Langkah Mengurus Surat Pindah Domisili

“Mohon orang tua siswa untuk hadir ke sekolah”.

Kurang lebih begitulah bunyi surat edaran dari sekolah anak saya. Sudah beberapa kali saya mendapatkan undangan dari sekolahan, namun kali ini edaran tidak mencantumkan keperluan dan maksud undangan. Jelas membuat saya dan nyonya merasa bertanya-tanya. Dan seperti biasa, nyonya lah yang pantas dan layak memenuhi undangan tersebut. Kenapa? Seharusnya memang saya sebagai bapak lah yang berkewajiban, karena saya termasuk biang keladi hadirnya anak saya ke dunia ini. Namun urung, saya merasa sungkan di kerumuni oleh ibu-ibu satu kelas. Saya pernah dengan percaya diri tinggi, mengambil jatah nyonya untuk hadir ke sekolahan dalam rangka mengambil raport. Saya membayangkan bisa berbaur dan sekedar bertukar sapa dengan para bapak-bapak sekelas. Tapi apa yang terjadi? Saya seperti berada di sarang penyamun. Semua yang hadir adalah ibu-ibu. Dan ajaibnya untuk pertama kalinya, saya merasakan bahwa saya tampan. :D Dan semenjak itu saya kapok. :D

———————————————————-

“Ayah ini gimana sih?, kan udah dibilang dari kapan tau, kita urus surat pindah!. Sekarang kalau sudah begini, gimana coba?!”

Bombardir pernyataan sang nyonya kepada saya begitu sampai di rumah. Saya geli dalam hati, kalau nyonya lagi begini, saya membayangkan yang saya hadapi adalah Ibu Subangun. Tokoh antagonis dalam serial drama TVRI Keluarga Rahmat. :D Gile…itu drama sukses mencengkeram pikiran saya sejak bocah. Tapi untunglah, sekejap saya bisa menetralisir keadaan. Saya sodorkan segelas air dingin, setelah sebelumnya gelas itu saya cium lama seperti dalam film India. Dan mujarab. Berangsur-angsur nyonya pun telah pulih kesadaran nya. :D

———————————————————-

Saya akhirnya maklum dan paham, alasan mengapa istri saya mendadak jadi error. Ternyata, untuk masuk ke SMP, anak akan diarahkan ke sekolah terdekat dengan domisili keluarga. Rayonisasi. Celakanya Kartu Keluarga saya masih ter register di Kecamatan Tambora, sedangkan sudah tiga tahun saya sekarang ini berdomisili di Kecamatan Cengkareng. Terbayang oleh saya, antar jemput anak dari Cengkareng Tambora? Belum lagi jadwal kerja saya, pasti menyesuaikan dengan keadaan. Mendadak saya merasa masuk angin dan mules. :mrgreen: Belum lagi tentang psikologi anak, yang berhadapan dengan teman yg semuanya baru. Kebangetan banget ya saya. Saya merasa bersalah banget. Suer. :( Awalnya saya pikir, nanti aja lah…repot lah, mesti urus ini itu, spt balik nama kendaraan dsb. Namun cepat atau lambat, saya toh tetap harus pindah domisili. Awalnya saya bermaksud memakai jasa seorang kawan untuk pengurusan surat-surat, namun dari telik sandi dan penyelidikan serta tanya kolega kanan kiri, perihal makin membaiknya alur birokrasi, saya merasa tertantang dan hendak mengurusnya sendiri. Dan petualangan saya pun dimulai. :D

——————————————————

I. Meminta surat pindah domisili. 

Dalam hal ini, yang mengeluarkan adalah Kelurahan, dengan tembusan sampai Kotamadya/Kabupaten. Karena domisili saya masih satu Kabupaten / Kotamadya (Jakarta Barat), maka proses surat pindah cukup di tingkat Kecamatan.

Lha trus caranya bijimane?

1. Mendatangi Ketua RT.

Minta surat pengantar dengan keterangan pemohon hendak mengajukan surat pindah. Siapkan uang tinta seikhlasnya. Kan ga enak, apalagi kalo kita di sediain kopi segala. :D Ceban noban masih cengli lah :D Proses ini memakan waktu fluktuatif, tergantung kita kenal baik/ akrab apa ngga. Lha kalo kebetulan kita kenal akrab, kan bisa keasyikan ngobrol. Ya ga?! :D

2. Mendatangi Ketua RW.

Keperluan minta tandatangan sebagai pelengkap surat pengantar. Disini diperlukan juga salam tempel seikhlasnya. :D

3. Mendatangi Kelurahan.

Berbekal surat pengantar dari RT, saya bergegas mendatangi Kelurahan. Saya sudah siapkan KK asli, KTP asli suami istri. Pokoknya asli lho, dan juga copy an nya. Nah, di Kelurahan ini KTP asli kita akan di lubangi sebagai tanda KTP sudah tidak berlaku lagi. Selanjutnya KTP yg sudah dilubangi petugas, diserahkan lg sebagai lampiran surat pindah. Sebenarnya dalam step ini proses bisa cepat selama Pak Lurahnya ada di tempat. Saya beruntung, karena kebetulan Pak Lurah sedang tidak melakukan kunjungan.

4. Mendatangi Kecamatan.

Setelah surat pindah dari Kelurahan saya dapatkan, saya diarahkan petugas untuk datang ke Kecamatan Tambora. Validasi dari Pak Camat. Tanda tangan gitu. Nah, apesnya saya kali ini, Pak Camat sedang blusukan entah kemana. Alhasil saya datang lagi keesokan harinya.
Dan surat pindah sudah berhasil saya dapatkan.

——————————————————————

II. Membuat KK dan KTP baru.

Membuat KTP baru

Tak menunggu waktu lama lagi, saya mencoba lagi petualangan menembus birokrasi negeri ini. Gimana rasanya? Kesimpulan nya saya quote dalam akhir artikel ini. O,ya surat pindah ini ada masa berlakunya lho. Sebulan. So, baik baik saja memanfaatkan waktu. Trus langkah selanjutnya gimana?

1. Mendatangi Ketua RT.

Setelah saya mendapatkan surat pindah dari domisili yang lama, saya datang ke Ketua RT dimana saya tinggal sekarang. Meminta surat pengantar untuk keperluan membuat KTP baru. Berhubung Ketua RT ini baru dilantik, saya merasa belum akrab, jadi tak perlu berlama lama, saya utarakan maksud dan tujuan. Dan surat pengantar pun siaap. Tak lupa saya selipkan ceban dalam salaman tangan dengan Pak RT. :D

2. Mendatangi Ketua RW.
Validasi alias tandatangan dari RT rasanya belum cukup. Dan Ketua RW lah penuntas registrasi surat pengantar ini. Singkat kata, dan terjadilah ceban dalam salaman lagi :D

3. Mendatangi Kelurahan.

Berbekal surat pengantar RT, saya dan nyonya (sebagai pemohon KTP baru) mendatangi Kelurahan dimana saya tinggal. Dalam hal ini Kelurahan Kapuk. Setelah menyerahkan berkas surat pindah dari domisili asal, kami disuruh mengisi formulir pembuatan KTP baru. Setelah menunggu beberapa saat, kami pun dipanggil untuk sesi pemotretan. Setelah sebelumnya tanda tangan dalam pen tablet mini. Jebret. Selesai? Sampai disini kami pikir KTP udah bisa di tunggu jadi. Namun seperti bisa menebak pikiran kami, petugas dengan yakin mengatakan, “Pak, besok datang lagi, ambil KTP” Oooo…kami berdua pun pulang.
Keesokan harinya saya datang lagi ke Kelurahan. Pucuk dicinta ulam tiba, KTP baru saya sudah jadi. Namun mendadak saya tercenung, visual KTP baru saya kok masih edisi lama yg belum e-KTP. Iseng saya tanya petugas, “Pak, ini belum e-KTP ya?” “Ga apa apa pak, tetap berlaku” Wah, piye iki?! Yo wis lah, toh KTP ini dikeluarkan oleh instansi berwenang, pikir saya melegakan hati.

————————————————-

Membuat Kartu Keluarga Baru

1. Mendatangi Ketua RT.

Awalnya saya pikir, ribet banget sih? Kenapa ga sekalian buat surat pengantarnya? Selidik punya selidik, untuk pembuatan KK baru harus berdasarkan KTP. Jadi oleh petugas Kelurahan, saya diminta untuk membawa surat pengantar dari Ketua RT lagi, kali ini dengan keperluan pembuatan KK baru. Singkat kata saya dapatkan juga surat pengantar RT itu.

2. Mendatangi Ketua RW.
Seperti proses sebelumnya dalam surat pengantar. Yaitu tanda tangan Ketua RW.

3. Mendatangi Kelurahan.

Dengan langkah pasti, saya mendatangi Kelurahan. Setelah menyerahkan berkas, saya pun menunggu dalam antrian hingga nama saya dipanggil. Dengan cermat petugas mengecek kelengkapan berkas para pemohon. Hingga tibalah nama saya dipanggil. Dan alangkah terkejutnya saya, ketika berkas saya kurang lengkap. Petugas menyatakan untuk melengkapi berkas dengan Akte Kelahiran anak. Tak ayal, saya pun bergegas pulang, mengambil dokumen yang diminta. Untunglah, rumah saya tak begitu jauh dengan kelurahan. Dengan tergopoh-gopoh saya pun menghadap petugas terkait. Setelah meneliti sekali lagi, petugas pun berkata, “Pak, datang lagi 14 hari kemudian”. Maaakkkk…lama kali, pikir saya. Apa boleh buat saya pun menjawab, “Baiklah, pak. Terima Kasih”. Saya menjabat tangan petugas, dan berlalu.
Dalam perjalanan pulang, saya bergumam…bagaimana jika KK ini diperlukan secepatnya? Dengan waktu dua pekan processing, untuk selembar Kartu Keluarga, rasanya bisa dipersingkat. Terpantik imajinasi nakal saya, dengan jeda waktu 14 hari sesuatu negosiasi atauun deal deal terselubung bisa saja terjadi. Hmm…tapi saya tetap berbaik sangka dan membiarkan proses ini berlangsung sewajarnya. Hingga dua pekan kemudian saya pun datang lagi ke kelurahan. Berbekal secarik kertas verifikasi pengambilan KK, saya mendatangi petugas. Dan KK baru saya sudah ditangan. Horee… Selesai?! Ternyata belum.

4. Mendatangi Ketua RT.

KK baru saya perlu validasi dari Ketua RT. Dan sepertinya Pak RT sudah mulai bosan melihat wajah saya. Tapi biarlah, untuk secoret tandatangan KK, Pak RT ini sungguh penting. Dan salaman tempel pun terjadi lagi. :D

5. Mendatangi Kelurahan (lagi)

Hah?! Apa lagi?! Setelah KK sudah bertanda tangan saya dan berstempel Ketua RT, saya diharuskan datang lagi ke Kelurahan untuk minta tandatangan Lurah. Celakanya, Pak Lurah hari itu sedang tidak ada ditempat. Alhasil, oleh petugas saya di arahkan untuk datang esok hari, setelah menyerahkan KK saya. Dan saya pun pulang.
Dan keesokan harinya saya pun sudah menimang Kartu Keluarga baru saya. Sebelum saya benar benar meninggalkan Kelurahan, saya berjabat tangan dengan petugas seraya berkata, “Berapa pak?” Seperti terkaget, petugas pun berkata, “Bapak coba baca tulisan itu” seraya menunjuk sebuah papan sambil tersenyum. Aah, saya lupa mendokumentasikan tulisan yg dimaksud. Tapi kurang lebih begini…”Segala pengurusan KTP dan KK tidak dipungut biaya”. Dan saya pun pulang dengan wajah cerah.

KTP 2KTP KTP 1

——————————————————————

Terlepas dari waktu proses penerbitan dokumen, inilah birokrasi resmi yang kita dikehendaki. Birokrasi yang melayani. Dan yang jelas, tanpa retribusi. Ini birokrasi yang dihasilkan dari upaya transparansi, dan semoga saja tidak setengah hati. Walau tak menutup kemungkinan masih setengah jadi, namun birokrasi bersih bukan mimpi, selagi masih ada niat berbenah diri.

—————————————————————

Pungkasan, kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta, namun sistem yang baik dan bermartabat tetap harus diupayakan. Semoga artikel ini bermanfaat buat para pembaca sekalian, terlebih buat sampeyan yang kebetulan bermaksud mengurus pindahan.
Salam tempel. :D

Streaming Youtube Gratis via Blackberry…Begini Caranya.

Youtube. Siapa sih netter yang tak kenal situs ini? Yah, inilah situs sharing video terbesar dan terpopuler sejagat maya. Beragam video lengkap tersedia. Kita bisa mencari video tutorial cara memasak kangkung, ataupun melihat film kingkong :D Pendeknya situs ini menyajikan segala macam file visual sesuai keinginan kita.

Dan tentunya smartphone yang kita pakai, memerlukan paket data internet untuk tersambung ke situs youtube. Lain platform, lain provider tentu lain pula jenis dan macam koneksinya.
Kali ini gue kasih tips hemat, agar streaming video di youtube tetap lancar jaya dan so pasti gratis, terutama bagi pengguna Blackbery.

Bagi user bebe yang terkoneksi via wifi tentunya tak menjadi kendala. Menjadi masalah jika paket internet dalam bb adalah paket hemat. Seperti kita maklum, paket hemat pada bb memang tidak mengusung fitur streaming. Fasilitas streaming hanya ada dalam paket unlimited. Paketnya orang kaya dan mampu :D dan celakanya gue sendiri tidak termasuk golongan nya. Nah, bagaimana cara mengakalinya, sehingga kita bisa beryutub ria tapi masih dalam paket hemat?

Ini triknya:

1. Pastikan sampeyan berada dalam masa paket data internet aktif.

2. Cek dulu pulsa sampeyan. Ini penting untuk memastikan bahwa streamingan sampeyan tidak menyedot pulsa. Tragis dan fail banget kan, kalo keasyikan yutuban lha malah pulsa tekor. :mrgreen:

3. Pastikan sampeyan berada dalam lokasi yang strong signal. Sinyal kuat pada bb ini ditandai dengan ikon 3G yang full bar. Ini penting agar prosesi streaming tidak mengalami buffering alias putus putus. Percaya atau tidak, streamingan yg lelet dan putus-putus disinyalir cepat meningkatkan kadar esmosi dan membuat tensi darah naik. :mrgreen:

4. Masuk ke situs youtube. Klik file yang diinginkan.

5. Setelah kita mendapatkan file terpilih, perhatikan dengan cara seksama pada address bar.  Setiap file pada youtube selalu ditandai dengan kode. Nah, ini point pentingnya…disini kita hanya mengakali provider dengan melakukan perubahan pada kode kode tersebut agar menjadi alamat situs seperti kita browsing pada umumnya. Sebagai ilustrasi, saya menggunakan file video Metallica. Cekidot ilustrasi dibawah ini.

bb bb 1 bb 2 bb 3

6. Setelah percobaan berhasil, alangkah lebih baiknya sampeyan close dulu youtube sampeyan. Kemudian cek kembali pulsa sampeyan. Jika nominal pulsa tetap sama sebelum sampeyan streamingan, sampeyan telah berhasil dengan sempurna. Namun jika ternyata pulsa sampeyan tekor, ulangi langkah diatas dan selalu tingkatkan amal dan ibadah sampeyan.

Pungkasan… selamat ber yutub ria. :D

Ini yang Seharusnya Dilakukan oleh Produsen Sepeda Motor.

Kebutuhan akan sistem transportasi massal yang murah, efisien dan tepat waktu, hingga kini masih tetap menjadi impian dan angan angan. Disaat program Pemerintah tentang sistem transportasi massal yang seakan jalan ditempat, pabrikan sepeda motor telah dengan jitu memanfaatkan celah. Setiap tahun produksi sepeda motor terus merangkak mengalami peningkatan. Menurut data AISI, untuk kurun waktu dua tahun belakangan ini saja, total penjualan sepeda motor mencapai 14.860.016 unit. Angka yang akan diprediksi meningkat dari tahun per tahun, jika tidak dibarengi dengan kebijakan pemerintah tentang pembatasan jumlah sepeda motor.

Setiap pabrikan terlihat giat dan gigih menggelontorkan serta memasarkan aneka produk produknya. Bisa dikatakan setiap pergantian tahun, pasti ada pergantian jenis motor. Selera konsumen yang universal, nyata betul direspon pabrikan dengan cermat dan seksama. Kini varian motor tak ubahnya seperti menu warung makan. Komplit. Sampeyan ga suka pecel, ada pilihan opor ayam. :D Motor pun begitu. Segala jenis serta peruntukan lengkap tersedia. Yang ga suka bebek, sila pilih motor batangan atau metik. Itupun masih dibagi beberapa sub type. Jenis bebek pun terdiri dari beberapa type dan cc. Mumet kan?!

Kini motor bukan hanya sebagai alat transportasi primer selayaknya kebutuhan yang urgensi. Pelan tapi pasti, motor juga sebagai media gengsi bahkan pamer diri. Bukan rahasia lagi jika dalam dunia permotoran, terjadi user classification. Penggolongan berdasarkan kebanyakan para pengguna motor. Sampeyan tentu pernah dengar istilah: motor bapak-bapak, motor abege, motor anak muda, dan semacamnya kan?! Ini (walau bisa dibantah) yang sedikit banyak melahirkan dualisme keinginan. Alhasil, tak jarang seseorang bisa memiliki lebih dari satu motor. Dan kini siapapun bisa naik motor, tanpa batasan umur dan gender. Terlebih di jaman emansipasi modern sekarang ini, tidak heran dan lumrah jika kita mendapati beberapa wanita pun menyemplak sang kuda besi.

Populasi sepeda motor yang tak terkendali, jelas akan menimbulkan transformasi perilaku di masyarakat. Fenomena cabe cabean dan kebrutalan geng motor belakangan ini hanyalah sedikit dari ekses negatif yang ditimbulkan. Hal ini jelas selain mengundang keprihatinan juga berpotensi akan masa depan yang suram. Bukan tentang individu bersangkutan, dalam konteks yang lebih luas menyangkut sebuah generasi. Generasi yang sudah seyogyanya kita proteksi dari semua hal degradasi. Itupun kalo kita masih peduli.

Pun dalam berlalu lintas. Menyerobot traffic light, merampas trotoar, lawan arah adalah pemandangan lumrah belakangan ini. Pelanggaran berlalu lintas seperti sudah menjadi kebiasaan baru. Karut marut kehidupan jalan raya semakin runyam ditambah dengan minimnya penegakan hukum oleh aparat. Laskar Bhayangkara yang diplot sebagai garda terdepan seakan dibuat tak berdaya. Sudah selaksa kejadian demi kejadian, peristiwa demi peristiwa yang menimbulkan lara dan nestapa. Sejenak kita perlu merenung akan sebuah fakta yang tak terbantahkan yakni prosentasi kematian dari sebab kecelakaan berlalu lintas adalah PEMBUNUH TERBESAR dan menduduki ranking teratas. Bukan kanker atau masuk angin. Pilu mendengarnya, bukan?!

Video berikut ini mungkin bisa memberi kita banyak pelajaran berharga

Berbagai seminar, simposium dan diskusi lintas stakeholder sudah sering dilakukan guna mereduksi angka petaka dijalan raya. Bermunculanlah klub serta organisasi yang secara massive menyebarkan virus keselamatan berlalulintas. Langkah positif dari semua pihak ini tentunya harus kita apresiasi tinggi, walaupun kalo boleh jujur belum sepenuhnya menyentuh akar rumput. Masyarakat lapisan bawah sebagai mayoritas dari problematika kompleks.

Kini sejuta pertanyaan pun menggunung. Apakah para cabe cabean itu paham kalo cenglu (bonceng telu) itu salah? Apakah pemotor itu mengerti jika tak pakai helm itu juga salah? Apakah biker yang biasa ga menyalakan lampu sein saat belok itu tahu kalo itu salah? Apakah para pelawan arah itu mengerti kalo hal itu membahayakan? Bagaimana jika mereka melakukan aneka pelanggaran itu didasari karena ketidaktahuan mereka? Naif bukan?! Dan semua pertanyaan apakah itu akhirnya mengerucut menjadi…Siapakan yang pertama seharusnya mengedukasi masyarakat tentang cara berkendara yang baik?

Produsen motor. Ya, inilah unit pertama yang seharusnya memberi “pendidikan” keselamatan di jalan raya.

Lha, caranya bagaimana? Mendirikan sekolah khusus? Bukan! Memberikan pelatihan safety riding secara kontinyu? Bisa iya, tentu juga bukan!

Cara yang efektif dan klik adalah dengan mengeluarkan Buku Panduan Keselamatan Berkendara.

buku panduan

Mengapa justru produsen motor?

Tentu kita tidak bisa serta merta mengatakan biang keladi dari keruwetan berlalu lintas berasal dari salah satu lembaga tertentu. Ada masyarakat umum sebagai pengguna, kepolisian sebagai penegak dan kemenhub sebagai pengelola jalan raya. Kemenhub pun kalo tidak salah pernah mengeluarkan buku panduan seperti yang dimaksud. Saya juga pernah membaca Buku teori ujian sim terbitan Polda Metro Jaya yang sebagain materinya memuat tata cara berkendara yang aman. Pertanyaan nya…apakah masyarakat umum sebagai konsumen tahu? Kalaupun tahu buku itu, dimana bisa mendapatkannya? Keterbatasan daya jangkau instansi inilah yang ditengarai sebagai sumber dari “kebodohan” masyarakat.

Draft dan materi dari buku itu disusun tentu melibatkan instansi terkait, karena selain berisi teknik berkendara yang benar juga memuat pasal pasal penegakan. Lha, terus masyarakat mendapatkan buku itu caranya bagaimana?

Seperti kita ketahui, bersamaan dengan diterimanya unit kendaraan baru, kita pasti akan menerima buku service, tool standard, helm serta buku panduan kendaraan bersangkutan. Mekanismenya adalah Buku Panduan Keselamatan Berkendara itu wajib disertakan dalam setiap pembelian kendaraan baru. Sebagai media edukasi dan pemahaman berkendara yang langsung sampai ke khalayak umum. Dengan demikian masyarakat akan lebih leluasa memahami aturan cara berkendara yang benar. Kenapa mesti buku? Sebab buku setiap saat kita bisa membaca dan mempelajari isinya secara berulang-ulang. Suatu hal yang dilakukan secara berulang-ulang akan melahirkan kebiasaan. Dan bukan tidak mungkin kitapun bisa menularkan dari apa yang kita baca kepada orang terdekat kita. Penambahan pengetahuan serta penegasan, kita bisa mengikuti seminar, simposium dan diskusi seputar safety riding.

Jika Buku Panduan itu bisa di realisasikan oleh tiap-tiap pabrikan, besar harapan kita akan perubahan baru paradigma masyarakat tentang berlalu lintas. Tentu dengan ringan dan tulus hati kita berikan standing applause dan angkat topi buat para pabrikan motor. Ini bukan tentang romantisme balas budi. Ini hanya sebentuk emphatic morality dari pabrikan kepada konsumen. Terlebih regulasi otomotif nasional yang cenderung memberi ruang kepada pabrikan untuk ekspansi produk, rasanya tidak berlebihan jika kita para pengguna sepeda motorpun berhak mendapatkan pembelajaran berlalu-lintas yang benar secara komperehensif.

Pungkasan…mari kembali menemukan jati diri sebuah bangsa yang hakiki. Bangsa yang (konon katanya) beradab dan berbudi pekerti. Sudah bosan kita mendengar berbagai tragedi. Risih kita menyaksikan sesama pengguna jalan saling sumpah serapah dan caci maki. Jenuh rasanya kita melihat perilaku keras hati dan arogansi. Tertib berlalu lintas hanyalah salah satu dari sekian indikasi dari masyarakat yang cinta negeri. Individu individu yang disiplin adalah cerminan karakter sebuah generasi. Tak selamanya akan kelabu, selagi masih ada putih. Berbekal niat dan kemauan tinggi di setiap lini, tentu segala keruwetan jalan raya selama ini bisa teratasi.

Semoga.
#keep safety and be smart driver

*inspired from suara lantang dari solo* 

Begini Cara Instal Downgrade Dari Windows 8 Ke Windows XP

Mumet sirahe. Mungkin itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan bagaimana perasaan gue saat itu. Galau. Kerja otak mengalami kebuntuan. Seperti ada asap mengepul keluar dari ubun-ubun. Overheat. Panas tenan. Jiaan rasane pengin nguntal menyan. :mrgreen:

Lha, apa pasalnya? Begini…salah satu PC divisi pembukuan kantor mengalami gagal system. Tepatnya ada salah satu software yang crash. Padahal PC itu sudah memakai system operasi Windows 8. Dan rekan kantor meminta gue buat ganti aja ke Windows XP. Sampai disini gue pikir no problemo. :D

Masalah bermula dari awal proses instalasi downgrade ke Windows XP tesebut. Setelah gue masukin CD installer, lha malah keluar blue screen. Asal tau aja, problema blue screen ini kadang sangat menjengkelkan dan bikin esmosih. :D Dan itu berlangsung terus menerus. Berbagai trik udah gue coba. Dari banting monitor ame ngemut keyboard. Dari scan virus ame copot pasang beberapa hardware tetep aja ter display blue screen. Tepok jidat tenan. :mrgreen:

XP Installer

Dalam kebuntuan, gue pun mengontak kawan lama yang udah biasa mainin beginian. Dan problem pun terjawab. Ternyata,,,memang khusus untuk downgrade OS ada parameter yang perlu disetting terlebih dulu via bios. Oalaaah…ya pantes kalo gitu. :D Penjabaran secara ilmu teknologi gue ga paham, kenapa bisa begitu… hanya secara teknisnya bisa di praktek kan sebagai berikut:

1. Masuk BIOS dengan menekan tombol del secara berulang-ulang bersamaan dengan saat kompi dinyalakan.

2. Klik tab Advanced-Sata Configuration. Kemudian pilih opsi IDE.

XP Installer 3

3. Save dan EXIT.

Setelah gue ikutin langkah settingan diatas dan…taraaaaaa… :D Prosesi intall downgrade Windows XP pun berjalan lancar jaya. :D

XP Installer 2 XP Installer 1
Jika ada yang iseng nanya,

“Bro, kalo buat laptop bisa ga pake trik diatas?”

Mungkin bisa. Soale gue sendiripun blom pernah coba sih. :D Hanya saja menurut penerawangan…kebanyakan laptop sekarang ini sudah mengusung OS Windows Vista dan sejenisnya termasuk Windows 8. Ini dibekali dengan AHCI yang tidak mengenali IDE pada hard disk. So…bagi Laptop’ers yang sudah kadung cinta mati ama XP dan kepingin ganti OS, bisa dicoba deh. Coba kan ga bayar :D Masalah hasil…kembali kepada amal dan perbuatan masing masing. :D

Demikian artikel sederhana ini, semoga bermangfaat dan kompi tetep membawa berkah. :D  Ciaaoooo….

(Review Product) Yamalube Carbon Cleaner…Untuk Performa Optimal.

Tak terasa akan menginjak awal tahun ke delapan, kebersamaan gue dengan Sakawuni. Sengaja motor gue namain demikian bukan tanpa sebab. Entah mengapa gue agak sedikit terobsesi dengan karakter Sakawuni dalam epic sandiwara radio Tutur Tinular besutan S.Tidjab. Lugas, dan sedikit liar, namun welas asih dan suka menolong kaum tertindas. :D  Dan karakter itulah yang gue rasa cucok dengan motor bebek tunggangan gue ini. Responsif dan meledak ledak. Khas overstroke.

Sakawuni inilah teman yang selalu setia menemani segala kegiatan dan keperluan gue selama ini. Ke kantor, antar anak sekolah, antar kanjeng mami ke pasar atau sesekali kuajak touring lintas kota Jabodetabek. Bahkan dalam beberapa kesempatan malah kuajak mudik ke kampung. Lengkap dengan wira wiri di seputaran Sindoro Sumbing. Perlakuan gue ke Sakawuni ini biasa saja cenderung kalem. Hanya kadang-kadang Sakawuni ini pernah gue perkosa dengan semena-mena. Bayangkan…gue pernah menjambak Sakawuni ini pada gear 2 sampai kecepatan 70km/jam. Alhasil doi teriak overlimit. Kejam banget ya gue. :D

Sakawuni ini gue biarkan saja apa adanya. Orisinil. Standard. Gue emang ga minat dan tertarik buat oprek-oprek motor mendongkrak performa atau apapun bau modifikasi. Gue biarin alami aja. Modifikasi paling  ekstrim yang pernah gue lakuin yakni menempelkan stiker motoGP dan ganti tutup pentil ala misil. Itu doang. Dan itu sudah cukup menambah sugesti gue, kalo Sakawuni tetaplah gesit dan lincah. :D Dan sudah menjadi kewajiban gue ke Sakawuni untuk selalu ganti oli secara berkala dan minum oplosan. Bukan oplosan ciu campur tape bro, :D Terkadang pertamax, tak jarang pula premium kalo lagi tanggung bulan. :D
Hingga tanpa gue sadari sekarang odometer motor sudah nangkring di angka 62323. Angka yang lumayan panjang. Angka yang jika ditarik garis lurus kurang lebih 4 kali pulang pergi jarak Jakarta ke Mekah. Artinya sudah 4 kali pula Sakawuni naik haji. :mrgreen:

YCC 1

Property apapun yang kita gunakan tentunya membutuhkan perawatan secara murni dan konsekuen berkala dan kontinyu. Agar performa tetap terjaga. AC saja tanpa kita bersihkan dan rawat akan menjadi barang tak berguna. Pun demikian dengan motor gue.
Seorang teman menyarankan agar gue pake produk penjaga stamina motor. Semacam vitamin, katanya. :D Awalnya gue agak sangsi, namun apa salahnya gue coba. Dan do’i menunjuk satu produk yakni Yamalube Carbon Cleaner. Produk ini (katanya) ampuh membersihkan kerak-kerak hasil sisa pembakaran. Wah, ini dia, pikir gue antusias. Terlebih dengan cara pakai yang sangat gampang. Tinggal lhep. Tinggal tuang di tangki motor, dan biarkan cairan ini bekerja. Tak pake lama, gue pun mendapatkan barang itu. Dengan bahan bakar full tank, gue cekokin Sakawuni dengan sebotol Carbon Cleaner itu. Makglegeg. :D

 

YCC

Trus testimoninya bijimane? Instantly gue belom dapet feel apapun dari pasca pemakaian produk itu. Baru setelah pemakaian full tank BBM motor gue habis, perlahan bisa gue rasakan bedanya. Tarikan motor bisa gue rasakan menjadi enteng dan responsif, terindikasi dari mudahnya rpm mencapai peaknya. Setiap perpindahan persneling, tenaga motor terasa berisi. Pokoke nendang. Alhasil untuk mencapai limiter tak butuh waktu lama. Jiiaaaan mantep tenan coooyyy… :D

Jika ada yang iseng nanya, “motor gue kan bikinan pabrik sebelah tuh, bisa ga kalo gue pake Yamalube Carbon Cleaner itu bro?” (Masih menurut temen gue itu), “ga majalah bro, motor apapun bisa, mau motor bikinan Hongkok kek, Arab kek, metik, sepot atawa bebek”. Pendeknya produk ini terbuka dikonsumsi semua motor lintas pabrikan, tak memandang kasta dan derajat motor. Cucok lah kalo begetooohh… :D

Pun, jika ada yang nanyain, “trus, cara kerja Carbon Cleaner ini bijimane sih, bro?” “Trus, ane musti pake pertamax atawa Premium jika mau dicekokin Carbon Cleaner itu bro?” “Trus kerak-kerak yg berhasil dilunturkan dari ruang bakar larinya kemane dong?”

pistonseizeda

Penjelasan singkatnya begini:

1. Tuangkan 1 botol Carbon Cleaner dengan 3-4 liter bahan bakar. Pas banget takaran tersebut dengan motor metik dan bebek yg kebanyakan bertangki BBM dengan kapasitas 3 atau 4 liter. Untuk motor sport, sampeyan butuh 2 botol Carbon Cleaner, secara kapasitas BBM motor batangan ini lumayan besar.

2. Selama pemakaian Carbon Cleaner ini, usahakan sesekali sampeyan tarik gas secara penuh. Full throttle. Dan jangan kaget jika sampeyan mendapati asap hitam mengepul dari knalpot. Itu pertanda bahwa cairan sedang on progress, bekerja maksimal merontokkan kerak-kerak yang bersemayam pada ruang bakar.

3. “Trus apakah gue musti pake ni produk tiap isi BBM, bro?” Anjuran penggunaan Carbon Cleaner ini untuk pemakaian setiap 3000km. Itu udah recomended dari pabrikan. Jadi sampeyan ga perlu menambahkan cairan ini tiap isi BBM. Bisa jadi akan mubazir.

4. Pemakaian Carbon Cleaner menggunakan Pertamax atau Premium? Sebelumnya kita musti tau dulu sifat, karakter dan jenis kedua BBM familiar ini. Secara garis besar kedua jenis ini sama, hanya untuk Pertamax adalah jenis Premium yang sudah di beri additive. Ada zat tambahan khusus. Additional chemical ini yang menyebabkan tarikan motor menjadi berbeda jika dibandingkan dengan Premium biasa. Itulah salah satu alasan kenapa jenis Pertamax biasanya lebih mahal. Dari sini tentu sampeyan bisa memutuskan mana yang terbaik untuk pemakaian pertama dengan Carbon Cleaner ini.

5. Yang perlu di ingat yakni, bahwa Carbon Cleaner ini BUKAN untuk menambah kecepatan motor, melainkan mengembalikan power motor seperti semula. Restorasi gitu deh. :D Seperti kita ketahui bahwa dalam perjalanan proses pembakaran, tentunya meninggalkan residu dan endapan dalam ruang bakar yang lambat laun akan bertumpuk membentuk kerak hitam. Ini salah satu biang kerok yang mengakibatkan performa motor menjadi loyo dan ngempos. Dan juga salah satu sebab yang mengakibatkan motor menjadi boros BBM.

Demikian review singkat dari pemakaian Yamalube Carbon Cleaner ini. Semoga bermanfaat dan motor semakin membawa berkah.

Pungkasan…review singkat ini tidak manjur dan berguna bagi biker yang fanatik dengan merek tertentu. :D Ciaooo…. :P

Pulang Kampung… (Misteri Pulang dan Pergi)

 

Fajar menyeringai, pagi berseri cerah mengawali hari. Udara dingin berangin masih belum enyah dari penghujung Agustus. Logikanya ini masih di musim kemarau, tapi sesekali hujan tanpa permisi datang juga mengguyur tanah. Melunturkan debu di dedaunan. Cuaca akhir-akhir ini memang susah diprediksi. Hujan datang kadang tak pasti. Sesuka hati.

Saya masih di depan pawon (tungku perapian) sekedar menghangatkan badan dan menikmati secangkir kopi panas, ketika handphone saya berdering diatas meja. Walau agak malas, tak urung saya pun menyapa suara hallo di seberang. Seorang kolega menanyakan kapan kembali ke kota. Aah…baru saja saya menginjak kan kaki kembali di bumi tumpah darah, pikir saya. Segera setelah urusan saya di kampung selesai. Begitu jawaban saya. Singkat, padat dan jelas. Jelas jawaban itu mengisyaratkan bahwa saya tak berminat berlama-lama dan ingin secepatnya menyudahi pembicaraan dengan kolega saya. Agaknya kolega saya pun maklum. Setelah ber tengkyu ria, do’i pun menutup pembicaraan.

mudagrafika for wordpress mudik 7

Pawon itu masih membara. Membakar kayu-kayu. Bara panasnya mendidihkan air di ketel. Masih seperti bertahun-tahun sebelumnya, simbok saya dengan telaten menjerang air, menanak nasi dan mematangkan sayur. Pawon itu masih nyaris sama bentuknya ketika saya meninggalkan kampung. Memang ada sedikit gompal dan retak disana sini. Maklumlah pawon itu terbuat dari tanah merah yang diliatkan kemudian dikeraskan. Mungkin terantuk kayu bakar atau wajan yang salah taruh, pikir saya. Dan kini pawon itu masih tegar ditempat semula. Siap melaksanakan tugas. Sesekali tangan saya menambahkan kayu baru ketika nyala api agak redup. Ada kegairahan tersendiri ketika melihat nyala api semakin membesar.

Pawon itu masih tampak sederhana, tapi pawon itu tetaplah barang berharga buat keluarga kami. Di Pawon inilah tempat kami sekeluarga mendiskusikan bila ada hal-hal penting. Jika ada sanak saudara berkunjung dan bermalam, maka pawon lah tempat yang potensial merekatkan jalinan kekerabatan. Lengkap dengan the panas dan gula merah. Bersamaan dengan bunyi kokok ayam di pagi buta, almarhum bapak adalah orang pertama yang menyalakan api permulaan. Kemudian disusul simbok yang bergegas menyiapkan segala keperluan anggota keluarga. Dan seluruh ritme kehidupan keluarga ini berawal dari nyala api di pawon ini.

Saya meneguk kopi panas. Tepatnya menyeruput. Terlalu bernyali jika saya menenggaknya panas-panas. Tiba-tiba saya dihinggapi perasaan benci tapi rindu. Rindu tapi benci. Sebentuk romantisme yang membelenggu, khas rasa yang bersemayam di jiwa yang sedang terpanah asmara.

mudagrafika for wordpress mudik 8

Semua berawal dari kota. Semua hal apapun tentang kota…hanya semakin menegaskan bahwa betapa sangat indahnya kembali ke desa. Hanya dengan pergi, kita akan merasakan betapa bermaknanya pulang. Itulah kenapa mendadak saya terpaksa maklum dengan saudara saudara kita yang tetap berjuang mengupayakan agar tetap bisa mudik. Tak peduli walaupun harga tiket transportasi menjadi melambung tinggi menjelang tradisi tahunan itu. Tak peduli meski bertransportasi sendiri dengan bermotor, menyabung nyawa mengorbankan faktor safety.

Semua hal tentang kota…semakin membuat cara pandang kita tentang desa menjadi lebih berharga. Kokok ayam di pagi hari, suara jangkrik dan serangga malam adalah nyanyian alam yang membuat rindu. Saya ga bisa merasakan perasaan gaib ini justru tatkala saya masih tinggal di kampung. Semua berlalu begitu saja. Betapa suara kokok ayam ini kini begitu saya nikmati syahdu sekali. Kini semua gambaran wajah desa sepenuhnya adalah potret mahal yang tidak akan saya temui di kota. Pendeknya setiap denyut nadi kehidupan kampung bisa saya rasakan detaknya. Bapak-bapak yang masih setia menenteng sabit dan memanggul pacul. Anak-anak yang masih menyapa malu-malu kemudian lari adalah hal yang membuat senyum. Di kota, walaupun ada tetangga yang memelihara ayam dan seringkali berkokok, saya menganggapnya sebagai hal yang biasa. Ga ada chemitsry. Biasa saja.

Inilah pentingnya membuat sudut dan jarak pandang. Sama seperti gunung di kejauhan yang nampak biru, anggun dan mempesona. Padahal jika didekati, segala keanggunan gunung terbentuk dari beberapa gundukan bukit, pepohonan yang tidak sama tinggi dan jenis, serta ngarai ataupun jurang. Sama seperti dua saudara yang berdekatan. Sangat bisa jadi kekerabatan akan terisi dengan pertengkaran dan silang sengketa. Namun keharuan dan kerinduan serta bahkan perasaan kehilangan akan terpancar jika saudara berjauhan. Tepat seperti penggalan sebuah lagu…Kucinta dirimu namun kubenci hadirmu.

Jika separuh hati saya berisi kerinduan, maka separuhnya lagi bersemayam kebencian. Saya benci kenapa saya mesti harus meninggalkan kampung ini dulu. Kemiskinan adalah biang keladinya. Walaupun nyaris mustahil saya bertahan mengutuk keadaan, toh penghidupan yang baik memang harus diupayakan. Sebagaimana diketahui Tuhan menciptakan semua didunia ini saling berpasang-pasangan. Ada hal yang dirasa bertentangan tapi saling membutuhkan. Bagaimanapun takutnya kita akan kegelapan, toh malam akan datang juga mengganti siang. Apa jadinya jika sepanjang masa berisi siang saja. Tentu kita tidak akan bisa merasakan indahnya purnama menyinari. Saya benci ketika saya tepat di kerinduan ini, secepatnya saya harus kembali. Tapi memang begitulah rumus kehidupan. Semua hal yang bertentangan tadi menjadikan hidup ini lebih berwarna.

Akhirnya saya menyadari bahwa itulah misteri pulang dan pergi itu.

Pesan Dalam Sekarung Beras.

“Mas, ada titipan dari kampung. Kalau sempat, nanti diambil ya”

Sebuah pesan singkat sukses mendarat di hape saya. Tak biasanya saya mendapat kiriman atau titipan dari keluarga di desa. Selama ini komunikasi saya dan keluarga biasanya lewat handphone. Dulu…sebelum hape merajalela seperti sekarang ini…untuk sekedar mengabarkan salah seorang anggota keluarga yang meriang atau batuk pilek saja, keluarga dirumah musti datang ke wartel yang jaraknya lumayan jauh di kota kecamatan. Atau sesekali lewat surat, hanya untuk menanyakan, “Piye kabare? Nek ora krasan ning Jakarta…mulih wae yo”

Kini, teknologi sudah menyentuh sendi-sendi interaksi manusia. Betapa mudahnya dan sering bagi saya menelepon keluarga dikampung hanya untuk sekedar iseng menanyakan, “mbok, masak apa hari ini?” Atau, “kambing kita berapa?” Dan aneka pertanyaan tak penting dan remeh lainnya.

Hmm…ada apa gerangan? Namun, apapun bentuk kiriman, titipan atau paketnya sungguh telah membuat saya bertanya-tanya dan mengundang penasaran.

 

Singkat kata dan pada akhirnya…kiriman itu sudah ada dirumah saya. Tepat di hadapan saya. Sejurus saya tertegun. Sekarung beras. Kemudian beras itu saya letakkan begitu saja. Posisinya yang visionable seakan membuatnya menjadi point of view. Dari sudut manapun. Saat hendak ke dapur ataupun keruang depan saya pasti melewati sekarung beras itu. Sampai disini perasaan saya masih biasa saja. Yah, saya pikir, toh hanya beras. Tidak lebih.

Hingga pada suatu malam…

Saya duduk di sofa ruang tamu. Menikmati kopi. Sudah menjadi kebiasaan, anak dan istri saya sudah tertidur selepas Isya’. Jadi saya ngopi hanya sendiri saja.

Menikmati kopi sembari ngudud adalah wajib. Menikmati kopi tanpa permainan penerawangan hati dan pikiran adalah mustahil buat saya. Alhasil pikiran saya mengembara menembus dimensi ruang dan waktu. Sesekali pikiran mengajak saya kembali ke masa masa kecil di kampung. Masa kecil yang sebagian saya habiskan dengan makan nasi jagung dan rebung. Tak lama pikiran mengundang saya mengenang teman teman sekolah dulu. Teman sekolah dulu ada yang sekarang menjadi anggota Polri, bahkan hampir pernah menilang saya di daerah Kebayoran Lama. Teman sekolah yang beberapa diantaranya bahkan sudah meninggalkan dunia ini. Helaan nafas saya seperti hendak menyimpulkan, aah…sudahlah. :-( Betapa cepatnya waktu berlalu.

Hingga tanpa sengaja mata saya bersirobok, seakan seperti beradu pandang dengan sekarung beras itu (lagi). Saya memandangnya lebih dalam. Lebih dalam lagi. Mendadak seperti ada sesuatu perasaan bergolak di hati saya. Antara kesedihan dan keharuan lebur menjadi satu dan sukses mengaduk aduk perasaan saya. Saya masih bisa merasakan (dan dipaksa untuk merasakan kembali) bahwa untuk mendapatkan sekarung beras itu, melewati proses yang tidak mudah dan melelahkan. Dan pengembaraan pikiran saya mulai berganti.

Dulu…kemiskinan kami memang menyedihkan. Sawah yang di garap hanyalah sawah garapan dengan durasi yang bisa saja berubah sewaktu-waktu oleh sang pemilik. Sawah garapan yang oleh orang tua dikelola dengan cucuran keringat seperti tak kenal lelah. Sawah garapan yang memaksa kami seakan seperti hendak pindah rumah, karena sawah garapan itu berada di kampung sebelah. Pagi buta bapak dan ibu saya sudah berangkat dan pulang selepas Magrib. Melewati jalan setapak menembus luas dan lebatnya belukar perbukitan hutan jati. Menjumpai kawanan babi hutan atau menjangan liar adalah hal biasa.

Musim kemarau adalah keadaan terberat buat kami. Saat sumber air menipis dengan sawah yang harus tetap terairi adalah perjuangan penuh uji nyali. Sumber irigasi utama yang mengairi sawah kami dan juga yang lain berada tepat di tengah-tengah pekuburan kampung setempat. Itupun kadang sawah kami tak kebagian air secara penuh. Kami kalah cepat dengan petani setempat. Malam hari adalah saat yang memungkinkan agar sawah kami tidak kekeringan. Tak jarang kami pun menginap di sawah dengan gubuk seadanya.

Ah, kemiskinan kami memang kelam. Kemiskinan kami bagi yang melihatnya seharusnya melahirkan empati. Tapi siapa yang peduli? Sebagian besar penghuni kampung didera persoalan yang nyaris sama. Kadarnya saja yang berbeda. Empati yang terpaksa dikelola secara tersembunyi karena terbentur kondisi. Kemiskinan yang anehnya kami sendiri begitu menikmati. Kemiskinan malah membuat kami bisa merasakan makan singkong rebus bisa menjadi senikmat kentaki. Kemiskinan membuat kami merasa tidak susah untuk berbagi. Berbagi apa saja, karena itulah energi dari kemiskinan kami. Berbagi materi dalam kemiskinan kami adalah mustahil. Berbagi tegur sapa, salam dan suasana damai itulah yang kami bisa. Kemiskinan membuat kami terbiasa berkeringat lebih deras. Kemiskinan membuat kami senantiasa terjaga untuk tetap memastikan nyala api perjuangan tidak padam. Kemiskinan kami memang menyedihkan, tapi tidak hina. Kami bahkan merasa tidak kalah hormat dalam kemiskinan jika dibanding dengan para pejabat pengemplang uang rakyat!

Tanpa saya sadari mata saya berkaca kaca. Terlebih sekarang ini, simbok berjuang hanya ditemani adik perempuan saya. Kurang lebih sewindu yang silam bapak pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. :-(

Saya masih menatap sekarung beras itu. Mencoba mengurai adakah pesan pesan yang mungkin bisa saya rangkaikan.

Seharusnya saya merasa tersinggung. Betapa saya sekarang masih dianggap sebagai penghuni desa tertinggal. Bahkan untuk menyambung hidup di Jakarta ini saya perlu dikirimi beras dari kampung. Ah, tidak! Saya tak bisa tersinggung begitu saja. Jangan! Karena itu berarti bibit kesombongan mulai tumbuh di hati saya. Susah payah saya menetralisir perasaan.

Syukurlah, ternyata saya berada disudut pandang yang keliru. Saya hanya sedikit merubah sudut pandang saja dan perlahan kegaiban perasaan itu saya rasakan. Sekarung beras itu seperti mengisyaratkan selaksa kasih yang tak berujung. Kasih seorang ibu yang tak lapuk oleh jarak waktu. Kasih yang hanya memberi tak berharap menanti. Betapa saya masihlah seorang anak dari ibu yang melahirkan saya. Mendadak saya merasa bersalah. Berkali kali saya mengabaikan telepon dari kampung dengan alasan sibuk dan keesokan harinya saya terlupa untuk menelpon balik. Sekarung beras itu seperti hendak menegaskan bahwa bagaimanapun keadaannya, kasih ibu itu nyata dan tak tergantikan. Perlahan saya peluk sekarung beras itu dengan perasaan mengharu biru.

Bahwa dalam setiap butir padi adalah perwujudan penuh harap dari tetesan keringat dan do’a, lengkap dengan atribut kemiskinan yang melekat. Sekarung beras itu juga seperti hendak menafsirkan bahwa tak mudah mewujudkan harapan. Hanya keyakinan teguh dan perjuangan ekstra keras penuh integritas yang bisa menghadirkannya menjadi nyata. Perjuangan penuh determinasi dan tahan uji.

———————————————-

Saya masih memeluk sekarung beras itu, hingga pada akhirnya saya menyadari, bahwa sekarung beras itu sarat makna.