable aka terlihat. Tanpa fitur ini dengan lampu rem belakang yang mati, motor tak ubahnya seperti gerobak berjalan. :mrgreen: jelas akan mengundang dan mengandung resiko.

tail light 1 tail light

Hampir sama dengan dibelakang, sama pula benda ini nempel di samping motor. Ini poin pentingnya. Gue menyebutnya “mata kucing”. Pada motor lokal produksi massal keluaran millenium, benda ini berhalangan hadir. Absen. Kaga ada. Hmm…sangat disayangkan. Padahal sebelumnya barang ini wajib nemplok. Posisinya pun bervariasi. Ada yang dibawah tangki ataupun fork depan.

Ironisnya, pada produk serta type yang sama…dilain negara benda ini ajaibnya ada. Mendadak gue bingung. Entahlah, apakah regulasi otomotif roda dua tanah air tidak mengakomodir fitur ini atau efisiensi pabrikan…gue gagal mikir. Padahal jika dipikir sebenarnya benda ini cuma nunut katut aja. Numpang nemplok. Soale cara kerja benda ini nihil sumber tenaga yang dapat membebani kerja accu. Jiaaan simpel tenan sakjane. :D

3. Cover Rantai

Fitur ini bukan ditiadakan, hanya mengalami pergeseran bentuk desain. Pada motor jadul, cover rantai ini menutup seluruh rantai motor…dengan menyisakan lubang untuk pengecekan kerenggangan dan pelumasan. So, fungsionalitas keamanan tetap jempol.

Perkembangan motor modern mengharuskan cover rantai yang full ini lengser. Digantikan dengan desain yang up to date, seperti yang kebanyakan kita lihat sekarang. Walaupun secara fungsional tetap sama…namun desain cover rantai sekarang ini…ada celah yang bisa dimasuki oleh benda-benda rawan nggubet. Apparel boncenger semacam…Jarik, kebaya atau sarung adalah property yang wajib diwaspadai. Salah salah sarung masuk gear…alamat nggeblak berdarah. :mrgreen:

cover rantai 1 cover rantai

=============================================================

Paparan diatas adalah fitur safety yang bersinggungan dengan pengguna jalan yang lain. Ada korelasi paralel yang ditimbulkan jika tanpa property tersebut. Simpelnya…fitur safety yang bukan hanya berguna buat diri sendiri, namun juga bermanfaat buat orang lain.

Nah, jika begitu…apakah ada fitur safety yang migunani tumrap awake dhewe? Ternyata ada bro… :D fitur yang berguna secara personal.

4. Karet kick starter.

Apan ini? Sepele banget! Itu sih ada ga ada kaga ngaruh…keles!  :mrgreen: Memang kelihatan nya sepele.

Gue pernah punya pengalaman tragis tentang kick starter ini. Jaman gue esempe. Motor batangan bokap gue emang hobi banget ama mogok. Motor tua yang teknologi elektrik starter belum ada. Dengan kick starter tanpa karet (yang hilang entah kemana) waktu itu, gue kecil dengan sekuat tenaga mencoba meng engkol motor. Dan tragedi itu terjadilah. Kaki terpeleset disertai kick starter menghantam mata kaki. :mrgreen: Sontak aja…bokap, nyokap dan tetangga berhamburan keluar…gue kecil meraung-raung kesakitan. Ngilu. Dramatis.

Pada motor-motor sekarang, tambahan karet pada kick starter ternyata membuat pabrikan benar-benar galau. :D ada pabrikan yang tetap memasangkan karet, pun ada pula pabrikan yang benar-benar menghapus benda ini. Malah, ada pabrikan yang setengah hati…di varian bebek memakai karet, di type matic kaga pake. Bahkan, walaupun sama-sama bebek, ada yang pakai ada yang tidak. :mrgreen: Jiaaan…galau nih yee… :D

pancalan

pancalan

==============================================================

Itulah sedikit fitur safety pada sepeda motor yang ditiadakan produsen. Hal yang sebenarnya sangat disayangkan, ditengah makin minimnya kesadaran masyarakat tentang berlalu-lintas. Harapan dari artikel ini adalah hanya sebagai pengingat, tanpa tendensi ataupun kepentingan dari pihak manapun, bahwa…… sekecil apapun potensi celaka, tetap harus diwaspadai.

Namun yang terpenting dari semua itu adalah attitude. Perilaku berkendara. Secanggih dan seberapa kaya fitur safety, akan sia-sia…tanpa dibarengi dengan sikap berkendara yang beradab.

#Salam Safety

Pesisir Jakarta itu…Eksotis !

TWA Angke 30

Saya hampir tak percaya bahwa panorama diatas berlokasi di Jakarta. Pemandangan yang sepertinya hanya bisa saya saksikan lewat layar kaca yang banyak menghiasi film-film kolosal dari Negeri Tirai Bambu. Dari kejauhan tampak seperti kumpulan teratai yang mengapung lembut, jauh di belahan bumi dimana Dewi Kuan Im begitu sangat dipuja.

Aslinya secara tak sengaja, saya menemukan destinasi wisata menarik ini. Berawal dari sebuah brosur lusuh yang entah sebab kenapa, tercecer dijalan yang sengaja saya pungut sewaktu tambal ban motor saya. Dan untuk kali kedua, saya kembali dibuat makin tak percaya, bahwa tempat itu hanya selemparan batu dari rumah. Dekat. Sangat dekat. Mendadak saya tersinggung. Kenapa saya baru tahu sekarang? Kenapa? Jelas brosur itu telah mencabik-cabik harga diri saya. Ketidaktahuan saya jelas membangkitkan emosi pribadi. :mrgreen: Saya musti bergegas. Saya harus kesana, ke surga itu. Saya harus piknik. Harus.

====================================================

Jakarta esotis 12

 

Namun mendadak saya seperti kebingungan. Bagi saya yang karyawan swasta kelas pekerja, tanggal tua adalah masa-masa krusial. Pertaruhan kelangsungan hidup. :D Pertanyaan hati saya pun mengerucut…bagaimana mungkin dengan uang Goban (50 ribu) di dompet, saya bisa mengunjungi lokasi impian itu? Bukan perkara mudah. Terkebih di Jakarta, beberapa tempat rekreasi terkadang hanya sebatas angan-angan untuk dikunjungi. Tak terjangkau oleh kalangan berkantong setipis triplek macam saya. :mrgreen: ati karep bondho cupet. Kening saya pun tak urung berkerut, mata mendadak menyipit tanda berpikir keras. Gemrobyos keringat pun tak mampu menentramkan hati. Namun bayangan Dewi Kwan Im yang seperti melambai-lambai, jelas mengundang penasaran saya berlipat-lipat sekaligus menebalkan tekad. Mengalahkan keraguan saya tentang apa yang bisa dilakukan dengan uang goban? Dan sebuah challenge pun dimulai…

Jakarta esotis 1

Dan saya pun berangkat. Setelah sebelumya mengisi bahan bakar motor, hanya dibutuhkan waktu sekitaran 15 menit berkendara dari rumah, saya sudah merapat di tekape…setelah sebelumnya melewati kawasan elite. Pantai Indah Kapuk. Itu memang akses satu-satunya, dituju dari manapun. Lokasi wisata ini memang bersanding dengan komplek perumahan nan mewah itu.

Jakarta esotis 28

Akhirnya…welcome to paradise. Bukan tanpa maksud jika saya pilih tempat parkir agak ke pojok. Sengaja saya menyandingkan motor saya dengan sebuah matic ber genre retro. (Kalo boleh menyebut merek) Yamaha Mio Fino. Jujur saja, sudah lama saya kesengsem berat dengan matic ini. Soal desain memang obyektif, namun buat saya Mio Fino ini telah membuat saya jatuh hati. Gurat serta lekuk body sungguh aduhai. Seksi dan padat berisi. :D Dengan hanya memandang warna striping yang dinamis, saya dibuat merasa muda kembali. Namun, saya terpaksa menelan ludah. Saya seperti tak mengukur diri jika masih ingin memiliki Yamaha Mio Fino. Yamaha Mio Fino itu hanya angan-angan, sebab dirumah sudah ada matic dari pabrikan yang sama. Yamaha Mio Soul. Matic yang secara resmi saya serahkan kepada assisten pribadi aka istri untuk operasional. Ke pasar membeli kebutuhan rumah tangga, atau mengantar anak les.

———————————————————–

TWA Angke 24 TWA Angke 10 TWA Angke 11 TWA Angke 15TWA Angke 36TWA Angke 20TWA Angke 33TWA Angke 35

Kini saya benar-benar menginjakkan kaki di surga itu. Taman Wisata Alam Muara Angke. Ini yang selama ini gue cari. Wisata alam. Syukurlah…himpitan hutan beton dan guyuran debu jalanan ibukota tak serta merta melunturkan naluri kecintaan saya dengan alam. Back to nature. Buat saya…setelah lemah tersungkur berjibaku dengan mouse, keyboard, monitor dan setumpuk pekerjaan dimeja kantor, ini tempat yang sanggup merefresh pikiran dan memaksimalkan kembali fungsi kerja otak. Buat sampeyan, mungkin saya terlalu lebay…tapi biarlah, lakum dinukum waliyadin. :D

Menyusuri jalan berpanggung berlapis dahan kayu, dengan rimbunnya pohon dikanan kiri seperti mengulang romantisme masa lalu kecil saya. Anak pantai? Bukan! Saya bukan anak pantai. Adalah teramat indah, masa kecil saya dulu dikampung berseberangan dengan hutan jati. Betapa saya masih ingat…dulu hutan itu memang sebenar-benarnya hutan. Rimbun dan lebat, hingga sinar matahari pun susah payah menembus rapatnya dedaunan. Bukan gampang dulu saya kecil menyibak semak belukar setinggi pundak orang dewasa. Saat musim hujan datang, bermunculanlah sumber mata air dimana-mana. Sebagian membentuk telaga kecil, sebagian mengalir meniti jalan setapak. Airnya bening…menyejukkan dan membuat hilang dahaga.

Ya, benar…saya memang anak hutan. Namun saya bangga dan bahagia…sebahagia ditempat wisata alam ini sekarang. :D Sejauh mata memandang…hamparan pohon mangrove dengan deretan beberapa pondok diatas air. Meneduhkan pikiran. Makcess. Sesekali air beriak, pertanda binatang air sedang bercengkerama. Ikan-ikan sebesar betis kadang liar menggoda, menyeruak ke permukaan air. Dan saat itu saya beruntung…menyaksikan sepasang biawak sedang berduaan menebar kemesraan. :D

===================================================

293609_242279175812378_3459132_n

Sebenarnya ini wisata alam apaan sih? Trus apa aja fasilitas dan wahana di dalamnya? Dari info yang saya peroleh di pusat informasi wisata…ini pusat pembudidayaan dan pelestarian mangrove berbasis ECOTOURISM. You know, mangrove kan? Pohon sakti menahan abrasi dan peredam alami gelombang laut. Tanpa pohon ini di pantai…cepat atau lambat kita akan menyaksikan garis pantai yang menggerus daratan makin kedalam. Dan bukan tidak mungkin, akibat pengikisan, suatu saat kemudian sebagian jalan raya di pesisir ibukota akan bersebelahan dengan pantai. :mrgreen:

Dan, bukan tanpa alasan, jika saya mengajak serta putri saya ke tempat wisata ini. Ada hal-hal yang tak bisa saya jelaskan secara teoritis. Harapan saya sederhana. Tentang bagaimana bersahabat dan mencintai alam. Saya berharap, kicauan burung, gemerisik dedaunan, serta riak-riak air yang dilihatnya akan mengedukasi secara alamiah. Tiba-tiba saya dibuat terhenyak, ketika putri saya menanyakan “Ayah, itu tumbuhan apa sih, kok seperti lidi?” Sungguh diluar dugaan saya. Saya hampir gelagapan dibuatnya. “Oh, itu bukan tumbuhan. Itu akar pohon mangrove.” jawab saya. “Lho, kok akarnya malah keatas?” pertanyaan putri saya makin deras. Untuk seukuran anak kelas 5 SD, pertanyaan itu amat brilian. Kembali saya dibuat kalang kabut. “Iya, itu seperti alat pernafasan. Fungsinya untuk mengambil oksigen” jawab saya sok pintar. :D

Selain sebagai pusat pembibitan dan rehabilitasi mangrove, Taman Wisata Alam Angke ini menyediakan bermacam-macam wahana penunjang. Apa saja?

1. Outbond mini.

Menilik namanya, wahana ini cocok banget buat anak-anak, walaupun tidak menutup kemungkinan para dewasa dan tua bangka ikut menikmatinya. :D

2. Wisata Air dengan perahu.

Sampeyan bisa berkeliling area wisata dengan meyewa perahu ataupun kano. Untuk perahu bermesin sampeyan akan dikenakan 150-200rb/6orang/perahu. Sedangkan yang hobi mendayung disediakan kano dengan tarif 50rb/45menit.

3. Kemah/ villa.

Tersedia berbagai macam jenis villa dan tarifnya. Saya tidak begitu paham pada point ini. Seingat saya, untuk sewa camping ground, dikenakan tarif 300rb/camping ground/2orang/malam. Ini tarif termurah. Sedang untuk pondok di atas air…kalo ga salah 450rb/malam/…kalo pake AC menjadi 600rb/pondok. Gimana? Lumayan kan?! :mrgreen: ! Bagaimana dengan villa? Tarif termurah 1,3jt…tergantung besar villa, jumlah kamar dan fasilitas.

4. Paket Pre Wedding

Tarif 1jt dengan maximum crew 7orang, dengan setting lokasi semua outdoor di taman wisata. Ada juga tarif untuk shooting video klip dengan 4jt/hari, atau bahkan syuting film atau sinetron dengan biaya 5jt/hari. TWA Angke 28 TWA Angke 26 TWA Angke 22 TWA Angke 4TWA Angke 38TWA Angke 39TWA Angke 37297921_242306072476355_7037903_nTWA AngkeTWA Angke 34

——————————————————————————-

Tentunya juga…tersedia fasilitas standart khas tempat wisata seperti masjid, mushola, toilet, kafe ataupun balai bersantai. Terkhusus Masjid, buat saya ini spektakuler dan menakjubkan. Betapa tidak?! Jarang-jarang ada masjid diatas air kan? Jika ingin bertafakur mendekatkan diri pada sang Khalik, melakukan perjalanan spiritual yang tak biasa, masjid di taman wisata ini layak dikunjungi. :D Jakarta esotis 11Jakarta esotis 55

Dengan tiket masuk seharga 10rb/orang, jelas sangatlah ekonomis dan bersahabat dengan kantong. Namun, beberapa tarif komersil untuk sewa villa, camping ground, pre wedding photo session dll agak sedikit kurang terjangkau. Relatif mahal untuk tempat wisata dengan tarif masuk hanya ceban. :mrgreen: Dan sepertinya, minimnya sosialisasi media, serta kurangnya publikasi menjadikan Taman Wisata Alam Angke ini sepi pengunjung, bahkan dihari libur sekalipun.

Jakarta esotis 2

 

O,ya…kalo sampeyan berniat mengunjungi taman wisata ini, jangan bawa kamera pocket atau bahkan DSLR ya…soalnya sampeyan bakal dikenakan tarif layaknya professional…1jeti bro. :mrgreen: Hal yang agak disayangkan memang. Kalo cuma foto-foto pengabadian moment, sampeyan pakai aja kamera handphone. Aman. Lagi pula kamera hape sekarang kan canggih, bukan lagi sekelas VGA to? Sepanjang pengamatan , rata-rata pengunjung adalah remaja belasan tahun yang mungkin saja sedang panas-panasnya terbakar api asmara. :D Mereka gampang di jumpai mojok di venue-venue, ujung jembatan, bahkan nemplok di menara pengamatan…dengan gadget ditangan dan tak lupa tertawa cekakaan seakan hendak membelah langit. :mrgreen: Biarkan saja…itu dunia mereka. Siapkan saja mental sampeyan. :D

TWA Angke 31 TWA Angke 9

Pungkasan…tak ada gading yang tak retak. Pun dengan Taman wisata alam ini. Perilaku pengunjung yang sembrono dengan meninggalkan sampah disana-sini, juga vandalisme masih saja ada, menimbulkan pilu. :mrgreen: Selain mungkin terbatasnya kontrol petugas, juga pengunjung yang ga memahami, betapa sederhananya sebenarnya bersahabat dengan alam. Menikmati…itulah hal sederhana yang saya maksud. Dan layaknya pecinta alam, jangan mengambil dan meninggalkan apapun di belantara alam…selain meninggalkan jejak.

========================================================

Melanjutkan perjalanan ke arah timur, sampailah saya di Balai Konservasi Alam Margasatwa. Masih termasuk wilayah administrasi Muara Angke. Namun kali ini saya kecele. Saat di pintu gerbang, saya clingak-clinguk. Tak satupun pengunjung sebagaimana lazimnya destinasi wisata. Sampai pada akhirnya saya ditegur seorang petugas yang kebetulan lewat dan menghampiri saya. Ooo…rupanya tidak setiap masyarakat umum diperbolehkan mengunjungi balai konservasi ini. Harus ada tujuan tertentu, misalnya keperluan studi, karya ilmiah atau bahkan penelitian satwa. Dan yang terpenting harus ada ijin secara tertulis dari Kantor Balai Sumber Daya Alam di Salemba sana. Pendeknya, segala keperluan yang berkepentingan dengan balai konservasi, atau sedikit banyak bersinggungan dengan wahana ini harus melalui izin tertulis. Selektif. Wah, agak repot juga ya. Btw, ada baiknya juga sih. Soalnya balai ini menangani ekosistem dengan satwa-satwa yang terancam punah. Kehadiran pengunjung “biasa dan umum” dengan perangai yang macam-macam, dikhawatirkan bisa menggangu satwa. Saya pun berlalu dari tempat itu.

Jakarta esotis 6Jakarta esotis 25

=======================================================

Kembali saya melanjutkan perjalanan. Saya sempatkan singgah disebuah taman kota yang masih tampak baru. Waduk Pluit. Bila membandingkan kondisi waduk sebelum dan sesudah normalisasi, wow…sungguh amazing. Mengagumkan. Dulu waduk ini tak ubahnya seperti sarang jin buang anak. Angker. Kumuh…dengan bangunan liar di kanan kiri. Pendeknya tidak enak dilihat, tak sedap pula dipandang mata. Kini, waduk kembali ke fungsi dan khitahnya. Sebagai sebenar-benarnya waduk. Sebagai zona tangkapan air dan pengendali bahaya jika negara api menyerang. :D

Sekarang tampilan waduk sungguh menggoda dan memanjakan mata. Asri. Hijau. Jiaaan menyejuk kan hati dan pikiran. Tempat ini bisa jadi referensi jika hati gundah dan pikiran resah gelisah. Terlebih buat sampeyan yang lagi galau dan meradang diputus pacar, tinggal nyemplung ke waduk habis perkara. :D Maksudnya…adem jadinya rasa hati. :D

Jakarta esotis 51 Jakarta esotis 40 Jakarta esotis 41 Jakarta esotis 42 Jakarta esotis 43 Jakarta esotis 44 Jakarta esotis 45 Jakarta esotis 46 Jakarta esotis 47 Jakarta esotis 48 Jakarta esotis 49 Jakarta esotis 50

 

Layaknya sebuah kedamaian, anak-anak bermain riang sedangkan para orangtua duduk mengawasi sambil bercengkerama. Bersepeda, kejar-kejaran serta bermain layang-layang adalah pemandangan khas yang menyejuk kan hati. Sekelompok anak muda memanfaatkan waktu dan menyalurkan hobi dengan bermain bola dan basket. Sedikit banyak keberadaan aneka penunjang kegiatan di waduk Pluit ini bisa mereduksi hal negatif di kalangan pemuda. Tawuran misalnya. Seenggaknya minat bisa tersalurkan dengan hal yang positif ditunjang dengan prasarana yang memadai. Karena seperti kita ketahui bersama, kegairahan serta spirit anak muda memang spontan dan cenderung eksplosif. Mungkin prasarana sementara yang perlu ditambahkan adalah Wall City. Apa itu? Tembok kota sebagai wahana kreatif bagi tangan-tangan yang gatal bercorat coret. Ini penting untuk mencegah vandalisme liar. Boleh di coba buat tuh, pak. Jempol deh buat Pemda DKI. :D

Semakin berkurangnya lahan terbuka hijau di Jakarta memang bukan isapan jempol belaka. Ini melahirkan perilaku sosial yang mengkhawatirkan di kalangan anak muda. Anak-anak kehilangan tempat bermain. Alhasil mereka akan turun ke jalan-jalan. Saya malah pernah menjumpai jalanan yang sengaja di blokade anak-anak hanya untuk bermain bola. :mrgreen: Selain sangat berbahaya juga merugikan beberapa kepentingan.

Agaknya Pemda DKI sangat serius dan concern akan fungsi dan manfaat normalisasi waduk Pluit. Yang nampak di sisi barat sekarang ini hanya percontohan, karena pembangunan nantinya menyeluruh di areal waduk yang membentang dari Pluit Timur sampai Pasar Ikan seluas kurang lebih 80 ha. Beberapa alat berat nampak masih stand by di lokasi. Tidak berlebihan jika sebuah harapan akan terwujudnya taman kota yang humanis, asri dan menyegarkan akan menjadi nyata.

Hanya saja, ada yang agak sedikit mengganjal pandangan mata saya siang itu. Beberapa pengunjung yang datang secara berkelompok kadang meninggalkan sampah berserakan. :mrgreen: dan ini yang membuat trenyuh. Saya jadi teringat penggalan pesan dari sang Walikota ketika meresmikan waduk ini. “Biarlah tidak usah dipagar. Saya yakin masyarakat cukup bisa sadar lingkungan. Kalau ada sampah berserakan, ya dipungut. Kalau tanaman layu, ya disiram.” Sebuah himbauan dan ajakan sarat pengharapan. Fasilitas ruang terbuka hijau sudah terpampang didepan mata. Gratis pulak! Sudah seharusnya kita para pengunjung berkewajiban menjaga dan merawat taman kota ini. Tapi, apa hendak dikata, ketika tangan-tangan jahil minim etika mulai menjamah, cepat atau lambat taman kota hanya akan menjadi sarang jin buang anak kembali. :mrgreen:

Njur…solusine piye?!

Pertama dan terutama adalah kontrol petugas. Ini mutlak. Sebab petugas lah yang memegang otoritas pengendalian kelangsungan hidup taman kota ini. Petugas punya legalitas. Petugas yang tegas dan disiplin tinggi, tentu akan membuat para calon “pembuat rusuh” akan ciut nyali. Umpama, petugas mendapati pengunjung yang buang sampah seenak jidat, maka sebagai denda nya adalah memungut sampah yang dibuang ditambah dengan memunguti sampah seantero waduk. Petugas yang tak suka berkompromi akan menimbulkan wibawa, ini yang melahirkan segan dimata pengunjung. Jika benar aturan semacam ini ditegakkan, wis jiaaan mantep tenan. :D bisa jadi petugas kebersihan akan banyak di mutasikan: D

Kedua adalah kesadaran diri. Sadar bahwa kebersihan adalah cermin dari perilaku. Sadar bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari gaya hidup modern. Kembali ke diri sendiri. Seruwet apapun masalahnya, selalu dimulai dari pertanyaan, “Darimana kita mulai memecahkan?” Tentu jawabannya…dimulai dari diri sendiri dulu. Yo ora son? :D

Ketiga adalah kepekaan sosial. Saat berada di waduk Pluit ini, saya beranikan diri menegur pasangan muda yang membuang begitu saja botol air kemasan. Padahal tak jauh dari situ, nongkrong dengan manis tong sampah merah biru. Sekilas tindakan saya akan sia-sia dan terkesan saya cari masalah. Mbok, biarin aja to? Botol dia dia ini, ngapain repot? Logikanya begitu. Tapi efeknya? Tak lama saya perhatikan keduanya tampak menggerutu dan perlahan beranjak pergi. Hmmm… :D Terkadang suka atau tidak, jujur saja sebagian dari kita ternyata memang belum siap untuk menjadi tertib dan disiplin. :mrgreen:

Jakarta esotis 36

=======================================================

Kembali saya melanjutkan perjalanan. Masih seputaran pesisir utara Jakarta. Sampailah saya di Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan tua yang tak bisa dilupakan begitu saja oleh perkembangan serba cepat Metropolitan ini. Pelabuhan bersejarah yang masih menampak kan kegiatan lalu lintas kapal. Hampir tak bisa di temui sisa-sisa kejayaan masa lalu. Satu guratan sejarah terpancar jelas dari Menara Syahbandar yang berdiri tegak menantang. Romantisme masa lalu yang tak bisa hilang oleh deru debu perjalanan sang waktu. Dan dengan rasa kebanggaan, saya pun menceritakan kepada puteri saya… tentang peran penting pelabuhan tua ini terhadap perkembangan Jakarta sekarang ini. Tentang Jakarta yang dulunya bernama persis dengan pelabuhan tua ini. Tentang bagaimana dulu Portugis dibuat luluh lantak oleh Fatahilah di pelabuhan ini di tahun 1527 tanggal 22 Juni. Tentang tanggal 22 Juni yang kemudian ditetapkan sebagai hari ulang tahun Jakarta.

Sejarah panjang Pelabuhan Sunda Kelapa terus mengalami perkembangan hingga sampai sekarang ini. Seperti saya sarikan dari laman Wikipedia…

Pada saat ini Pelabuhan Sunda Kelapa direncanakan menjadi kawasan wisata karena nilai sejarahnya yang tinggi. Saat ini Pelabuhan Sunda Kelapa adalah salah satu pelabuhan yang dikelola oleh PT Pelindo II yang tidak disertifikasi International Ship and Port Security karena sifat pelayanan jasanya hanya untuk kapal antar pulau.

Saat ini pelabuhan Sunda Kelapa memiliki luas daratan 760 hektare serta luas perairan kolam 16.470 hektare, terdiri atas dua pelabuhan utama dan pelabuhan Kalibaru. Pelabuhan utama memiliki panjang area 3.250 meter dan luas kolam lebih kurang 1.200 meter yang mampu menampung 70 perahu layar motor. Pelabuhan Kalibaru panjangnya 750 meter lebih dengan luas daratan 343.399 meter persegi, luas kolam 42.128,74 meter persegi, dan mampu menampung sekitar 65 kapal antar pulau dan memiliki lapangan penumpukan barang seluas 31.131 meter persegi.

Dari segi ekonomi, pelabuhan ini sangat strategis karena berdekatan dengan pusat-pusat perdagangan di Jakarta seperti Glodok, Pasar Pagi, Mangga Dua, dan lain-lainnya. Sebagai pelabuhan antar pulau Sunda Kelapa ramai dikunjungi kapal-kapal berukuran 175 BRT. Barang-barang yang diangkut di pelabuhan ini selain barang kelontong adalah sembako serta tekstil. Untuk pembangunan di luar pulau Jawa, dari Sunda Kelapa juga diangkut bahan bangunan seperti besi beton dan lain-lain. Pelabuhan ini juga merupakan tujuan pembongkaran bahan bangunan dari luar Jawa seperti kayu gergajian, rotan, kaoliang, kopra, dan lain sebagainya. Bongkar muat barang di pelabuhan ini masih menggunakan cara tradisional. Di pelabuhan ini juga tersedia fasilitas gudang penimbunan, baik gudang biasa maupun gudang api.

Dari segi sejarah, pelabuhan ini pun merupakan salah satu tujuan wisata bagi DKI. Tidak jauh dari pelabuhan ini terdapat Museum Bahari yang menampilkan dunia kemaritiman Indonesia masa silam serta peninggalan sejarah kolonial Belanda masa lalu.

Di sebelah selatan pelabuhan ini terdapat pula Galangan Kapal VOC dan gedung-gedung VOC yang telah direnovasi. Selain itu pelabuhan ini direncanakan akan menjalani reklamasi pantai untuk pembangunan terminal multifungsi Ancol Timur sebesar 500 hektare.

Jakarta esotis 5Jakarta esotis 14

=======================================================

Berada di pelabuhan Sunda Kelapa tanpa mengunjungi beberapa bukti sejarahnya rasanya kurang lengkap. Museum Bahari namanya. Letaknya hanya beberapa meter dari menara Syahbandar pelabuhan tua Sunda Kelapa. Museum ini menyimpan berbagai memorabilia maritim nasional dari Sabang sampai Merauke secara lengkap.

Seperti saya kutip dari laman resmi nya Museum Bahari terletak di Jalan Pasar Ikan No. 1 Penjaringan, Jakarta Utara dan berada di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa yang banyak menyimpan situs bangunan bersejarah  seperti Tembok Kota (city wall), Kubu Pertahanan (bastion), Gudang (werehouse), Galangan Kapal (ship yard), Benteng Batavia (casteel batavia), Passar Ikan, Pasar Heksagon, Masjid Kramat Luar Batang dan lainnya yang saat ini merupakan salah satu dari 12 jalur destinasi wisata pesisir Walikota administrasi Jakarta utara.
Sejak tahun 1652 sampai 1759 secara bertahap bangunan ini digunakan sebagai gudang penyimpanan rempah-rempah dan hasil bumi, seperti kopi, teh, tembaga, timah, dan tekstil oleh Kongsi Dagang Belanda (VOC). Beberapa gudang tambahan dibangun pada akhir abad ke-17 untuk menciptakan lebih banyak ruang. Tahun yang berbeda pada batu di atas beberapa pintu gedung mungkin mengacu pada tahun ketika perbaikanatau penambahan gudang dilakukan. Pada masa pendudukan Jepang, gedung-gedung ini dipakai juga sebagai tempat menyimpan barang logistik tentara Jepang. Setelah kemerdekaan Indonesia, bangunan itu digunakan sebagai gudang untuk PLN dan PTT.

Akhirnya kompleks bangunan yang yang disebut Gudang Barat (Westzijdsch Pakhueizen) ini diserahkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 1976. Gudang Barat terdiri dari 4 unit bangunan, dan 3 unit di antaranya difungsikankan sebagai Museum. Tahun 1976 itu juga bangunan cagar budaya ini dipugar kembali dan dinyatakan sebagai kekayaan budaya. Kemudian pada tanggal 7 Juli 1977 bangunan inidiresmikan sebagai Museum Bahari yang menampilkan perjalanan panjang sejarah maritim Indonesia

Berada di museum bahari ini seperti mengingatkan saya tentang sebuah lagu nasional yang dulu diajarkan Bapak guru SD saya.

Nenek moyangku orang pelaut

gemar mengarungi luas samudera

menerjang ombak tiada takut

menempuh badai sudah biasa

angin bertiup layar terkembang

ombak berdebur di tepi pantai

pemuda b’rani bangkit sekarang

ke laut kita beramai-ramai

 

Jakarta esotis 120 Jakarta esotis 7 Jakarta esotis 16 Jakarta esotis 17 Jakarta esotis 18 Jakarta esotis 19 Jakarta esotis 21 Jakarta esotis 22 Jakarta esotis 23Jakarta esotis 8

Hanya dengan melihat replika perahu Phinisi yang legendaris itu, saya seperti membayangkan wajah-wajah keras membaja memenuhi setiap penjuru kapal. Wajah-wajah penuh tempaan panas dan hujan. Setiap bentangan layar terkembang adalah pengejawantahan dari raut wajah yang ditopang semangat membara tak gentar menghadang badai. Hanya dengan memandangi jangkar tua kusam, seperti ada keteguhan akan sikap. Sikap pengabdian. Sikap pantang menyerah dari para pendahulu kita. Nenek moyang kita.

Namun, semoga saja nenek moyang kita tidak bermuram hati dan murung diri melihat semangat anak negeri sekarang ini. Kini…negeri maritim ini seperti sedang bersusah payah menegaskan kembali dirinya sebagai negeri para pejuang bahari. Negeri kepulauan terbesar yang hampir kehilangan eksistensinya sebagai penguasa lautan…dimana negeri ini masih mengimpor garam. Identitas bangsa pelaut yang perlahan pudar oleh kikisan gelombang waktu.

Dengan harga tanda masuk yang hanya 5.000 rupiah, rasanya sangat ekonomis dan sangat terjangkau berbagai kalangan. Saya berpendapat, dengan karcis yang cuma goceng, Pemda DKI Jakarta terlihat sedang berusaha keras mendorong minat masyarakat tentang wisata bahari dan sejarahnya. Langkah yang perlu kita apresiasi. Namun jumlah pengunjung seperti membantah usaha persuasif pengelola.

Ada satu hal yang menjadi pertanyaaan saya selama ini. Mengapa museum di Jakarta ini pada kompakan libur dan tidak buka saat tanggal merah dan hari libur? Padahal justru pada saat-saat itulah kami para orang tua, para karyawan dan pekerja punya waktu dan berkesempatan mengajak anak, saudara dan handai taulan mengunjungi museum. Mengapa pak? Mengapa? Seandainya setiap tanggal merah dan hari libur museum tetap buka seperti biasa, bukan mustahil para pengunjung akan semakin banyak terjaring. Alhasil kecintaan dan minat orang untuk mengunjungi museum akan tetap terpelihara. Semoga saja.

Pengunjung memang didominasi remaja belasan tahun yang mungkin masih duduk di bangku sekolah. Itu pun sedikit sekali, dan mereka saya dapati hanya duduk-duduk di pelataran menara Syahbandar. Entahlah, apakah sebelumnya mereka sempat mendatangi museumnya apa tidak.

Saya sempat bertemu dengan dua pasangan wisatawan mancanegara. Mereka tampak antusias dan bersemangat melihat satu persatu benda koleksi museum. Tak jarang mereka tampak berdecak kagum. Dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah dan asal njeplak, saya mencoba berbincang dengan turis bule tersebut. Ternyata do’i berasal dari Swiss dan Belanda. Mereka berencana mengunjungi juga Pelabuhan Sunda Kelapa setelah dari museum ini. Dan menurut pengakuan do’i rupanya agak kecewa dengan minimnya koleksi benda museum.

Minat minim masyarakat tentang kunjungan ke museum memang mengundang miris. Sedangkan untuk menggratiskan tanda masuk jelas tidak mungkin. Museum butuh dana untuk operasional. Juga dengan kenihilan biaya masuk…jelas sangat tidak menghargai nilai dari benda-benda bersejarah. Sebuah bentuk pengingkaran masa lalu. Bentuk rasa tidak hormat kepada para pelaku sejarah. Ah, museum…riwayatmu kini. :-(

Jakarta esotis 35

==============================================

Sore baru saja menjelang ketika gema adzan ashar mulai berkumandang menembus keramaian. Sebuah panggilan yang sangat familiar yang mengharuskan saya untuk pergi bergegas. Saya teringat akan sebuah masjid keramat tak jauh dari Museum Bahari ini. Ya, Masjid Luar Batang. Ke Masjid keramat penuh sejarah masa silam itulah saya menuju. Sebelum memasuki pelataran masjid, sebuah papan nama jelas terpampang seperti hendak menegaskan bahwa masjid ini peninggalan sejarah para pendahulu. Dan titipan sejarah ini sepenuhnya berada dibawah perlindungan negara. Dua buah menara kembar tegak tinggi menjulang, seperti hendak menembus batas cakrawala.

Jakarta esotis 54 Jakarta esotis 32 Jakarta esotis 52 Jakarta esotis 53

Memasuki area masjid, aroma masa silam dalam balutan religi serta bau harum wewangian khas masjid sangat kental terasa. Dengan makam di samping aula utama, memang membuat suasana terasa sakral dan keramat. Beberapa jamaah tampak khusyuk melakukan kegiatan perjalanan spiritual. Ada yang membaca Qur’an, sebagian tenggelam dalam dzikir dan do’a.

Berletak di kampung Luar Batang, seperti nama masjidnya. Banyak versi tentang hal ihwal sejarah masjid keramat ini. Hanya saja secara garis besarnya, keberadaan masjid ini tak lepas dari sepak terjang seorang ulama Yaman, Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus . Menurut keterangan seorang petugas masjid yang sempat saya ajak berbincang, konon, setelah habib meninggal dan hendak dikebumikan, pengusung keranda tidak mendapati jasad beliau. Alias kosong. Hal ini berlangsung sampai tiga kali. Akhirnya berdasarkan kesepakatan jamaah kala itu, jenazah beliau dimakamkan di kamar yang sekarang menjadi bagian di dalam komplek masjid.

Ada satu keunikan masjid ini. Yakni 12 tiang pancang yang tidak tersambung dengan langit-langit masjid. Tiang pancang itu memang tidak menyangga apapun.

Di dalam komplek masjid ini sebenarnya ada dua makam. Selain makam Habib sendiri, agak kedepan letaknya, ada sebuah makam yakni makam Haji Abdul Khadir. Ini murid dari Habib Alaydrus. Menurut cerita, dulu sang murid ini adalah seorang Tionghoa (Tiongkok) yang sedang dikejar-kejar oleh tentara VOC. Atas jaminan sang Habib, sang pelarian ini dilepaskan dan akhirnya menjadi murid sang Habib hingga akhir hayatnya.

Setelah menunaikan sholat ashar,  saya menjumpai dan berbincang dengan beberapa peziarah. Ada yang datang dari seputaran Jakarta, malahan ada juga yang datang dari luar Jawa. Umumnya mereka terkagum-kagum dan tampak takzim dengan nilai historis dari masjid ini. Terlebih jika membicarakan tentang Habib Alaydrus. Menurut para peziarah, Sang Habib ini diyakini adalah wali Allah. Dan masjid sang Habib ini penuh karomah. Segala niat dan pengharapan serta do’a, Insya Allah mudah dikabulkan. Maka tak mengherankan jika untaian dzikir dan do’a nyaris setiap saat membumbung ditujukan kepada beliau.

 

Jakarta esotis 33

=================================================

Melanjutkan perjalanan menuju pulang, saya sempatkan mampir ke Pusat Pelelangan Ikan Muara Angke. Tempat pelelangan ikan terbesar di Jakarta, selain Muara Baru. Bisa jadi, peredaran separoh ikan segar Jakarta berasal dari sini. Dengan transaksi yang masih secara konvensional, sampeyan bisa tawar-menawar ikan sekreatif mungkin. Ikan apa aja tersedia, kecuali paus. :D Jakarta esotis 9Jakarta esotis 27

O, ya bagi yang hobi kuliner, disediakan tempat untuk menikmati secara matang. Tentunya kuliner berbasis ikan dan kawan-kawan. Ada udang, cumi-cumi, kepiting dan sebagainya. Menurut salah seorang pemilik kedai kuliner yang sempat saya tanyai, tersedia bermacam paket. Ada paket borongan…dimana ikan dan menunya disiapkan oleh pemilik warung kuliner. Sampeyan tinggal pesan, layaknya di restoran…pokoke terima beres. Ada pula paket special…dimana pemilik lapak kuliner meracik masakan dari ikan yang sampeyan beli di pelelangan. Ada pula paket rombongan…yaitu pemilik warung juga melayani permintaan dengan jumlah orang tertentu. Misalnya 10 orang atau lebih. Harganya pun bervariasi, tergantung jumlah orang dan jenis-jenis ikan yang disajikan. Gimana? Tertarik dengan kuliner ikan laut? Sila merapat ke Wisata Kuliner Ikan Laut Muara Angke. :D

Setelah penat seharian berkeliling, sejenak saya menikmati panorama pantai senja menjelang. Sejauh mata memandang, nuansa biru dan deburan ombak serta semburat cahaya kemerahan di batas cakrawala. Semangkok bakso Malang pun menjadi teman hangat. Ah, tak putus-putus saya berucap syukur. Sungguh suatu karunia Sang Pencipta yang tak terukur nilainya. Saya beruntung sekali dilahirkan di negeri yang (katanya) sangat kaya raya. Kaya akan sumber daya alam yang melimpah ruah, kaya akan hasil laut yang seperti tak pernah habis. Negeri yang gemah ripah loh jenawi, toto tentrem kerto raharjo. Negeri bagaikan untaian zamrud Khatulistiwa. Saya tak bisa membayangkan seandainya dulu saya kebagian jatah dilahirkan di negeri tandus dan langganan konflik tak berujung. Mendadak saya ngeri membayangkan seandainya benar terjadi.

Jakarta esotis 15Jakarta esotis 56

================================================

Matahari mulai agak condong ke barat. Sinar Sang Hyang Bagaskara timbul tenggelam tersaput mega. Awan hitam perlahan berarak menyelimuti angkasa. Pertanda alam akan tiba gilirannya air hujan membasahi bumi. Pertanda bahwa saya pun harus menyudahi perjalananan ini. Perjalanan mendekatkan diri kepada alam, menggali kejayaan peradaban masa lampau dan perjalanan spiritual menembus dimensi ruang batin.

Karena filosofi kearifan alam adalah media pembelajaran diri. Betapa alam akan diam bertasbih, tegar dan berserah diri ketika hujan dan sejuta topan badai datang menghampiri. Karena hanya dengan mendekatkan diri kepada sang Khalik, segala benih-benih keangkuhan dan kesombongan akan lenyap. Betapa kecil dan tidak berdayanya kita di hadapan kebesaran Tuhan. Karena dengan menengok sejarah itu diperlukan untuk mensugesti diri tentang kemampuan dan potensi diri. Generasi yang baik adalah generasi yang tak lupa sejarah masa lalu dan berusaha menciptakan sejarah yang lebih hebat dari para pendahulu. Itulah generasi yang bermartabat. Semoga.

========================================================

Sebelum gerimis benar-benar turun, saya berkata,”Ayo, kita pulang, nak”

==========================================================

Artikel ini saya ikut sertakan dalam apa yang bisa dilakukan dengan uang 50.000 ribu. Selengkapnya cek video terlampir

=========================================================

Kosa kata:

1. Ati karep bondo cupet = keinginan yang tidak sepadan dengan kemampuan

2. Clingak-clinguk = menengok ke kanan dan ke kiri

3. Jiaaan = ungkapan untuk menegaskan, bisa berarti memang

4. Goceng = lima ribu rupiah

5. Goban = lima puluh ribu rupiah

6. Njeplak = asal terbuka, asal menganga

7. Gemah ripah loh jenawi, toto tentrem kerto raharjo = Ungkapan yang berarti suatu keadaan dimana  masyarakat yang memiliki kemakmuran, kesejahteraan dengan penuh rasa kedamaian, keamanan, dan keteraturan.

Referensi:

1. Wikipedia

2. www.museumbahari.org/